Analisa Mengapa Final Liga Champions Tadi Malam Membosankan

Analisa Mengapa Final Liga Champions Tadi Malam Membosankan

Liverpool menang 2-0 dan jadi juara Eropa tapi partai final Liga Champions tadi malam terasa antiklimaks dan membosankan. Begini alasannya.

Jika Anda menilik media sosial maka banyak sekali yang mengutuki partai final Liga Champions tadi malam antara Tottenham Hotspur vs Liverpool sebagai membosankan. Hanya satu gol terjadi setelah 30 detik, itu pun dari titik penalti, dan satu gol lain pada menit-menit akhir pertandingan.

Salah satu netizen yang budiman mengatakan, partai sesama Italia atau sesama Spanyol di final Liga Champions pun tidak akan semembosankan ini. Mengapa partai sesama Inggris begitu antiklimaks? Tidak ada berbalas gol. Bahkan tidak ada serangan-serangan yang nyaris menjadi gol.

Sesudah partai semi final yang dramatis dan penuh kejutan, kita mengharapkan sebuah final yang juga dramatis dan sama mengejutkannya. Tapi itu tidak terjadi. Penalti cepat kurang dari satu menit akibat handball Moussa Sissoko terlihat seolah-olah akan memicu terjadinya gol balasan oleh Spurs.

Advertisement
advertisement
advertisement
DepoToto
DepoToto

Tottenham Hotspur lolos ke final setelah bangkit dari ketertinggalan 0-1 agregat lawan Ajax Amsterdam dengan mencetak tiga gol melalui Lucas Moura dan skor agregat 3-3. Mereka maju dengan agresifitas gol tandang. Begitu pun Liverpool tertinggal 3-0 dari Barcelona jelang leg kedua sebelum mencetak empat gol melalui Divock Origi dan Georginio Wijnaldum yang menarik di Anfield.

Ada tiga alasan untuk itu. Pertama, Tottenham Hotspur dan Liverpool sudah saling bertemu sebanyak 33 kali di ajang Liga Inggris. Jadi masing-masing sudah saling tahu taktik bermain lawan dan akan lebih hati-hati untuk tidak kecolongan. Jadi unsur kecerobohan yang membawa drama pada dua partai semi final tidak terjadi.

Kedua, pihak Jurgen Klopp yang biasanya main menekan jauh di setengah lapangan lawan terlihat tak mau mengulangi kesalahan seperti yang mereka lakukan di final Liga Champions tahun 2018. Jadi The Reds yang biasanya bergairah tinggi, bernafsu, tak kenal lelah, lebih terlihat sebagai tim yang takut-takut kalau ruang belakangnya terbuka lebar.

Begitu pula skuad asuhan Mauricio Pochettino yang diklaim sangat bugar dan yang sebenarnya memiliki strategi bermain mirip dengan The Reds, juga melakoni permainan tadi malam juga bermain limbung.

Kedua tim sama-sama mencatatkan banyak kesalahan yang tidak perlu dan dengan mudah menyerahkan kepemilikan bola, menyebabkan bola hanya berputar-putar di lapangan tengah sepanjang 90 menit permainan.

“Ini bukan laga yang paling menghibur [yang pernah ada],” kata Rio Ferdinand, bek legendaris Manchester United yang bertindak sebagai komentator. “Kita semua sudah pernah bermain di final. Urusan final adalah urusan dapat trofi. Fans tidak akan banyak mengeluh soal cara mereka bermain. Misinya tercapai [dengan jadi juara]. Musim ini sangat fantastis [untuk Liverpool]. Kalau sampai mengakhiri musim tanpa trofi, itu akan sangat mengecewakan.”

Ketiga, temperatur di Madrid sedang panas-panasnya dengan ramalan cuaca memprediksi suhu mencapai 33 derajat Celcius. Bukan suhu terpanas yang pernah ada di Spanyol tapi bagi banyak pemain Inggris ini sudah seperti panas neraka.

Jurgen Klopp yang melihat penampilan menurun timnya di babak kedua segera melakukan dua pergantian sebelum batas 60 menit. Divock Origi dan James Milner masuk menggantikan Roberto Firmino serta Georginio Wijnaldum, dan dampaknya segera terlihat dengan Origi mencetak gol kedua setelah satu pembersihan setengah hati gagal membuang bola keluar dari kotak penalti Spurs.