Barcelona, Lihat Nih Rahasia Kekuatan dan Kelemahan Dortmund

Barcelona, Lihat Nih Rahasia Kekuatan dan Kelemahan Dortmund

Barcelona kebagian grup maut Liga Champions bareng Borussia Dortmund dan Inter. Gaya bermain dua tim itu membuat Blaugrana kuatir.

Drawing grup Liga Champions sudah dilakukan tadi malam (29/8) di Grimaldi Forum Monaco dan dari semua tim unggulan, Barcelona adalah yang paling sial karena satu grup dengan Dortmund dan Inter, selain klub asal Ceko Slavia Prague, di Grup F.

Apa yang membuat Ernesto Valverde kuatir adalah gaya bermain dari dua tim itu di bawah asuhan Lucien Favre dan Antonio Conte itu. Pada kesempatan ini kita bahas Die Borussen lebih dulu.

Dortmund Menakjubkan di Awal Musim, Impoten Setelahnya

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Performa Die Schwarzgelben selama paruh pertama musim lalu sangat luar biasa. Mereka menang 15 kali dari 19 laga perdananya di Bundesliga, termasuk 3-2 atas Bayern Munchen. Tapi setelah paruh pertama musim, segalanya mulai berantakan. Mereka entah kelelahan atau kurang fokus dan membiarkan raksasa Bavaria itu menyalip mereka di papan klasemen.

Setelah pekan ke-25, kedua tim sama poin dengan selisih gol memisahkan mereka. Dortmund hanya memenangkan satu dari delapan laga terakhirnya di semua kompetisi, termasuk tersingkir dari DFB-Pokal dan babak 16 besar Liga Champions.

Der BVB berhasil menciptakan banyak sekali peluang tapi kesulitan mengubah peluang-peluang emas itu menjadi gol. Itulah yang menjadi alasan kejatuhan mereka, meskipun memiliki sejumlah pemain seperti Marco Reus, Mario Goetze, Paco Alcacer dan mantan pemain muda Manchester City Jadon Sancho di depan gawang.

Dortmund menghasilkan jumlah tembakan yang cukup tinggi per pertandingan dengan setengahnya tepat sasaran, tetapi kurangnya finishing yang baik telah menjadi alasan utama mereka tersingkir dari kompetisi piala.

Dortmund Diubah Jadi Mesin Gol Tapi Sedikit Clean Sheet

Pelatih Swiss mengambil alih pada musim panas 2018 dan mengubah Borussia Dortmund menjadi mesin pencetak gol. Pendekatan Lucien Favre di pasar transfer yang cermat dalam memilih pemain berhasil meningkatkan kualitas pasukan dan mengubahnya menjadi penantang gelar yang percaya diri dan seimbang. Tidak hanya tim menerima tambahan daya tembak di lini depan, tetapi garis pertahanan juga diperkuat.

Dortmund berhasil mencetak gol dalam 23 dari 25 laga musim lalu, tetapi hanya berhasil mencatatkan tujuh kali clean sheet. Die Schwarzgelben rata-rata melepaskan 12,84 tembakan per 90 menit dengan 43,9% di antaranya tepat sasaran. Hasilnya mereka mencetak rata-rata 2,44 gol per laga Bundesliga.

Taktik Favre untuk membangun serangan secara sabar dan perlahan dari arah belakang serta mengandalkan penyelesaian tanpa kesalahan di depan gawang lawan, sepertinya berhasil. Ini merupakan hasil dari konsistensinya memilih tim dan formasi. Setengah dari gol tim terjadi pada 30 menit terakhir laga yang merupakan bagian dari strategi pelatih Swiss itu untuk mengendalikan permainan dan kemudian melakukan serangan dari arah dalam atau serangan balik.

Lima Pemain Kunci Dortmund

Keahlian Lucien Favre, seperti dikutip dari situs totalfootballanalysis.comĀ adalah memilih pemain yang tepat guna mengangkat performa klub. Ia memiliki lima pemain kunci pada skuad utama Der BVB yang bisa merepotkan Barcelona pada laga perdana Liga Champions di Westfalenstadion pada 18 September nanti. Kelimanya adalah:

  • Axel Witsel
  • Abdou Diallo dan Achraf Hakimi
  • Paco Alcacer
  • Jadon Sancho

Tugas utama Axel Witsel adalah membantu empat bek di belakang serta membawa bola ke depan, menciptakan ruang kosong dan mendistribusikan bola. Tingkat akurasi passing mantan pemain Benfica itu mengesankan, rata-rata 72,8 operan per 90 menit dengan akurasi 95% (92% operasinya ke sepertiga akhir lapangan juga termasuk akurat). Ini menunjukkan pentingnya dia untuk pembangunan serangan, tetapi juga dalam hal mempertahankan kepemilikan bola di lini tengah. Dukungan Witsel untuk garis pertahanan menghasilkan rata-rata 8,9 recovery.

Memiliki Abdou Diallo di posisi bek tengah sangat menguntungkan. Dalam banyak sekali kesempatan ia mengoper bola ke arah Achraf Hakimi di sisi kiri lapangan, yang juga hampir selalu menyerahkan bola ke arah Axel Witsel sehingga pemain Belgia itu bisa membagi bola ke lini depan.

Dortmund Beruntung Miliki Pemain Real Madrid dan Barcelona Ini

Mempertahankan Achraf Hakimi sangat penting bagi masa depan tim. Pemain pinjaman Real Madrid ini rata-rata melakukan 4,32 intersepsi dan 8,48 recovery bagi Dortmund. Selain itu, dribbling-nya sangat membantu selama transisi dari bertahan ke menyerang dan merupakan alasan keberhasilannya sebagai winger. Dalam sebuah laga melawan Hoffenheim di ajang Bundesliga, misalnya, ia berhasil melewati lawan-lawannya sebanyak tujuh kali.

Paco AlcacerĀ bisa dibilang pemain yang memiliki dampak terbesar pada kekuatan serang Die Borussen. Ingat bahwa Lucien Favre sering menurunkan mantan pemain Barcelona ini dari bangku cadangan demi mengubah hasil akhir Dortmund. Sang pemain Spanyol hanya masuk starting XI tujuh kali saja di Bundesliga tetapi entah bagaimana rata-rata melepaskan 3,3 tembakan per 90 menit dan telah mencetak 14 gol.

Tujuh dari 14 gol itu dicetak dalam empat laga pertamanya, dan bahkan lebih mengesankan ia mencetak mereka dengan hanya tujuh tembakan on target. Ketujuh gol itu terjadi hanya dalam 106 menit permainan yang merupakan rekor debut terbaik di Bundesliga. Bakat Paco Alcacer adalah menemukan celah dan kemampuan melepaskan dirinya dari pengawalan lawan. Dia juga kadang-kadang mundur dan memberikan bola-bola berkualitas tinggi kepada rekan satu timnya.

Lalu Kenapa Dortmund Gagal Juara Bundesliga?

Inilah dia kelemahan Die Schwarzgelben yang bisa dieksploitasi oleh Lionel Messi dan kawan-kawan.

Meskipun menciptakan banyak sekali shots on goal, Dortmund kesulitan menemukan penyelesaian sempurna lawan Tottenham di ajang Liga Champions musim lalu. Mereka tersingkir dengan skor agregat 4-0 sebagian besar karena kegagalan mengubah semua peluang menjadi gol. Tentu saja itu ada faktor penampilan luar biasa Hugo Lloris.

Melawan Spurs, mereka menghasilkan 25 tembakan (12 di antaranya tepat sasaran) dan tak satu pun berujung gol. Ini mungkin hasil dari gonta ganti formasi. Favre mengubah formasi tim beberapa kali di Liga Champions guna memperkuat lini belakang yang gampang bobol tapi sebagai akibatnya para pemain musti menyesuaikan diri kembali.

Axel Witsel yang menjadi motor utama serangan juga sekaligus titik lemah tim. Kelalaian mundur secara cepat dari sang gelandang bertahan itu berujung gol saat Dortmund menghadapi Werder Bremen dan akhirnya kalah adu penalti pada ajang DFB Pokal.