Bayern Munchen Punya Lima Alasan Bakal Kalahkan Barcelona di Laga Pembuka

Gilabola.com – Bayern Munchen percaya diri bisa kalahkan Barcelona di laga pembuka fase grup Liga Champions pekan ini. Skuad Julian Nagelsmann punya lima alasan untuk sekali lagi permalukan raksasa Spanyol tersebut.

Kekalahan telak 8-2 nan memalukan yang dialami Barca dari Bayern tentunya masih lekat dalam ingatan. Aksi Alphonso Davies, serta kekuatan Robert Lewandowski dan Manuel Neuer hanya menjadi beberapa alasan mengapa Die Roten punya keunggulan jelang pertemuan mereka di laga pembuka Liga Champions musim ini.

1) Bayern Munchen masih punya jimat dalam skuad mereka

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Selama lebih dari satu dekade, diskusi mengenai pemain terhebat di planet ini selalu melibatkan Lionel Messi. Bintang asal Argentina itu memang berikan dampak besar bagi dunia sepak bola, sementara pemain lainnya jarang punya kesempatan untuk tunjukkan bakat mereka.

Barca bahkan seakan telah tim mereka di sekitar La Pulga, yang sayangnya harus tinggalkan Camp Nou pada musim panas ini. Berpisahnya Messi dan Barcelona – yang tak mampu merekrut kembali ikon mereka tersebut, bahkan dianggap sebagai salah satu peristiwa paling menyakitkan dalam sejarah olah raga.

Pindahnya Messi ke PSG benar-benar telah membuat hati Barca ambyar! Kini, untuk pertama kalinya mereka akan memulai pertarungan di Liga Champions tanpa Messi. Sementara Bayern Munchen, masih memiliki mesin gol mereka: Robert Lewandowski.

Skuad Nagelsmann terus membangun di sekitar jimat mereka itu, di saat Barcelona kehilangan pahlawan mereka. Dan, sementara tim Catalan itu harus berpisah dengan mesin gol mereka yang mungkin tak akan tergantikan tersebut, Die Roten menikmati sejarah kembalinya pemain yang baru saja memecahkan sebuah rekor takk terkalahkan – sampai bulan Mei.

Dengan koleksi 41 gol, Lewandowski memecahkan rekor Gerd Muller yang sudah berusia 49 tahun, yakni rekor mencetak gol terbanyak dalam satu musim Bundesliga. Keberhasilan itu pastinya bukan yang pertama, dan kemungkinan besar bukan rekor terakhir yang dipecahkan Lewandowski.

Faktanya, baru-baru ini pemain internasional Polandia itu mengklaim satu lagi catatan Der Bomber, dengan lampaui rekor skor terbaik klubnya dalam 15 penampilan berturut-turut di semua kompetisi. Usai mencetak gol ke gawang RB Leipzig akhir pekan lalu, Lewy – panggilan akrab Lewandowski, kini tercatat telah bukukan 17 gol secara beruntun.

Di saat Bayern Munchen diuntungkan oleh penampilan apik penyerang 33 tahun itu, dan Barca kehilangan mesin gol andalan selama 17 tahun terakhir ini, jawara Bundesliga itupun yakin akan meraih kemenangan besar di Camp Nou, Rabu (15/9) dini hari, bahkan sebelum laga itu dimulai.

2) Sejarah mendukung Bayern, terutama saat bertemu Koeman

Pernah memenangkan dua European Cup saat masih menjadi pemain dan juga pemain terbaik sepanjang masa di kompetisi utama klub-klub papan atas Eropa tersebut, pelatih Blaugrana Ronald Koeman telah bertemu Bayern dua kali sebagai pemain, dan dua kali lagi sebagai pelatih. Namun, pelatih asal Belanda itu tak pernah sukses hadapi Die Roten.

Saat ia masih bermain, Koeman bersama timnya, PSV, tersingkir dari ajang European Cup di musim 1986/87 setelah kekalahan 2-0 dalam pertandingan yang digelar di Belanda dan imbang tanpa gol di Jerman. Hasil ini cukup untuk membawa Bayern melaju ke final, sebelum akhirnya kalah dari Porto.

Hingga akhirnya 18 tahun kemudian, Koeman dan Bayern Munchen bertemu lagi, di mana raksasa Bundesliga itu meraih hasil imbang 2-2 dari Ajax di babak penyisihan grup Liga Champions musim 2004/05, sebelum hattrick Roy Makaay menyiksa rekan senegaranya saat ia sukses membawa Bayern menang 4-0 di leg kedua saat itu.

Rekor keseluruhan dalam pertemuan Bayern dan Barca juga dimenangkan tim asal Jerman tersebut, di mana skuad Munchen berhasil memimpin rekor head-to-head secara keseluruhan dengan tujuh kemenangan berbanding dua kali menang yang dikantongi skuad Catalan, serta dua hasil imbang.

Bayern Munchen juga mengalahkan lawan asal Spanyol mereka itu di pertemuan sebelumnya di Allianz Arena, saat Die Roten menang 3-2 di babak semi-final musim 2014/15. Karena itulah, sejarah disebut-sebut sangat berpihak pada Bayern, yang sudah menjadi juara Liga Champions sebanyak enam kali – sementara Barca ‘hanya’ lima, dan akan berusaha untuk tetap unggul atas rival mereka tersebut pekan ini.

3) Kami bukukan 8-2 untuk fans Barca, tapi …

Dominasi Bayern dalam pertemuannya dengan Barca jelas terlihat saat mereka menang dengan skor fantastis, 8-2, terakhir kali kedua tim besar Eropa tersebut bertemu di ajang Eropa.

Tentunya, amat sangat jarang sebuah tim bisa meloloskan hingga delapan gol ke gawang tim manapun, apalagi Barcelona! Tentunya, ini menjadi pencapaian sekali seumur hidup untuk Bayern yang saat itu masih diasuh Hansi Flick.

Bayern Munchen pun menjadi tim pertama yang pernah mencetak delapan gol dalam satu pertandingan di babak knockout Liga Champions, berikan kontribusi pada rekor di kompetisi itu 3,91 gol per pertandingan di musim itu, saat mereka memberi pelajaran bagi tim Catalan bahwa Barca tak akan pernah lupa pada laga perempat-final Liga Champions edisi 2019/20 tersebut.

Untungnya, ketika itu laga hanya digelar satu leg dan dimainkan secara tertutup akibat pandemi. Meski demikian, jutaan pasang mata menyaksikan kandasnya raksasa Catalan dari siaran televisi, dan hanya sedikit yang akan melupakan peristiwa pembantaian itu.

4) Davies Sang Penyiksa

“Luar biasa,” demikian ungkap Joshua Kimmich setelah ia mencetak gol kelima saat bayern Munchen kalahkan Barca 8-2 lebih dari setahun yang lalu.

Namun, Kimmich tak berbicara soal hasil pertandingannya, tapi dia memuji kerja keras yang luar biasa dari rekan setimnya, Alphonso Davies, di laga tersebut. “Saya tak bisa menggambarkan bagaimana bahagianya saya setelah mencetak gol, karena jelas itu 99 persen golnya,” ujar Kimmich ketika itu, seperti dilansir situs resmi Bundesliga.

Wajar jika Kimmich tak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat mencetak gol ke gawang salah satu klub paling sukses dalam sejarah sepak bola dunia. Namun, orang tentunya bisa melihat inti pembicaraan Kimmich.

Dia hanya perlu berada di waktu yang tepat untuk mencetak gol, dan diuntungkan dengan keunggulan Davies. Pemain internasional Kanada itu berada di posisi terbaiknya saat ia mengambil bola di sisi kiri Bayern Munchen, tepat di dalam setengah lapangan Barcelona, ​​sebelum berhasil melewati Messi dan Arturo Vidal.

Ini menjadi momen yang akan hidup dalam sejarah Liga Champions dan pastinya akan diingat para bek Barcelona. Nelson Semedo – bek yang saat itu bertugas, telah meninggalkan Camp Nou, dan Sergino Dest – penggantinya, saat ini harus berpacu dengan waktu agar benar-benar bugar untuk bisa fit untuk pertandingan itu. Koeman kemungkinan akan menunjuk Sergi Roberto untuk mengisi posisi bek kanan.

Mempertimbangkan bagaimana Davies menyiksa Semedo ketika itu, Dest yang belum punya banyak pengalaman dan Roberto yang juga tak berpengalaman, bisa jadi kedua tim akan hadapi pertandingan yang panas.

5) Neuer Si Musuh Bebuyutan

Seandainya Marc-Andre ter Stegen dilahirkan di generasi berbeda, maka dia diyakini akan menjadi kiper pilihan pertama Timnas Jerman. Namun, kiper andalan Barcelona itu tumbuh di era yang sama dengan Manuel Neuer, hingga kiper Diie Roten ini tetap menjadi pilihan nomor satu yang tak terbantahkan bagi Die Mannschaft.

Dengan sembilan gelar juara Bundesliga, enam Piala DFB, satu trofi Piala Dunia Antarklub dan dua gelar Liga Champions, kualitas Neuer juga didukung banyak trofi. Sementara Ter Stegen berhasil menangkan Liga Champions pada tahun 2015, ia mendapati Neuer menjadi musuh bebuyutannya, baik di panggung domestik maupun Eropa.

Kemenangan di ajang Bundesliga bersama Borussia Mönchengladbach seakan menjadi fatamorgana, karena Neuer dan Bayern Munchen terlalu kuat di Jerman, tapi sejak saat itu Ter Stegen berhasil memenangkan empat trofi LaLiga bersama Barca.

Dengan Flick yang diuntungkan dari solidnya penampilan Neuer dan pelatih itu pernah memenangkan dua gelar Bundesliga bersamanya, maka akan disayangkan jika Flick tak terus mengandalkannya setelah ia menjadi pelatih Timnas Jerman saat ini. Neuer – walau enam tahun lebih tua dari Ter Stegen, belum terlihat ingin mundur dalam waktu dekat ini. Ia bahkan tampak ingin terus meraih prestasi sebagai kiper papan atas dunia.

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO