Inter Milan Tersingkir dari Liga Champions, Kalah Lagi di Leg Kedua Playoff Lawan Skuad Superlaget

Hasil pertandingan antara Inter Milan vs Bodo/Glimt di leg kedua playoff Liga Champions 2025/26 berakhir dengan skor 1-2 dan agregat 2-5, hasil memastikan Nerazzurri tersingkir dan mengakhiri perjalanan mereka di kompetisi Eropa.

Sejak awal, situasi memang tidak menguntungkan bagi Inter. Kekalahan di leg pertama bukan hanya merugikan secara skor, tetapi juga memakan korban. Lautaro Martinez mengalami cedera otot soleus saat bermain di lapangan sintetis dan dipastikan absen selama satu bulan. Hakan Calhanoglu juga tidak tersedia. Denzel Dumfries baru kembali ke bangku cadangan untuk pertama kalinya sejak 9 November setelah operasi pergelangan kaki, sementara Davide Frattesi dipilih sebagai starter menggantikan Henrikh Mkhitaryan.

Di sisi lain, Bodo/Glimt datang dengan skuad penuh setelah menjalani pemusatan latihan di Spanyol. Klub Norwegia itu bahkan belum memainkan laga domestik sejak 26 September dan sepenuhnya fokus pada kompetisi Eropa hingga liga mereka kembali bergulir pada 6 Maret.

Dominasi Awal yang Tak Berbuah Gol

Inter memulai pertandingan dengan agresif. Francesco Pio Esposito menyundul umpan silang Federico Dimarco pada menit ketiga, tetapi bola melayang tipis di atas mistar. Tak lama berselang, tendangan melengkung Dimarco dari situasi sepak pojok ditepis akrobatik oleh Nikita Haikin tepat di bawah mistar.

Marcus Thuram juga beberapa kali mengancam. Penyerang asal Prancis itu menusuk dari kiri dan melepaskan sepakan kaki kanan yang dibelokkan tipis oleh Odin Bjortuft hingga melintas beberapa sentimeter dari sudut atas gawang.

Frattesi nyaris membuka skor lewat sundulan jarak dekat yang kembali digagalkan Haikin. Esposito dan Alessandro Bastoni pun memiliki peluang serupa, tetapi penyelesaian akhir tak kunjung menemui sasaran. Piotr Zielinski mencoba peruntungan dari luar kotak penalti setelah melewati Hakon Evjen, namun bola melenceng. Yann Sommer sempat dipaksa bekerja ketika Evjen mendapat ruang untuk menyundul.

Babak pertama memperlihatkan Inter lebih dominan dalam kreasi peluang, tetapi efektivitas menjadi pembeda yang belum berpihak pada mereka.

Kesalahan Berujung Malapetaka!

Memasuki babak kedua, Inter tetap berusaha menekan. Tendangan bebas Dimarco mengarah tepat ke Haikin, sedangkan Frattesi melepaskan sepakan akrobatik yang diblok sebelum Thuram menyambar bola liar.

Momentum pertandingan berubah setelah Manuel Akanji, yang sebelumnya sempat mendapat perawatan akibat luka di alis, kehilangan bola di tepi kotak penalti sendiri. Ole Didrik Blomberg memanfaatkannya untuk memaksa Sommer melakukan penyelamatan penting, namun Jens-Petter Hauge sigap menyambar bola muntah pada menit ke-58. Gol itu membuat agregat makin menjauh.

Inter mencoba membalas. Sundulan Akanji dari situasi sepak pojok sempat ditepis dan dibersihkan tepat di garis gawang oleh Berg. Pada situasi serupa berikutnya, bola hasil penyelesaian Akanji membentur tiang dan memantul di tengah kerumunan pemain, tetapi Thuram gagal memaksimalkan peluang lanjutan.

Alih-alih memperkecil ketertinggalan, Inter kembali kebobolan pada menit ke-72. Hauge mengirim umpan silang dari kanan yang dikontrol dengan sentuhan pertama sempurna oleh Evjen sebelum melepaskan sepakan kaki kanan ke sudut bawah jauh. Agregat menjadi 5-1 untuk tim tamu.

Inter akhirnya mencetak gol hiburan pada menit ke-77 melalui situasi sepak pojok yang kacau. Haikin berusaha mengamankan sundulan Bastoni, tetapi bola sudah sepenuhnya melewati garis gawang.

Dumfries masuk dalam sembilan menit terakhir, menandai penampilan perdananya sejak November. Namun, perubahan itu tak mengubah hasil akhir.

Dampak Eliminasi bagi Inter

Tersingkirnya Inter di babak play-off mengakhiri ambisi mereka di Liga Champions musim ini lebih cepat dari harapan. Dua kekalahan dari Bodo/Glimt menunjukkan bahwa dominasi penguasaan bola dan jumlah peluang tidak cukup tanpa ketajaman serta konsentrasi penuh di area krusial.

Kekalahan agregat 2-5 menjadi catatan pahit, terlebih karena Inter sebenarnya mampu menciptakan sejumlah peluang bersih di kedua leg. Namun efektivitas dan kesalahan individu menjadi faktor yang menentukan. Bagi Bodo/Glimt, kemenangan kandang dan tandang menegaskan konsistensi mereka di fase ini.

Inter kini harus mengalihkan fokus ke kompetisi domestik, sementara musim Eropa mereka resmi berakhir.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!