Bayern Munchen Yakin Tampil Lebih Mengejutkan Gegara Empat Pemain Ini

Bayern Munchen Yakin Tampil Lebih Mengejutkan Gegara Empat Pemain Ini

Gila Bola – Bayern Munchen tampil percaya diri dengan empat winger kelas dunia mereka musim ini.

Dalam diri Leroy Sane, Douglas Costa, Serge Gnabry dan Kingsley Coman, Die Roten memiliki kuartet pemain sayap papan atas, serta membuat mereka bahkan bermain ‘lebih baik’ dibandingkan musim lalu. Demikian ungkap direktur olahraga, Hasan Salihamidzic, dalam situs resmi Bundesliga. Namun, bagaimana membandingkan ke empatnya?

1) Leroy Sane

“Memiliki empat winger itu ideal menurut saya. Dalam sebuah skuad, setiap posisi secara ideal seharusnya memiliki dua pemain yang bersaing,” tandas pelatih Hansi Flick kepada Sport Bild beberapa waktu lalu.

Dengan kembalinya Philippe Coutinho dan Ivan Perisic ke klub induk mereka masing-masing, ada tempat yang tersedia di ruang ganti skuad Flick saat ini.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

Saat kedua pemain itu pulang, Bayern Munchen sudah dapatkan Sane. Rekrutan utama itu ditujukan untuk pastikan persaingan dalam perebutan tempat dan menambah celah saat tim menghadapi lawan yang bahkan bermain mendalam. Tapi, sebenarnya apa yang bisa ditambahkan mantan bintang Manchester City dan Schalke itu?

Dipuji Salihamidzic sebagai ‘winger yang luar biasa’, CEO klub Karl-Heinz Rummenigge memberi indikasi alasan terbaik di balik transfer Sane ke Allianz Arena. “Kecepatannya, kemampuannya dalam menggiring bola dan membantu terciptanya gol, membuat dia sempurna untuk Bayern. Dia pemain yang kami idam-idamkan,” tandas Rummenigge.

Itu dibuktikan dengan rekor papan atasnya. Bahkan saat ia masih menjadi pemain berusia 19 tahun di musim terakhir Bundesliga pada 2015/16, Sane mencoba (264) dan menyelesaikan (120) lebih dari dua kali lipat lebih banyak dribel seperti Gnabry, Coman dan Costa, sementara ia juga mencatatkan delapan gol dan delapan assist. dalam 33 penampilan, menyumbangkan keterlibatan gol rata-rata setiap 145 menit.

Hal ini juga dibuktikan dengan rekor papan atasnya. Bahkan saat ia lakoni musim perdananya di Bundesliga pada musim 2015/16 dan masih berusia 19 tahun, Sane sudah lakukan upaya mencetak gol sebanyak 264 dan berhasil menyelesaikannya sebanyak 120 kali – dua kali lipat lebih banyak dribel seperti halnya winger andalan Bayern Munchen lainnya; Gnabry, Coman dan Costa.

Selain itu, Sane juga berhasil bukukan delapan gol dan delapan assist dalam 33 pertandingan yang dibelanya, atau terlibat dalam proses gol rata-rata setiap 145 menit.

Performa apiknya kemudian berlanjut di Manchester City, di mana ia kantongi 25 gol dan 31 assist dalam 89 pertandingan Liga Premier, di musim pertama dari tiga musim karirnya di Inggris.

Walau Sane absen di sebagian besar musim terakhirnya di Liga Premier akibat cedera ACL, pemain internasional Jerman itu bisa segera tunjukkan kemampuannya bahwa dia tak pernah kehilangan sentuhannya, mudah mendekati gawang lawan dan sukses menyarangkan dua gol melawan bekas klubnya, Schalke, September 2020.

Selain itu, baik Gnabry maupun Coman selama ini dikenal lebih sering menggunakan kaki kanan, seperti halnya Coutinho serta Perisic. Sehingga, kedatangan Sane memberi dimensi baru dalam permainan Bayern Munchen, di mana ia dikenal lebih suka menggunakan kaki kiri, dan ini belum pernah dimiliki Die Roten sejak kepergian Arjen Robben.

Seperti pemain ikonik asal Belanda itu, Sane juga lebih memilih beroperasi sebagai pemain sayap terbalik di sisi kanan, di mana ia bisa memotong dan menembakkan bola dengan kakinya yang lebih kuat. “Di City, saya biasanya bermain di sebelah kiri, tapi saat saya masih menjadi pemain muda di Schalke, saya bermain di area kanan,” ungkap Sane kepada Kicker.

“Sedangkan posisi favorit saya, adalah saya kanan. Saya merasa paling nyaman di sana, tapi saya tak alami masalah jika harus bermain di selah kiri. Pep (Guardiola) membantu saya untuk belajar, bagaimana bermain di lini sayap yang berbeda. Itu sangat membantu saya untuk terus melangkah, banyak pemain yang hanya bisa bermain di satu sisi saja,” tandasnya.

2) Douglas Costa

Meski demikian, kedatangan Leroy Sane masih menyisakan ruang lain yang harus diisi. Walau Flick diketahui sebagai penggemar dari pemain jebolan akademi yang masih berusia 17 tahun, Jamal Musiala, padatnya jadwal pertandingan dan kebutuhan Bayern Munchen dalam merotasi pemain, membuat jawara Bundesliga itu harus arahkan perhatian mereka pada pemain sayap lain yang sudah lebih teruji.

Flick pun memilih Douglas Costa, yang pernah bermain di Allianz Arena selama dua musim pada tahun 2015 hingga 2017, sebelum akhirnya ia pindah ke Juventus. Di tahun 2020 ini, Costa kembali ke Bayern Munchen dengan status pinjaman.

“Douglas membuat kami lebih kuat di lini sayap, dan itu sangat penting dalam permainan kami,” ujar Salihamidzic terkait kembalinya pemain asal Brasil itu ke Bayern.

“Bersama Serge, Leroy, Kingsley, Jamal dan Douglas, kami memiliki opsi luar biasa sekarang. Hal itu memberi pelatih kesempatan untuk mengelola waktu bermain setiap pemain dengan cara yang masuk akal. Douglas sendiri sudah mengenal klub ini dan bisa segera beradaptasi dengan cepat di sini,” tegasnya.

“Dia juga membuat kami bahkan bisa lebih kuat dibandingkan musim lalu di posisi serang: kami punya dua pemain kaki kiri dan dua pemain kaki kanan lainnya. Mereka empat pemain dengan profil berbeda yang semuanya hebat dalam menggiring bola. Itu akan membuat kami menjadi tim yang lebih tidak terduga,” tambah Salihamidzic.

Hal yang tidak terduga pastinya akan dijamin lewat kedatangan Costa, yang sudah tampil mempesona para pecinta Bundesliga saat ia lakoni musim perdananya di Jerman. Ia tunjukkan permainan keren di lapangan, bahkan tampil mengesankan saat ia menghadapi Julian Brandt dalam satu pertandingan – ketika Brandt masih membela Bayer Leverkusen.

Costa berhasil bukukan delapan gol dan 20 assist dalam 50 pertandingan Bundesliga yang dibelanya di musim pertamanya bersama bayern Munchen. Selain itu, ia juga menyumbangkan enam gol dan 18 assist dalam 71 penampilannya di Serie A selama tiga musim terakhir, walau ia sempat diganggu masalah cedera dan sering kali hanya bermain sebagai pemain pengganti.

Seperti halnya Sane, dan kemungkinan besar semua pemain sayap Die Roten, Costa bisa bermain di kedua lini sayap, walau dia dipatok di sayap kanan di hampir sebagian besar karirnya di sepak bola.

Karena jumlah golnya yang relatif lebih sedikit, maka hal itu menyiratkan bahwa pemain berusia 30 tahun itu jauh lebih lihai untuk menjadi penyuplai bola ketimbang pencetak gol. Ini juga terbukti dengan catatan yang dibukukan Costa di musim sebelumnya di Bundesliga, di mana ia bisa mengoper bola ke dalam kotak penalti lawan rata-rata setiap 21 menit, dan menjadi penyuplai bola saat rekan-rekannya lakukan tembakan ke arah gawang lawan dalam setiap 32 menit.

Itu mencari cara yang berada di atas dari seluruh winger yang dimiliki Bayern Munchen, di mana Coman menjadi winger lainnya yang paling mendekati catatan Costa itu, dengan rata-rata operan bola ke area penalti rata-rata setiap 26 menit dan menyuplai bola saat tim akan mengancam gawang lawan setiap 34 menit.

Catatan ini kemudian diikuti Serge Gnabry dengan operan bola ke area penalti setiap 47 menit, dan menyuplai bola yang membaw tim mengancam gawang lawan setiap 36 menit, serta Sane dengan catatan 289 menit dan 61 menit, untuk kategori yang sama.

3) Serge Gnabry

Jika Douglas Costa menjadi penyedia bola dan Sane merupakan penggiring bola papan atas, Gnabry sebenarnya bukanlah seorang ‘Jack of all trade’ atau master dari semuanya.

Dia mencetak 12 gol dan 11 assist di ajang Bundesliga musim lalu, di mana itu menjadi musimnya yang paling produktif hingga saat ini dan menjadi musim liga yang ke empat kalinya secara berturut-turut di mana dia sukses bukukan dua digit gol.

Lima gol tersebut di antaranya tercipta lewat kaki kiri Gnabry (lewat 32 tembakan) dan tujuh gol lainnya dibukukannya dengan kaki kanannya, di mana gol kaki kanan tersebut tercipta dalam 61 kali tembakan yang dilakukannya. Sementara, tiga gol di antaranya dibukukan Gnabry dari jarak jauh.

Dengan catatan itulah, bisa dibilang Gnabry merupakan pemain yang paling banyak menggunakan kedua kakinya untuk mencetak gol. Ia bahkan bisa mencetak gol, menggiring bola, mengoper dan bermain di sayap atau bermain lebih terpusat.

Karena itulah, tak mengherankan jika Gnabry bermain jauh lebih banyak dibandingkan tiga winger Bayern Munchen lainnya pada musim 2019/20. Jika Gnabry tercatat tampil dalam 2.203 menit di Bundesliga, maka Coman hanya bermain dalam 1.506 menit, lalu Coutinho 1.413 menit dan Perisic 1.204 menit.

Dengan tambahan empat golnya di laga melawan Tottenham Hotspur di Liga Champions, plus dua gol ke gawang Chelsea dan Lyon, serta satu gol dan dua assist saat Bayern hadapi Barcelona, maka jelas bahwa Gnabry telah menjadi pemain yang berkembang dalam kesempatan besar.

Pelatih Bayern Munchen, Hansi Flick, tentunya sangat menyadari nilai Gnabry bagi timnya. “Perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir ini, sangat luar biasa. Anda bisa melihat sendiri bagimana dia menjadi seorang pemain kelas dunia,” tandas pelatih berusia 55 tahun itu, saat final Liga Champions dua bulan lalu.

Lalu, Gnabry lanjutkan performa gemilangnya di musim 2020/21 ini, di mana dia sukses menyumbangkan satu assist di laga melawan Hertha Berlin pada pertandingan pekan ke tiga Bundesliga, setelah ia mencetak hattrick di laga pembuka melawan Schalke.

4) Kingsley Coman

Coman seharusnya bisa kantongi lebih dari 19 gol dalam 109 laga yang dibelanya sejak datang ke Bayern Munchen pada Agustus 2015, kalau saja ia tak dibekap rentetan cedera parah yang membuatnya absen dalam lebih dari 80 laga selama periode tersebut. Coman bahkan tak pernah bisa tampil dalam lebih dari 24 pertandingan di ajang liga dalam satu musim.

Meski demikian, Coman menjadi pemain tercepat dari empat pemain yang ada dalam daftar ini. Dia bukukan kecepatan tertinggi 35,7 kilometer per jam musim lalu, di mana ia bisa lakukan lebih banyak sprint per pertandingannya dengan rata-rata 35,1 kali per laga, melindungi lebih banyak area (10,9 km) dan memenangkan lebih banyak duel (56 persen). Hal ini menjadi bukti dari intensitas tinggi, penampilan seorang pemain sepak bola pekerja keras yang membuat Coman disayangi rekan-rekan satu tim dan pelatihnya.

Pemain internasional Prancis itu bukukan empat gol dan tiga assist di ajang Bundesliga pada musim 2019/20, dan sudah memastikan dirinya masuk dalam catatan sejarah sebagai pencetak gol sundulan kepala saat Bayern memenangkan final Liga Champions atas bekas klubnya, PSG, musim lalu. Kini, ia pun memiliki julukan berbeda, Mr Lisbon, di kota Munich.

Coman juga dikenal bisa bermain di kedua sayap, sementara ia cenderung lebih sering menggunakan kaki kanan saat berbaris di sayap kiri Bayern Munchen. Kecepatan Coman dan ambisinya di lapangan kerap kali menimbulkan masalah bagi bek lawan, seperti yang telah ia lakukan terhadap bek kanan PSG, Thilo Kehrer, di final Liga Champions yang baru lalu.

Saat ini, Kingsley Coman memang baru berusia 24 tahun, namun ia sudah ikut memenangkan gelar liga dalam delapan tahun terakhir, termasuk bersama Juventus dan PSG. Ambisinya untuk selalu memenangkan pertandingan dipastikan akan bertambah dengan adanya persaingan tambahan dari Sane dan Costa. Dengan cara ini pula, Flick berharap Coman akan lebih memacu permainan ke level yang lebih tinggi.