Nama besar Sir Alex Ferguson kembali jadi bahan perbincangan panas usai final Liga Champions. Bukan karena analisis teknis, melainkan sebuah pesan singkat yang disebut-sebut mengarah langsung ke Arsenal.
Dalam laporan media Prancis, Ferguson mengirimkan pesan kepada presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, setelah laga final yang berlangsung di Puskás Arena. Isi pesannya cukup tajam: ia menilai Arsenal tampil “boring” atau membosankan.
Final sendiri berjalan penuh drama. Arsenal sempat membuka harapan lewat gol cepat Kai Havertz di menit ke-6, membuat laga langsung terasa condong ke arah mereka. Tapi PSG, sang juara bertahan, pelan-pelan bangkit.
Gol penyeimbang datang lewat titik putih yang dieksekusi Ousmane Dembélé. Setelah itu, pertandingan berubah jadi adu mental panjang sampai babak adu penalti.
Dua eksekusi Arsenal, termasuk dari Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães, gagal berbuah gol. PSG pun mengunci kemenangan dan mempertahankan gelar Liga Champions mereka di bawah arahan Luis Enrique.
Usai laga, pelatih Arsenal Mikel Arteta terlihat frustrasi. Namun ia tetap memberi kredit penuh kepada PSG, bahkan menyebut mereka sebagai “tim terbaik di dunia” dalam konferensi pers.
Arteta juga menyinggung soal kebutuhan timnya untuk berkembang lebih jauh, terutama dalam hal keberanian mengambil keputusan besar jika ingin naik level di Eropa.
Di sisi lain, kritik terhadap Arsenal kembali mencuat. Salah satunya datang dari statistik yang menyebut mereka hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran sepanjang laga, dengan penguasaan bola hanya sekitar 25 persen.
Laporan dari media Prancis, L’Équipe, kemudian memunculkan cerita yang paling ramai dibicarakan: Ferguson disebut mengirim pesan kepada Al-Khelaifi yang berisi sindiran langsung ke Arsenal.
“Nasser, ini Alex Ferguson. Sangat bagus, malam yang hebat untukmu, tapi kamu main melawan tim paling membosankan yang hanya bisa bertahan,” demikian isi pesan yang dikutip laporan tersebut.
Kalimat itu langsung jadi bahan diskusi besar di Eropa. Apalagi datang dari sosok sekelas Ferguson yang selama ini dikenal sangat berpengaruh di dunia sepak bola Inggris.
Momen Selebrasi di London
Meski kalah di final, Arsenal tetap melanjutkan agenda mereka di dalam negeri. Parade juara Premier League tetap digelar di London utara.
Ratusan ribu suporter turun ke jalan di area Islington, Highbury, dan Canonbury. Rute selebrasi sejauh sekitar 5,6 mil atau kurang lebih 9 kilometer itu dimulai pukul 14.00 waktu setempat, yang setara dengan sekitar 20.00 WIB.
Arus massa bahkan sempat mengganggu layanan London Underground dan London Overground di beberapa titik sekitar pusat kota.
Statistik Final Liga Champions
| Statistik Pertandingan | Arsenal | PSG |
|---|---|---|
| Gol (Normal/ET) | 1 | 1 |
| Penguasaan Bola | 42% | 58% |
| Total Tembakan | 11 | 21 |
| Tembakan Tepat (On Target) | 4 | 8 |
| Tembakan Melenceng | 4 | 9 |
| Tembakan Diblok | 3 | 4 |
| Akurasi Operan | 81% | 88% |
| Tendangan Sudut | 5 | 9 |
| Pelanggaran | 14 | 11 |
| Offside | 2 | 1 |
| Kartu Kuning | 3 | 2 |
| Kartu Merah | 0 | 0 |
Opini Gilabola.com
Komentar Ferguson, kalau benar adanya, jelas menambah panas narasi final ini. Tapi di level ini, satu pesan singkat bisa berubah jadi bahan bakar opini publik yang jauh lebih besar dari sekadar isi kalimatnya.
Arsenal sekarang bukan cuma menghadapi kekalahan, tapi juga persepsi tentang cara mereka bermain di panggung terbesar.

