Banyak yang Ragukan Liverpool, Tapi Anfield Punya Cerita Berbeda!

Gilabola.com – Peluang tidak berpihak pada Liverpool saat menghadapi Paris Saint-Germain pada laga nanti malam 02.00 WIB. Namun, situasi seperti ini bukan hal baru bagi tim asal Merseyside tersebut.

Ketika juara Eropa berhadapan dengan juara Inggris di Anfield, tim tamu datang dengan kepercayaan diri tinggi sebagai tim yang terbiasa menang. Mereka yakin skuad asuhan Luis Enrique akan melangkah ke semifinal Liga Champions.

Kepercayaan diri itu bukan tanpa alasan. Setelah menjuarai kompetisi musim lalu dengan gaya bermain yang memukau, klub asal Paris masih berpeluang meraih dua gelar sekaligus musim ini. Status mereka sebagai salah satu kekuatan utama di sepak bola Eropa pun semakin kuat.

Pada leg pertama babak perempat final, performa tim ibu kota Prancis tersebut mempertegas posisi mereka sebagai unggulan. Berbeda dengan musim lalu saat mereka harus berjuang hingga adu penalti di babak 16 besar, kali ini mereka datang dengan keunggulan dua gol.

Secara keseluruhan, banyak yang memprediksi mereka akan lolos. Namun ada satu faktor penting yang tidak bisa diabaikan, yaitu Anfield.

Pelatih lawan memahami situasi ini dengan sangat baik. Ia pernah merasakan atmosfer tribun Kop sebagai pemain, dan kini harus menghadapinya sebagai pelatih. Hasil imbang tanpa gol tentu cukup bagi timnya. Namun jika Liverpool mampu membuka laga dengan agresif dan membuat permainan menjadi kacau, keunggulan dua gol bisa hilang dengan cepat, seperti yang sering terjadi sebelumnya.

Sejarah Comeback Liverpool di Anfield

Sulit memilih satu momen terbaik, tetapi kemenangan dramatis 4-3 atas Borussia Dortmund di perempat final UEFA Europa League sekitar satu dekade lalu menjadi contoh yang paling ikonik.

Setelah hasil imbang 1-1 di leg pertama, Liverpool tertinggal dua gol dalam 10 menit awal. Gol dari Henrikh Mkhitaryan dan Pierre-Emerick Aubameyang membuat situasi semakin sulit.

Namun babak kedua berubah menjadi salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah stadion tersebut. Divock Origi sempat memperkecil ketertinggalan, tetapi Dortmund kembali unggul dua gol melalui Marco Reus.

Tim lain mungkin sudah menyerah, tetapi pelatih Jürgen Klopp telah membangun mental berbeda. Gol Philippe Coutinho di menit ke-66 menjaga harapan tetap hidup.

Saat Mamadou Sakho mencetak gol penyama, suasana stadion berubah drastis. Walau agregat imbang, aturan gol tandang masih menguntungkan lawan. Hingga akhirnya, Dejan Lovren mencetak gol kemenangan di masa tambahan waktu lewat umpan James Milner.

Momen tersebut mengakhiri rekor tak terkalahkan lawan dan memperlihatkan bahwa segalanya mungkin terjadi.

Comeback Bersejarah Lainnya

Kisah kebangkitan tidak berhenti di situ. Pada 1991, Liverpool membalikkan defisit dua gol dari leg pertama dengan kemenangan 3-0 atas Auxerre di kompetisi Eropa.

Tahun 2002, mereka kembali membalikkan keadaan dalam laga emosional yang ditandai kembalinya pelatih Gérard Houllier setelah pulih dari masalah kesehatan. Gol dari Jari Litmanen dan Emile Heskey memastikan kelolosan.

Pada 2005, Liverpool membutuhkan tiga gol di babak kedua melawan Olympiacos di fase grup UEFA Champions League. Gol dari Florent Sinama Pongolle dan Neil Mellor membuka jalan sebelum Steven Gerrard mencetak gol penentu yang menjadi salah satu momen paling dikenang.

Tiga tahun kemudian, saat menghadapi Arsenal, Liverpool kembali menunjukkan mental kuat. Setelah sempat terancam tersingkir, penalti Gerrard dan gol Ryan Babel memastikan kemenangan 4-2.

Yang paling dikenang tentu kemenangan 4-0 atas Barcelona pada 2019. Hasil tersebut membalikkan kekalahan 0-3 di leg pertama semifinal Liga Champions.

Kuncinya Ada Pada Keyakinan!

Semua kisah tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu keyakinan. Hal itu pula yang menjadi harapan Liverpool kali ini.

Pelatih Arne Slot akan menurunkan susunan pemain terbaik. Namun yang lebih penting adalah keyakinan bahwa timnya mampu membalikkan keadaan.

Pemain harus percaya. Staf harus percaya. Pendukung yang hadir di stadion juga harus percaya, meskipun musim ini berjalan mengecewakan.

Tanpa keyakinan, sebuah tim hanya akan menjadi pelengkap. Klopp pernah mengubah keraguan menjadi kepercayaan. Kini saatnya generasi baru melakukan hal yang sama dan mencoba menciptakan akhir yang tak terduga.

Jika semua percaya, hasil besar bukan hal yang mustahil.