Gilabola.com – Roma kembali menjadi pusat perhatian Serie A. Setelah 25 tahun menunggu Scudetto, Giallorossi kini memimpin klasemen dan memperlihatkan perkembangan yang jauh lebih cepat dari ekspektasi. Semua itu bermula sejak kedatangan Gian Piero Gasperini pada Juni lalu—seorang pelatih dengan reputasi besar, tetapi juga sosok yang kerap memecah opini.
Gasperini yang Awalnya Diragukan, Kini Dipuja Publik Olimpico
Ketika Gasperini ditunjuk, banyak tifosi sebenarnya lebih menginginkan Claudio Ranieri bertahan. Namun sang legenda memilih menuntaskan karier sebagai pelatih dan mengambil peran direktur. Justru Ranieri pula yang meyakinkan manajemen bahwa Roma membutuhkan figur keras kepala seperti Gasperini untuk membangun ulang mentalitas tim.
Dalam gaya bicaranya yang lugas, Ranieri mengakui: ia tidak menyukai Gasperini ketika masih sama-sama melatih. Tetapi menurutnya, hanya karakter tegas dan tak pernah puas yang mampu menggerakkan Roma ke level berikutnya. Ia memberi kepercayaan penuh dan mendampingi dari sisi manajerial, meyakini bahwa proyek jangka panjang membutuhkan fondasi kuat sejak tahun pertama.
Yang mengejutkan, Gasperini tak perlu menunggu setahun. Kurang dari enam bulan, fans yang awalnya ragu kini berubah menjadi pendukung paling vokal dari proyek barunya.
Strategi Serangan Balik: Ciri Khas Gasperini Mulai Hidup
Dalam kemenangan 3-1 atas Cremonese akhir pekan lalu, Roma menunjukkan sisi paling berbahaya dari sepak bola Gasperini: serangan balik cepat dan mematikan. Meski unggul 1-0, sang pelatih tetap tegang sepanjang laga, hingga akhirnya diusir wasit pada menit ke-62 setelah mengungkapkan protes keras.
Tak lama setelah itu, Evan Ferguson mencetak gol pertamanya untuk Roma, disusul oleh penyelesaian klinis Wesley yang memanfaatkan skema transisi cepat—model serangan yang membawa Gasperini sukses besar bersama Atalanta. Bahkan dari tribun, Gasperini tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, bangkit dari duduk untuk merayakan dengan stafnya.
Dari “Penyihir” ke Pembawa Harapan Baru
Kemenangan tersebut membawa Roma kokoh di puncak Serie A, dan publik mulai melihat Gasperini sebagai arsitek kebangkitan. Sebuah mural di Roma bahkan menggambarnya sebagai penyihir yang meracik gelar juara dengan “grit, heart, sweat”.
Gasperini menanggapinya dengan senyum: ia tidak memadamkan mimpi fans, justru menyemangati mereka untuk terus bermimpi selama tim mampu menjaga konsistensi. Di tengah euforia, ia tetap realistis—impian jarang menjadi kenyataan, tetapi tugasnya adalah mempertahankan peluang itu sejauh mungkin.
Melanjutkan Fondasi Ranieri Dengan Efisiensi Tinggi
Ranieri meninggalkan tim dalam kondisi stabil: hanya satu kekalahan pada paruh kedua musim lalu, dan finis kelima setelah sebelumnya terpuruk. Gasperini memanfaatkan fondasi itu dengan brilian. Roma tetap disiplin dan mampu menang tipis dalam banyak laga—hanya Real Madrid yang mencatat lebih banyak kemenangan satu gol sepanjang 2025.
Kekompakan tim menjadi modal besar dalam mempertahankan ritme positif pada awal musim ini.
Pertahanan Kokoh, Suatu Paradoks Gasperini
Roma kini mencatat enam clean sheet dari 12 laga Serie A, dan baru kebobolan enam kali—rekor terbaik di liga. Lini belakang dipimpin oleh Gianluca Mancini, disokong oleh kiper Mile Svilar yang tampil stabil. Di depan mereka, Manu Kone dan Bryan Cristante memberikan proteksi ekstra dengan disiplin tinggi.
Yang ironis, Gasperini justru dikenal sebagai pelatih yang agresif secara ofensif, banyak menumpuk pemain di depan, dan berani bertaruh dalam duel satu lawan satu. Namun sejauh ini, Roma baru mencetak 15 gol—lebih sedikit dari sebagian besar tim papan atas.
Serangan Mulai Mematikan!
Perubahan mulai tampak ketika Roma mencetak tiga gol ke gawang Cremonese—pertama kalinya mencetak lebih dari dua gol sejak Gasperini tiba. Ia melihat peningkatan signifikan terkait kreativitas dan rasa percaya diri para pemain saat berada di sepertiga akhir lapangan.
Penempatan Cristante sebagai bek tambahan dalam fase build-up juga menambah variasi dalam progresi serangan. Kini Roma memiliki lebih banyak jalur umpan dan kekuatan kontrol permainan.
Masalah terbesar Roma tetap absennya mesin gol yang konsisten. Evan Ferguson baru memulai setelah serangkaian cedera, Artem Dovbyk belum menemukan ketajaman sebelum mengalami masalah paha, sementara Paulo Dybala masih sering diganggu kebugaran. Matias Soule memang tampil tajam dengan lima gol, tetapi posisi sebagai top skor tim mencerminkan ketergantungan yang belum ideal.
Tantangan Mental dan Tekanan Laga Besar
Gasperini mengakui bahwa Roma kerap kesulitan bangkit ketika tertinggal. Statistik memperlihatkan bahwa hampir semua laga yang diawali dengan kebobolan berujung kekalahan. Namun ia percaya bahwa kepercayaan diri perlahan tumbuh seiring meningkatnya kematangan tim.
Kesiapan fisik juga menjadi senjata utama. Menurut pelatih fisik Domenico Borelli, Roma memang disiapkan untuk mencapai puncak performa antara Oktober hingga Februari—periode krusial dalam perburuan Scudetto.
Ujian Sesungguhnya: Napoli di Olimpico
Meski sudah mengalahkan Lazio di Derby della Capitale, Roma tetap kalah dalam dua pertemuan dengan rival perebut gelar lainnya: Inter dan AC Milan. Karena itu, duel melawan Napoli akhir pekan ini menjadi pengukur kekuatan sesungguhnya.
Gasperini menegaskan bahwa mereka wajib meraih hasil lebih baik jika ingin tetap berada dalam jalur juara. Tantangannya besar, tetapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, seluruh Stadion Olimpico kini solid mendukung tim dan pelatihnya.
Gasperini mungkin menolak disebut pembuat keajaiban, tetapi atmosfer di Roma kini berbeda: keraguan berubah menjadi keyakinan. Dengan perpaduan kerja keras, determinasi, dan identitas permainan yang semakin kuat, mimpi Scudetto yang lama hilang kini terasa lebih mungkin digapai.

