Pirlo Sebut Juventus Memang Sengaja Main Bertahan, Roma Kena Jebakan Batman!

Gilabola.com – Diam-diam AS Roma ternyata kena jebakan batman yang disiapkan Andrea Pirlo, sesuatu yang tidak disadari oleh Paulo Fonseca yang melihat timnya kehilangan peringkat ketiga mereka ke juara bertahan Juventus usai kekalahan di Turin.

Juventus berhasil memetik kemenangan meyakinkan 2-0 atas AS Roma dalam laga lanjutan Serie A pada Minggu (7/2) dini hari WIB, dengan gol-gol kemenangan tuan rumah datang dari tembakan Cristiano Ronaldo dan gol bunuh diri Ibanez di masing-masing babak.

Setelah pertandingan, Paulo Fonseca mengatakan bahwa gilalorossi telah memaksa bianconeri bermain bertahan usai melihat timnya mendominasi permainan dengan 52 persen penguasaan bola dan 14 tembakan sepanjang laga, unggul jauh dari tuan rumah dengan hanya tiga tembakan.

Advertisement
QQCepat
QQCepat

Tapi kini Andrea Pirlo mengungkapkan bahwa AS Roma telah salah dalam menilai pertandingan di Allianz Stadium tadi malam, menegaskan bahwa bermain bertahan memang sudah menjadi rencana Juventus sejak awal yang terbukti membuat mereka lebih efektif dalam serangan dan permainan dengan kemenangan dua gol mereka.

“Kami telah mempersiapkan pertandingan seperti ini. Kami tahu Roma memainkan sepak bola yang sangat bagus, jadi kami bersiap untuk menunggu, bermain bertahan, dan kemudian melakukan serangan balik,” kata manajer berusia 41 tahun itu kepada Sky Sport Italia.

“Ini adalah pendekatan yang kami inginkan, karena tidak mudah untuk bermain ofensif dan agresif melawan Roma. Sebaliknya, kami kadang-kadang harus menunggu mereka untuk kemudian melancarkan serangan balik. Kami pada dasarnya melakukan kebalikan dari cara Roma bermain melawan kami awal musim ini, karena Anda membutuhkan taktik tertentu untuk laga tertentu dan tidak selalu harus bermain agresif dengan tekanan tinggi.”

“Kami telah menemukan antusiasme, lebih solid, dan pendekatan defensif kami lebih bagus sekarang, karena kami belajar dari kesalahan yang dilakukan di masa lalu. Skuad ini selalu rendah hati, mereka tahu kapan waktunya untuk berlari tanpa bola dan kapan setiap pemain perlu saling membantu.”