Carragher Semprot Pemain Liverpool Biang Kekalahan di Leg Pertama yang Dibeli Senilai Rp6,4 Triliun!

Gilabola.com – Jamie Carragher melontarkan kritik tajam kepada sejumlah pemain Liverpool setelah kekalahan 0-2 dari Paris Saint-Germain di ajang Liga Champions UEFA. Beberapa nama yang disorot antara lain Hugo Ekitike, Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Ibrahima Konate.

Tim asuhan Arne Slot kesulitan menghadapi dominasi tuan rumah di Parc des Princes. Gol dari Desire Doue dan Khvicha Kvaratskhelia di masing-masing babak memastikan kemenangan bagi juara bertahan.

Performa The Reds jauh dari harapan. Mereka tidak mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran dan hanya menguasai bola sebesar 26 persen. Sang pelatih bahkan mengakui bahwa timnya lebih fokus bertahan dari gempuran lawan pada babak kedua.

Sistem Lima Bek Dinilai Jadi Biang Masalah

Slot memilih menggunakan formasi lima bek, namun keputusan tersebut dinilai Carragher justru menjadi bumerang. Ia menilai lini belakang tampil tidak solid dan terlalu terbuka.

Menurutnya, skema tersebut membuat lini pertahanan harus bermain satu lawan satu di seluruh area lapangan, sehingga tiga bek tengah harus menutup area yang terlalu luas. Hal ini membuat Virgil van Dijk bekerja ekstra keras di usia 34 tahun.

Carragher menilai Van Dijk dipaksa bergerak terlalu banyak, baik ke tengah maupun melebar, sesuatu yang tidak ideal untuk posisinya. Ia juga menegaskan bahwa performa buruk Konate sepanjang musim semakin memperberat tugas sang kapten.

Ia menyebut Konate kerap melakukan kesalahan di hampir setiap pertandingan, sehingga sulit bagi Van Dijk untuk tampil maksimal saat berduet dengannya.

Meski begitu, Carragher tetap menilai Van Dijk sebagai salah satu pemain terbaik tim musim ini. Namun, ia mengakui bahwa dalam pertandingan ini, sang bek terlihat sangat tidak nyaman, terutama dalam sistem tiga bek.

Ia bahkan menilai sang pemain kemungkinan besar tidak ingin sistem tersebut digunakan kembali karena terlalu menyulitkan.

Carragher juga memberikan pujian kepada tim asal Prancis tersebut. Ia menyebut performa mereka luar biasa, bahkan menyamakan gaya permainan mereka dengan tim legendaris asuhan Pep Guardiola di Barcelona.

Pemain Baru Dinilai Kurang Berkontribusi

Selain taktik, Carragher juga menyoroti performa tiga pemain anyar yang didatangkan dengan total biaya sekitar Rp6,4 triliun. Ia menilai ketiganya belum menunjukkan kerja keras yang cukup, terutama saat tim kehilangan bola.

Ia menegaskan bahwa seorang pemain menyerang di tim tersebut harus memiliki kepercayaan diri saat menguasai bola, namun tetap bekerja keras tanpa bola. Hal tersebut dinilai belum terlihat dari Ekitike, Wirtz, maupun Isak.

Carragher juga menyinggung kondisi beberapa pemain senior seperti Alisson Becker, Van Dijk, dan Mohamed Salah yang mulai mengalami penurunan performa seiring bertambahnya usia.

Ia menilai ketiga pemain tersebut tetap layak dihormati karena kontribusinya selama ini, namun saat ini mereka tidak lagi berada di level terbaik. Sementara itu, pemain baru dinilai belum mampu mengangkat performa tim.

Secara keseluruhan, ia melihat adanya masa transisi dalam skuad. Pemain senior mulai menurun, sementara pemain baru belum sepenuhnya memahami tuntutan permainan tim.

Untuk Wirtz secara khusus, Carragher menilai pemain dengan nilai transfer sekitar Rp2,5 triliun tersebut tampil rapi, namun belum memberikan dampak signifikan.

Opini Redaksi

Kritik Jamie Carragher sangat beralasan karena investasi besar sebesar Rp6,4 triliun untuk pemain seperti Wirtz, Isak, dan Ekitike seharusnya memberikan dampak instan, bukan sekadar statistik penguasaan bola 26 persen.

Pemain bintang tidak boleh hanya mahir saat memegang bola, tetapi wajib memiliki etos kerja tinggi saat bertahan, terutama dalam laga tandang di Paris. Jika pemain baru gagal menunjukkan gairah bertarung, maka mentalitas juara yang selama ini dibangun di Liverpool akan runtuh dengan cepat.

Eksperimen Arne Slot dengan formasi lima bek adalah kegagalan taktik yang fatal karena justru mengekspos penurunan fisik Virgil van Dijk yang sudah tidak muda lagi. Memaksa bek tengah bermain satu lawan satu di area luas melawan pemain sekelas Kvaratskhelia adalah tindakan bunuh diri.

Liverpool saat ini berada dalam masa transisi yang berbahaya; pemain senior mulai habis bensin, sementara para rekrutan mahal masih bermain terlalu “rapi” tanpa kontribusi nyata yang sepadan dengan harganya.