Hoffenheim vs Bayern Munchen Perlihatkan Kemunafikan Liga Jerman

Hoffenheim vs Bayern Munchen Perlihatkan Kemunafikan Liga Jerman

Pertandingan Hoffenheim vs Bayern Munchen, yang diwarnai spanduk ejekan dan penundaan selama 20 menit pada Sabtu (29/2) malam, perlihatkan kemunafikan Liga Jerman dan masyarakat mereka yang tengah sakit. Begini ceritanya.

Laga Hoffenheim vs Bayern Munchen di Rhein-Neckar-Arena pada hari Sabtu malam diwarnai pembentangan spanduk pada sekitar menit 70 atau 71 oleh fans tim tamu Die Roten, yang ditujukan pada pemilik klub tuan rumah Dietmar Hopp, yang sudah berusia 79 tahun.

Saat itu skor pertandingan sudah 6-0 untuk keunggulan Die Bayern, dengan gol-gol dilesakkan oleh Serge Gnabry (menit ketiga), Joshua Kimmich (7′), Joshua Zirkzee (15′), Philippe Coutinho (33′ dan 47′), sebelum ditutup oleh Leon Gorezka (62′).

Spanduk yang dibentangkan pada sekitar menit 70 itu berbunyi “Hopp adalah anak perek” yang bukan bermakna riil tapi simbolis, hendak memprotes mayoritas kepemilikan saham klub mendekati 100% oleh Dietmar Hopp. Ini bukan protes pertama terhadap sang pemilik TSG 1899 Hoffenheim itu. Protes juga terjadi pada laga-laga Bundesliga lainnya, melibatkan atau tidak tim berjuluk Die Kraichgauer tersebut.

Advertisement
NelayanBet
NelayanBet
Mimpi 4D
Mimpi 4D

Para pemain Bayern Munchen datang ke tribun tim tandang, mencoba membujuk para pendukung mereka sendiri untuk melipat spanduk ejekan yang sangat ofensif tersebut. Pelatih Hansi Flick, direktur Hasan Salihamidzic, CEO Karl-Heinz Rummenigge dan anggota direksi lainnya Oliver Kahn juga ikut datang ke depan tribun pendukung Die Roten. Mulai dari membujuk sampai marah-marah tapi tiada hasil.

Wasit kemudian menghentikan laga pada menit 77 dan membawa keluar kedua kesebelasan ke kamar ganti. Laga Hoffenheim vs Bayern Munchen kembali dimainkan selang 20 menit kemudian tapi dengan maksud meneror pendukung tim tamu, memainkan sepakbola malas-malasan, oper-operan di antara pemain kedua lawan, untuk membentangkan “spanduk” mereka sendiri.

Kemunafikan Liga Jerman

Meski pun spanduk ejekan yang ofensif itu dikecam tapi Liga Jerman juga diprotes karena memperlihatkan kemunafikan mereka sendiri. Pertandingan Hoffenheim vs Bayern Munchen dihentikan selama 20 menit dan wasit membawa keluar pemain kedua kubu untuk sebuah spanduk kebencian pada seorang pemilik klub. Tapi bagaimana dengan kebencian terhadap warna kulit atau ras? Tidak pernah ada laga dihentikan seperti tadi malam.

Jordan Torunarigha dari Hertha Berlin menjadi sasaran teriakan dan suara-suara monyet selama pertandingan di kandang Schalke pada awal Februari, tidak ada keputusan wasit atau penyelenggara laga untuk menghentikan pertandingan dalam kasus itu.

Leroy Kwadwo dari tim Würzburger Kickers juga menerima ejekan rasis serupa 12 hari yang lalu pada pertandingan divisi ketiga sepak bola Jerman di Preussen Muenster, dengan kedua kubu penggemar menemukan pelakunya dan meneriakkan “Nazi’s Out!” tetapi laga berjalan terus. Sang penggemar rasis itu kemudian berhasil diidentifikasi dan kemudian dikeluarkan dari stadion oleh steward pertandingan.

Jadi, itulah sisi kemunafikan Liga Jerman. Atau mungkin faktor uang bermain di sini? Spanduk ejekan pada pemilik Hoffenheim yang sudah berkorban duit Rp 5,5 Trilyun menyebabkan laga dihentikan 20 menit dan ada solidaritas pemain serta staf dari kedua kubu. Ejekan rasis untuk warna kulit tidak berujung apa-apa.

Apa yang Dibenci Suporter Jerman Atas Hoffenheim

Berbeda dengan kebanyakan klub sepak bola Liga Jerman lainnya, yang menganut aturan saham 50+1 (sedikit di atas 50%) bagi para pendukung atau supporter klub agar mereka-lah menentukan masa depan klub, ada tiga klub Bundesliga yang dikecualikan dari aturan ini: Bayer Leverkusen, Wolfsburg dan TSG Hoffenheim.

Bayer Leverkusen dan Wolfsburg memperoleh pengecualian aturan 50 persen plus satu itu karena merupakan klub olahraga bagi pabrik farmasi Bayer dan pabrik otomotif Volkswagen. Tapi tidak dengan TSG 1899 Hoffenheim, demikian nama lengkap tim itu. Dietmar Hopp sudah mengeluarkan duit sebesar Rp 5,5 Trilyun untuk membantu klub itu naik dari klub divisi kelima Jerman dan masuk ke divisi elit Bundesliga Jerman dalam waktu kurang dari 20 tahun.

Tahun 2000, Dietmar Hopp yang merupakan alumnus klub itu, kembali ke klub untuk memberikan sokongan finansial, dan dengan cepat memberi dampak. Pada tahun 2000 mereka masih berada di divisi kelima sepak bola Jerman bernama Verbandsliga dan kemudian menduduki urutan pertama guna promosi ke divisi keempat, Oberliga Baden-Württemberg.

Cuma setahun di divisi keempat itu, Hoffenheim finish lagi di urutan pertama guna promosi ke divisi ketiga, Regionalliga Süd (III) untuk musim 2001/2002. Di sini mulai ketemu sulitnya sepak bola Jerman, hanya finish di urutan 13, tapi naik pesat pada musim berikutnya menjadi urutan lima.

Hoffenheim meraih posisi kelima dan ketujuh dalam dua musim berikutnya di Regionalliga Süd (III), sebelum meningkat ke posisi keempat pada musim 2005/2006 untuk mendapatkan hasil terbaik mereka hingga saat itu. Klub ini membuat penampilan DFB-Pokal pertamanya pada kompetisi 2003/2004 dan tampil baik, lolos sampai ke perempat final dengan menyingkirkan klub divisi kedua Bundesliga Eintracht Trier dan Karlsruher SC serta klub Bundesliga Bayer Leverkusen sebelum dikalahkan oleh tim divisi kedua lainnya, VfB Lübeck.

Pada tahun 2006, klub berusaha untuk meningkatkan kualitas pemain dan staf teknisnya dengan mendatangkan pemain yang memiliki pengalaman bermain di Bundesliga selama beberapa tahun, terutama Jochen Seitz dan Tomislav Marić, serta talenta muda seperti Sejad Salihović.

Pada saat yang sama mereka juga mengontrak selama lima tahun manajer Ralf Rangnick, yang mengelola tim Bundesliga seperti sebagai SSV Ulm 1846, VfB Stuttgart, Hannover 96 dan Schalke 04. Investasi mahal itu terbayar pada musim 2006/2007 dengan promosi klub ke 2. Bundesliga (divisi kedua Liga Jerman) setelah finish di urutan kedua di Regionalliga Süd.

Musim 2007/2008 adalah musim pertama Hoffenheim dalam sepak bola profesional. Setelah awal musim yang buruk dengan tiga kekalahan dan hanya sekali imbang dalam empat pertandingan pertama, kinerja tim meningkat luar biasa dan Hoffenheim naik dari posisi ke-16 pada matchday keempat ke posisi runner-up klasemen pada matchday 23. Tim berhasil mempertahankan tempat mereka hingga akhir musim, usai mencetak 60 poin dari 34 pertandingan. Dengan finish pada posisi kedua, Die Kraichgauer promosi otomatis ke Bundesliga, divisi paling elit dalam sepakbola Jerman, setelah hanya bermain pada divisi kedua selama satu musim saja.

Apa yang sepertinya diprotes para pendukung Bayern Munchen dan juga penggemar Borussia Dortmund serta Schalke dan tim-tim lainnya di Jerman adalah bagaimana uang banyak, Rp 5,5 Trilyun tepatnya, berhasil menggagalkan aturan 50 persen plus satu, yang biasanya disyaratkan menjadi milik supporter agar mereka, dan bukan pemilik modal, yang mengendalikan masa depan klub.