Gilabola.com – Mikel Arteta dan skuad Arsenal telah menyaksikan bagaimana Paris Saint-Germain menghancurkan Bayern Munchen dengan perasaan yang tidak asing. Mereka pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
Cara PSG mengalahkan Bayern pada semifinal Liga Champions hampir sama seperti saat mereka menundukkan Arsenal musim lalu. Dalam laga tandang tersebut, wakil Prancis langsung tampil agresif sejak awal dan membuka keunggulan cepat lewat Ousmane Dembele.
Pada musim itu, PSG mampu mengatasi perlawanan The Gunners sebelum akhirnya menjuarai Liga Champions. Kini, Arteta harus mencari cara agar kisah tersebut tidak terulang lagi.
Jika Arsenal menunjukkan mental luar biasa ketika menyingkirkan Atletico Madrid, maka pasukan Luis Enrique justru memberikan pernyataan tegas lewat kemenangan atas Bayern. Bermain di markas lawan yang juga menjadi stadion tempat mereka mengangkat trofi musim lalu, Les Parisiens tampil sangat dominan.
Mereka langsung mencetak gol lewat serangan pertama pertandingan. Proses gol dari sisi kiri terlihat begitu rapi dan terorganisir, seolah sudah dirancang dengan detail sejak latihan.
Namun bukan hanya lini serang yang membuat PSG menakutkan. Penampilan mereka secara keseluruhan nyaris tanpa kesalahan.
Di depan, mereka memiliki peraih Ballon d’Or Ousmane Dembele yang tampil luar biasa. Pada pertandingan itu, penyerang asal Prancis tersebut memperlihatkan kualitas yang dibutuhkan untuk meraih penghargaan individu paling prestisius di dunia sepak bola. Selain itu, Khvicha Kvaratskhelia dan Desire Doue juga tampil jauh lebih matang dibanding musim lalu.
Meski demikian, lini tengah tetap menjadi kekuatan utama mereka. Fabian Ruiz tampil impresif dalam perebutan bola, sementara Joao Neves menjadi salah satu pemain dengan jumlah tekel terbanyak untuk timnya.
Di sisi lain, Vitinha memperlihatkan kreativitasnya dengan menciptakan peluang terbanyak bagi rekan setimnya. Kombinasi permainan keras dan kreativitas membuat sektor tengah PSG terlihat sangat seimbang.
Kedewasaan permainan mereka juga terlihat jelas saat tampil di kandang Bayern yang terkenal sulit ditaklukkan. PSG sebenarnya datang dengan komposisi yang sedikit berubah setelah Warren Zaire-Emery dimainkan sebagai bek kanan menggantikan Achraf Hakimi yang cedera.
Walau sempat kesulitan di awal pertandingan, pemain berusia 20 tahun itu mampu beradaptasi dengan cepat dan akhirnya mencatat akurasi umpan terbaik di timnya.
Nuno Mendes juga tampil solid meski sudah menerima kartu kuning sejak awal laga. Banyak yang memperkirakan ia akan kesulitan menghadapi Michael Olise, tetapi kenyataannya berbeda. Bek kiri tersebut sukses memenangkan banyak duel dan membuat Olise frustrasi sepanjang pertandingan.
Penampilan matang itu semakin lengkap berkat duet Marquinhos dan Willian Pacho yang berhasil meredam Harry Kane hampir sepanjang laga. Gol yang dicetak Bayern melalui Kane bahkan dianggap tidak pantas menggambarkan jalannya pertandingan.
Salah satu pemain yang paling menonjol adalah Khvicha Kvaratskhelia. Winger asal Georgia itu memperlihatkan kualitasnya sebagai salah satu pemain sayap terbaik dunia saat ini.
Pergerakannya terus merepotkan pertahanan lawan. Ia berhasil melewati seluruh percobaan dribel yang dilakukannya dan turut menciptakan gol penting yang memastikan langkah PSG ke final.
Bukan hanya menyerang, kontribusi bertahannya juga sangat terlihat. Ia menjadi salah satu pemain dengan jumlah duel terbanyak yang dimenangkan serta aktif membantu merebut bola kembali.
Pemain yang sempat dikaitkan dengan Arsenal itu jelas sudah sangat dikenal oleh Arteta. Namun menghentikannya bukan tugas mudah.
Sejauh ini, PSG sudah mencetak 44 gol di Liga Champions musim ini, hanya terpaut satu gol dari rekor kompetisi yang pernah dibuat Barcelona pada tahun 2000. Lini depan mereka sedang berada dalam performa terbaik.
Meski begitu, Arsenal tetap memiliki alasan untuk percaya diri menghadapi final nanti.
The Gunners menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan di Liga Champions musim ini. Selain itu, lini pertahanan mereka juga tampil sangat kokoh dengan sembilan clean sheet dari 14 pertandingan.
Musim lalu, salah satu faktor penting keberhasilan PSG menyingkirkan Arsenal adalah Gianluigi Donnarumma. Namun kini penjaga gawang asal Italia itu sudah tidak lagi berada di klub tersebut setelah pindah ke Manchester City.
Banyak pihak merasa Arsenal sebenarnya bisa lolos apabila menghadapi kiper berbeda pada saat itu. Final nanti akan menjadi kesempatan untuk membuktikan anggapan tersebut.
Pada akhirnya, final di Budapest pada 31 Mei WIB akan mempertemukan lini serang terbaik di Eropa melawan salah satu pertahanan paling solid musim ini.
Pertandingan tersebut terasa menjadi penutup yang sempurna untuk musim yang penuh perdebatan soal mana yang lebih penting dalam sepak bola modern, permainan indah atau efektivitas.

