Anak Pengungsi Perang Ini Cetak 1 Gol, 2 Assist di Bundesliga Tadi Malam

Anak Pengungsi Perang Ini Cetak 1 Gol, 2 Assist di Bundesliga Tadi Malam

Gilabola.com – Anak pengungsi Perang Bosnia ini mengamuk pada laga Bundesliga tadi malam (23/5), mencetak satu gol dan menyumbangkan dua assist.

Vedad Ibisevic selaku kapten memimpin Hertha Berlin membalaskan dendam timnya atas rivalnya Union Berlin setelah mencetak satu gol dan dua assist pada pertandingan Liga Jerman tadi malam di Olympiastadion. Pada perjumpaan pertama November 2019 lalu, Hertha kalah 0-1 dari Union.

Tadi malam Vedad Ibisevic memastikan hal ini tidak terulang lagi dengan mencetak gol pertama timnya setelah kedua kesebelasan main 0-0 selama 45 menit babak pertama. Menyusul sebuah umpan silang lambung dari sisi kiri lapangan, sang pemain kelahiran Bosnia 35 tahun silam itu menanduk bola dan menjebol gawang Rafal Gikiewicz. Menarik untuk mengamati, ia juga memimpin rekan-rekannya menjaga jarak saat merayakan golnya.

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
RatuCasino77
RatuCasino77

Tidak cukup hanya satu gol, ia menyumbangkan dua assist untuk Hertha Berlin pada pertandingan Liga Jerman tadi malam, salah satunya untuk gol ketiga dari kaki Matheus Cunha menit 61. Satu assist lainnya untuk gol kedua yang diberikan jauh sebelumnya, saat serangan masih dibangun di lapangan tengah.

Vedad Ibisevic meninggalkan negeri kelahirannya saat Perang Bosnia berkecamuk pada tahun 2000. Ia kemudian menjadi anak pengungsi bersama orang tuanya di Swiss selama 10 bulan saja sebelum pindah lagi dari negeri dengan biaya hidup mahal itu ke St Louis, Missouri,  Amerika Serikat.

Sang kapten Hertha Berlin ini dikenal tidak pernah mau membicarakan kenangannya pada masa Perang Bosnia. Kemungkinan besar peristiwa yang terjadi antara tahun 1992 sampai 1995 itu telah meninggalkan jejak pahit pada sang anak pengungsi. Menurut penulis bukunya, Wright Thompson pada tahun 2014: “Tidak ada seorang pun di Jerman yang mengetahui keseluruhan cerita tentang pelariannya dari perang. Selama tiga tahun di St Louis, ia tidak pernah memberi tahu satu orang pun di sekolah, tidak satu pun teman, guru, atau pelatih. Jawaban paling umum yang ia berikan untuk pertanyaan apa pun tentang perang [Bosnia] adalah ‘Tidak apa-apa’ atau ‘Kami beruntung [bisa melarikan diri]’.”