Site icon Gilabola.com

Analisis PSG vs Bayern Munchen: Ketika Dua Tim Dewa Sepakbola Bermain Tanpa Rem!

Analisis PSG vs Bayern Munchen

Ini Bukan Laga Biasa, PSG vs Bayern Tampil Seolah Tanpa Pertahanan

Gilabola.com – Semua orang kini mulai menghitung hari menuju leg kedua semifinal Liga Champions antara Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen pekan depan, tepatnya Rabu dinihari. Pasalnya, dua raksasa Eropa tersebut baru saja menyuguhkan salah satu pertandingan terbaik yang pernah ada di sejarah sepakbola. Dan bukan tidak mungkin, laga berikutnya di Allianz Arena akan menyuguhkan kualitas yang sama, karena kedua tim ini sama sekali tidak mengenal kata mundur.

Skor akhir 5-4 untuk wakil Prancis di Paris atas juara Bundesliga terasa tidak masuk akal jika hanya melihat satu pertandingan. Dalam dua leg, skor tersebut mungkin masih wajar, tetapi untuk satu laga saja, ini benar-benar luar biasa.

Ketika dua tim dengan deretan pemain ofensif terbaik saling berhadapan, pertandingan bisa berubah menjadi duel mental dan ego. Para pencetak gol dan kreator serangan seakan mengabaikan tugas bertahan, bermain bebas layaknya di lapangan sekolah, memamerkan kemampuan tanpa memikirkan risiko.

PSG terbiasa mendominasi setiap pertandingan, begitu pula Bayern. Kekalahan ini baru yang ketiga dari 50 laga mereka musim ini, dengan 43 kemenangan sebelumnya. Naluri bertahan demi menghindari kekalahan besar yang biasanya dimiliki tim lain tidak berlaku bagi kedua tim ini. Namun, aspek pertahanan dalam laga ini tetap menjadi perhatian bagi pelatih Luis Enrique dan Vincent Kompany yang harus menyaksikan dari tribun akibat sanksi.

Clarence Seedorf, yang pernah empat kali menjuarai Liga Champions bersama Ajax, Real Madrid, dan AC Milan, menekankan pentingnya keseimbangan antara menyerang dan bertahan saat menjadi analis TNT Sports. Ia menyebut bahwa bertahan adalah seni yang tidak boleh diabaikan. Tanpa itu, tim tidak akan mampu memenangkan kompetisi ini. Ia juga menilai meski PSG mencetak lima gol ke gawang salah satu tim terbaik dunia, mereka bisa saja gagal melaju ke final karena memberi terlalu banyak peluang kepada lawan.

Namun, bisa saja pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Bagi pecinta pertahanan, pertandingan lain mungkin lebih menarik, tetapi duel di Parc des Princes ini menyajikan sepak bola kelas tinggi dengan aksi luar biasa dari para pemain depan.

Khvicha Kvaratskhelia mencetak dua gol indah untuk tim tuan rumah. Michael Olise membalas dengan gol spektakuler. Ousmane Dembele mencetak dua gol meski juga menyia-nyiakan sejumlah peluang.

Harry Kane menambah koleksi golnya menjadi 54 musim ini melalui penalti di babak pertama. Sementara itu, Luis Diaz mencetak gol terbaik musim ini bagi Bayern untuk memperkecil skor menjadi 5-4, hanya sepuluh menit setelah PSG sempat unggul 5-2.

Sulit dipercaya bahwa laga fase gugur Liga Champions bisa menyaingi drama pertandingan lain musim lalu, namun kurang dari satu tahun kemudian, duel ini bahkan melampauinya.

Hanya satu pertandingan dalam sejarah fase gugur Liga Champions yang menghasilkan lebih banyak gol dalam 90 menit, yakni kemenangan Bayern 8-2 atas Barcelona pada perempat final musim 2019-2020. Namun laga tersebut digelar tanpa penonton, sehingga tidak menghadirkan atmosfer emosional seperti yang terjadi di Paris.

Meski timnya kebobolan lima gol, Kompany tetap memberikan respons positif.

Ia mengatakan bahwa biasanya kebobolan lima gol di laga tandang Liga Champions berarti tersingkir, tetapi timnya menciptakan banyak peluang dan bahkan bisa mencetak lebih banyak gol. Ia menilai pertandingan tersebut penuh duel intens dan margin yang sangat tipis. Menurutnya, tim hanya punya dua pilihan, terus menyerang atau mundur, dan pendekatan bertahan tidak efektif menghadapi pemain dengan kualitas seperti ini.

Jika filosofi tersebut tetap diterapkan pada leg kedua di Munchen, di mana PSG sedikit lebih diunggulkan karena keunggulan satu gol, maka laga terbuka kemungkinan besar kembali terjadi.

Kapten PSG, Marquinhos, memperkirakan pertandingan berikutnya akan sama gilanya, dengan dua tim yang sama-sama ingin mencetak gol. Ia menegaskan timnya harus tampil dengan mentalitas dan karakter yang sama untuk meraih hasil maksimal, serta membutuhkan kerja keras untuk menang.

Ia juga menyebut bahwa pertandingan seperti ini sangat disukai penggemar sepak bola karena kedua tim bermain agresif dan intens.

Namun, tekanan di leg kedua akan berbeda karena tidak ada kesempatan kedua. Kedua tim akan mengevaluasi kekurangan mereka sebelum kembali bertemu di Allianz Arena, dengan satu tiket final di Budapest pada 30 Mei menjadi taruhan.

Kini pertanyaannya, siapa yang akan melaju? PSG semakin dekat menuju gelar beruntun, atau Bayern yang mengejar trofi ketujuh, sekaligus mendekatkan Kane pada gelar pertamanya?

Kane mengatakan bahwa meski ada sembilan gol dalam pertandingan ini, selisih hanya satu gol membuat segalanya masih terbuka. Ia juga bangga timnya mampu bangkit hingga skor menjadi 5-4 setelah tertinggal jauh.

Menurutnya, ketika pemain terbaik dunia saling berhadapan, situasi seperti ini bisa terjadi, di mana lini serang sering kali lebih dominan.

Jika hal yang sama kembali terjadi pekan depan, maka satu lagi pertandingan klasik akan tercipta.

Exit mobile version