Usai Bertemu Lionel Messi, Bocah Afghanistan Hidup Penuh Ketakutan

Usai Bertemu Lionel Messi, Bocah Afghanistan Hidup Penuh Ketakutan

Gilabola.com – Murtaza, seorang anak kecil asal Afghanistan yang pernah viral mengenakan kantung plastik bertuliskan nama Lionel Messi, kini harus hidup dalam ketakutan dikejar-kejar Taliban.

Ia mengguncangkan dunia internet pada 2016 silam usai mengenakan kantung plastik berkelir biru muda-putih dan ditulis nama “Messi” di bagian belakang.

Akan tetapi kini nasibnya menjadi tidak menentu karena pada awal November pasukan Taliban menyerang kota Ghazni, daerah yang selama ini dikenal paling aman di Afghanistan dalam 17 tahun terakhir, mengakibatkan ia harus hidup di pengungsian.

Sebuah bola sepak dan jersey pemberian Messi saat mereka berdua berjumpa di Qatar pada 2016 silam pun tidak bisa dibawa karena situasi tidak memungkinkan.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

“Saya merindukan rumah kami di Jaghori. Saya tidak memiliki bola di sini [tempat pengungsian] dan tidak bisa bermain sepak bola atau bermain,” ucap Murtaza pada EFE.

“Kami meninggalkan kenang-kenangan dari Messi itu di Jaghori karena kami tidak bisa membawanya bersama kami. Kami meninggalkan rumah pada malam hari dan ibu meminta saya untuk meninggalkan bola dan jersey itu.”

Lionel Messi dikira berikan banyak uang pada Murtaza

“Messi berkata kepada saya: ‘ketika Anda sedikit lebih besar, saya akan mengurusi segalanya bagi Anda’,” sambung si anak, yang memastikan bahwa sejak saat itu tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan bintang Barcelona itu.

Akan tetapi situasi Murtaza memang sudah sulit sejak bertemu Lionel Messi, bahkan sebelum daerahnya diserang Taliban.

“Setelah Murtaza bertemu Messi di Qatar, situasinya jadi pelik dan kami hidup penuh ketakutan, sebab orang-orang di sekitar kami menyangka Messi memberi kami uang yang banyak,” ucap sang kakak, Humayoon Ahmadi.

“Karena semua ini, kami takut Murtaza diculik sehingga kami mengurungnya di dalam rumah dan tidak mengirim ke sekolah selama dua tahun.”