Keputusan Victor Osimhen untuk tidak merayakan gol penentunya ke gawang Juventus di Turin menjadi momen paling dibicarakan setelah laga playoff Liga Champions UEFA, Kamis dinhari. Gol tersebut memastikan langkah Galatasaray ke babak 16 besar, sekaligus memupus harapan tuan rumah untuk membalikkan keadaan.
Dalam situasi penuh tekanan, ketika Juventus memaksa laga hingga perpanjangan waktu, Victor Osimhen justru memilih menahan ekspresi. Saat rekan-rekannya merayakan, termasuk mantan kapten Inter, Mauro Icardi, penyerang asal Nigeria itu tetap tenang tanpa selebrasi berlebihan.
Gestur itu memunculkan pertanyaan, terutama mengingat konteks pertandingan dan riwayat ketertarikan Juventus terhadap dirinya.
Drama di Turin dan Gol Penentu
Galatasaray datang ke Italia dengan bekal kemenangan 6-2 pada leg pertama di Istanbul. Namun keunggulan besar itu hampir tergerus. Juventus yang kini dilatih Luciano Spalletti tampil agresif sejak awal.
Manuel Locatelli membawa tuan rumah unggul lewat penalti pada babak pertama. Situasi berubah ketika bek Lloyd Kelly menerima kartu merah kontroversial di awal babak kedua. Meski bermain dengan sepuluh orang, Juventus tetap mampu mencetak dua gol tambahan melalui Federico Gatti dan Weston McKennie.
Tekanan publik Turin terasa jelas. Laga pun berlanjut ke perpanjangan waktu sebelum Osimhen mencetak gol yang mengakhiri perlawanan Bianconeri. Gol tersebut praktis menutup peluang Juventus untuk melaju lebih jauh.
Namun alih-alih berlari ke sudut lapangan, Osimhen memilih diam.
Hubungan Masa Lalu dengan Juventus
Untuk memahami sikap itu, latar belakang transfer musim panas 2024 tak bisa diabaikan. Saat memutuskan meninggalkan Napoli setelah kedatangan Romelu Lukaku, Osimhen sempat menjadi target serius Juventus.
Ia bahkan berdiskusi dengan direktur olahraga Cristiano Giuntoli, sosok yang sebelumnya membawanya dari Lille ke Napoli. Namun kepindahan itu batal terwujud, terutama karena Napoli enggan melepasnya ke rival domestik.
Osimhen akhirnya bergabung permanen dengan Galatasaray dan langsung tampil tajam. Musim lalu ia mencetak 37 gol dalam 41 pertandingan, lalu menambah 16 gol musim ini.
Sehari sebelum pertandingan di Turin, Osimhen berbicara terbuka dalam konferensi pers. Ia menyebut Juventus sebagai salah satu klub terbesar di dunia dengan sejarah panjang dan banyak legenda. Ia mengakui sempat ingin bergabung sebelum akhirnya pindah ke Turki.
“Saat itu saya tertarik bergabung sebelum pindah ke Galatasaray, tetapi situasinya menjadi rumit. Sekarang saya sangat bahagia di Gala, tetapi di masa depan Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Bermain di sini adalah sebuah kehormatan. Sembilan puluh persen pesepak bola ingin mengenakan jersey Juventus suatu saat dalam kariernya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memberi konteks pada sikapnya di lapangan. Tidak menutup kemungkinan gestur tanpa selebrasi itu menjadi bentuk penghormatan kepada klub yang pernah mendekatinya, atau kepada pelatih Luciano Spalletti yang pernah bekerja di Italia.
Kritik untuk Tim Sendiri
Menariknya, setelah memastikan kelolosan, Osimhen justru mengkritik performa timnya. Kepada CBS Sports, ia mengaku kecewa dengan penampilan Galatasaray di leg kedua.
“Kami harus banyak berkembang karena Juventus pantas menang, meskipun saya senang untuk tim saya. Saya tahu akan sulit bermain di sini. Saya mencoba memotivasi rekan-rekan. Beberapa dari mereka tampak takut dengan atmosfer dan cara Juventus bermain,” katanya.
Komentar itu menunjukkan bahwa bagi Osimhen, gol penentu bukan alasan untuk euforia. Fokusnya tertuju pada performa tim yang menurutnya belum memenuhi standar.
Implikasi bagi Masa Depan
Pada usia 27 tahun dan dengan produktivitas yang konsisten, Osimhen tetap menjadi salah satu penyerang paling diminati di Eropa. Ia baru bergabung permanen dengan Galatasaray musim panas lalu, tetapi performa seperti di Turin hanya akan meningkatkan minat klub-klub besar.
Bagi Juventus, tersingkir dari Liga Champions lewat gol pemain yang sempat ingin mereka datangkan menjadi ironi tersendiri. Sementara bagi Osimhen, malam di Turin mungkin bukan sekadar tentang satu gol, melainkan tentang hubungan yang belum sepenuhnya selesai dengan sepak bola Italia.
Yang jelas, selebrasi yang tak pernah terjadi itu justru membuat golnya terasa lebih bermakna daripada sekadar angka di papan skor.

