Selamat Tinggal Raksasa Bundesliga, Werder Bremen

Gilabola.com – Werder Bremen – juara Bundesliga empat kali, musim ini harus merasakan terdegradasi dari kompetisi sepak bola teratas Jerman untuk kedua kalinya sejak mereka berdiri 122 tahun lalu.

Bundesliga.com pun berikan penghargaannya kepada Si Green-Whites, yang sudah tampil di lebih banyak musim Bundesliga dibandingkan klub lain musim ini, serta soroti beberapa pemain dan momen yang telah membuat Bremen sebagai klub yang kaya akan sejarah menakjubkan selama ini.

Langkah Awal ke Bundesliga: Para Pendiri

Bremen menjadi salah satu tim asli Bundesliga yang berada di urutan ke-10 di musim perdananya, musim 1963/64, dan dinilai akan selamanya menjadi bagian dari sejarah Liga Jerman. Namun, mereka tak selalu bermain seperti yang mereka inginkan saat kiper Bremen Klaus Lambertz kebobolan gol lawan untuk pertama kalinya di divisi tersebut. Saat itu pemain Borussia Dortmund, Timo Konietzka, mencetak gol di menit pertama pertandingan.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
TOTOBET
TOTOBET

Namun di musim berikutnya – tepat ketika kota Bremen merayakan ulang tahunnya yang ke-1.000 tahun, klub yang dijuluki  ‘Tim tanpa bintang’ itu dinobatkan sebagai juara Bundesliga.

Werder Bremen sudah memenangkan divisi teratas Liga Jerman sebanyak tiga kali – sebuah prestasi yang hanya bisa diungguli Bayern Munchen, Borussia Dortmund dan Borussia Mönchengladbach. Sementara tujuh kali menjadi runner-up mereka juga hanya diungguli Bayern, dan mereka kehilangan gelar juara di musim 1982/83 dan musim 1985/86 hanya karena selisih gol.

Channel Gilabola di Youtube

Ikon Pelatih: Otto Rehhagel

Suporter Bremen ingat betul pada pelatih asal Jerman itu, terutama terkait kesuksesannya yang luar biasa dan sama sekali tak terduga bersama Timnas Yunani di Euro 2004. Namun, jauh sebelumnya Rehhagel sudah berhasil mengubah sebuah tim biasa menjadi penakluk dunia, dan dia memulainya di Werder Bremen.

Selama 14 tahun, mulai dari tahun 1981 hingga 1995, Rehhagel sukses menjadikan Bremen sebagai pusat kekuatan sepak bola di kawasan Jerman utara – berhasil merebut predikat tersebut dari rival beratnya, Hamburg FC, dan jadikan Werder sebagai sebuah tim penantang gelar yang paling ngotot kalahkan Bayern Munchen.

Setelah mengambil alih posisi pelatih di akhir musim, Rehhagel berhasil membawa Bremen  memenangkan promosi kembali ke kompetisi teratas Jerman setelah mereka alami degradasi untuk pertama kalinya.

Rehhagel pun membawa Bremen memenangkan dua gelar Bundesliga (musim 1987/88, 1992/93), menjadi runner-up empat kali, mengklaim dua Piala DFB ( pada musim 1990/91, 1993/94) dan Piala Winners UEFA European Cup 1991/92.

Ada pula sukses menakjubkan yang mereka bukukan di kancah Eropa, seperti mengalahkan tim juara bertahan, Napoli, 5-1, saat tim Italia itu masih diperkuat mendiang Diego Maradona, di Piala Uefa musim 1989/90. Pelatih ini pula yang berhasil memandu Bremen berlaga di fase grup Liga Champions 1993/94 – yang baru saja berganti nama, dan menjadi klub asal Jerman pertama yang melakukannya.

Rehhagel pula yang mengawasi perkembangan para pemain seperti Rudi Völler, Karl-Heinz Riedle, Dieter Eilts dan Mario Basler ketika itu, berhasil membujuk mereka bergabung dan mengubahnya menjadi pemain kelas dunia.

Prestasi Terbesar: Dua Gelar di Musim 2003/04

Sayangnya, kepergian Rehhagel ke Bayern Munchen di tahun 1995 sedikit banyak telah menyebabkan penurunan prestasi di Werder Bremen, sampai akhirnya mereka kedatangan Thomas Schaaf di musim 1998/99, yang abdikan seluruh karirnya di Bremen dan berhasil menyelamatkan tim kesayangannya dari degradasi.

Schaaf lalu berhasil membawa Werder Bremen menang atas Bayern Munchen di final Piala DFB, hingga akhirnya pelatih inipun ‘meniru’ kerja pendahulunya dengan bertahan di Bremen selama 14 tahun berturut-turut.

tahun kemudian akan mengatur kemenangan final Piala DFB 1998/99 yang terkenal atas Bayern, dan akhirnya meniru mantan bosnya dengan 14 tahun berturut-turut di bangku cadangan Weserstadion.

Bremen juga memiliki trio penyerang yang cemerlang, yakni playmaker asal Prancis Johan ‘Le Chef’ Micoud, penyerang asal Kroasia Ivan Klasnic dan pencetak gol asal Brasil, Ailton. Ketiganya juga berhasil menutup musim sebagai pencetak gol terbanyak Bundesliga. Nostalgia ini tentunya sangat menyesakkan bagi suporter Bremen.

Setelah mengklaim posisi teratas di klasemen Bundesliga pada Matchday 16, Werder Bremen tak pernah melepaskan cengkeraman mereka. Lalu, berkat 23 pertandingan tak terkalahkan dan mencetak lebih banyak gol dibandingkan tim lain, Bremen pun berhasil merebut gelar juara dengan penuh gaya lewat kemenangan 3-1 di Bayern Munchen, di mana dua gol yang dibukukan para pemainnya juga menjadi gol terbaik di musim itu.

Klub Bundesliga 2, Alemannia Aachen, lalu mereka kalahkan 2-3 di final Piala DFB yang sangat mendebarkan, dan Bremen menjadi yang pertama – hingga saat ini, itu menjadi satu-satunya, gelar ke dua dalam satu musim yang berhasil mereka bukukan.

“Itu lebih dari sesuatu yang istimewa,” tandas Schaaf, yang kemudian mencoba menyelamatkan Werder Bremen tapi tak berhasil.

AHABET
AHABET