Italia Harus Lawan Rasisme di Stadion, Kata Ketua FIGC

Italia Harus Lawan Rasisme di Stadion, Kata Ketua FIGC

Gilabola.com – Italia dinilai harus kompak melawan rasisme di Stadion laga Liga Italia. Hal itu disampaikan oleh Ketua FIGC.

Sepak bola Serie A dan otoritas pemerintah harus bertindak melawan rasisme di stadion bahkan jika hanya satu penonton yang terlibat, ketua Federasi Sepakbola negara tersebut (FIGC) Gabriele Gravina mengatakan pada hari Kamis, menambahkan bahwa VAR akan digunakan untuk mengidentifikasi para pelaku rasis.

Beberapa klub di negara itu telah lolos dari sanksi atas dugaan pelecehan rasisme setelah pengadilan disiplin Serie A memutuskan bahwa sorakan rasis itu tidak dapat dilihat secara jelas di stadion, meskipun pemirsa televisi mendengarnya.

Kasus terbaru adalah di Cagliari di mana para fans tuan rumah melontarkan suara-suara mirip monyet kepada pemain depan Inter Milan asal Belgia Romelu Lukaku, tetapi tidak ada tindakan yang diambil terhadap klub yang berbasis di Sardinia itu.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

“Mengherankan bagi saya bahwa beberapa suara-suara monyet dari para fans dapat didengar dengan jelas dan sebagian tidak, jadi kami perlu mencari tahu mengapa demikian, tetapi itu tidak normal,” kata Gravina kepada wartawan.

“Saya tidak tertarik pada seberapa keras atau seberapa banyak suara monyet itu tetapi pada prinsip di baliknya,” tambahnya. “Saya tidak tertarik apakah itu bisa didengar dengan jelas atau tidak. Jika hanya satu, dua atau 10 orang yang melakukannya, maka kami perlu campur tangan.”

Italia akan gunakan teknologi untuk memerangi rasisme

Gravina tidak memberikan rincian yang tepat tentang bagaimana pengawasan akan bekerja tetapi mengatakan itu bisa digunakan secara real time seperti sistem VAR yang memungkinkan wasit untuk menonton tayangan ulang dari insiden yang terjadi pada monitor di pinggir lapangan.

“Klub saat ini mampu mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab (melakukan tindakan rasis) dengan menggunakan teknologi. Kami sedang bereksperimen dengan sistem dan akan membicarakannya segera,” tegasnya.

“Kami telah bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan menetapkan beberapa undang-undang yang sangat ketat dengan sanksi yang sama beratnya,” tambahnya.

“Jadi kami akan menggunakan teknologi, tetapi kami hanya bisa melakukannya dengan bantuan polisi dan Kementerian Dalam Negeri,” pungkasnya.