Jose Mourinho Balas Kritik Usai Timnya Singkirkan Real Madrid di Liga Champions

Gilabola.com – Kemenangan dramatis Benfica atas Real Madrid di Liga Champions tidak hanya bernilai tripoin dan euforia kelolosan ke babak play-off 16 besar. Bagi Jose Mourinho, hasil ini jadi panggung untuk membalas kritikan yang kerap diarahkan kepadanya.

Benfica secara mengejutkan berhasil mengalahkan Real Madrid dengan skor 4-2 di Estadio da Luz, Kamis (29/1)) WIB. Hasil itu memastikan langkah mereka ke babak play-off 16 besar sekaligus menghadirkan salah satu malam paling diingat di Liga Champions musim ini.

Pertandingan sempat terlihat akan berjalan sesuai skenario Real Madrid usai Kylian Mbappe membuka keunggulan pada menit ke-30. Tapi laga berubah drastis ketika Benfica merespons dengan agresivitas tinggi dan keberanian menekan garis pertahanan lawan.

Dua gol Andreas Schjelderup dan satu gol Vangelis Pavlidis membawa Benfica berbalik unggul 3-1. Real Madrid sempat memperkecil skor lewat gol kedua Mbappe, tetapi situasi semakin sulit bagi tim tamu setelah kehilangan kendali emosi di menit-menit akhir.

Dua kartu merah yang diterima Raul Asencio dan Rodrygo memperburuk keadaan tim Alvaro Arbeloa. Kehilangan disiplin dan ketenangan ini membuka ruang bagi Benfica untuk mengambil risiko terakhir yang kemudian menjadi penentu hasil pertandingan.

Momen paling ikonik terjadi pada menit ke-98, ketika kiper Anatoliy Trubin maju ke kotak penalti di situasi sepak pojok dan sukses mencetak gol keempat Benfica, gol yang memastikan langkah mereka ke babak play-off 16 besar.

Sindiran Mourinho dan Pesan soal Rasa Hormat

Berbicara usai pertandingan, Jose Mourinho tidak melewatkan kesempatan untuk merespons kritik yang selama ini diarahkan kepadanya di Benfica. Dia menegaskan bahwa yang dia harapkan bukan pujian berlebihan, tapi rasa hormat yang proporsional.

Dia menyinggung keras reaksi sebagian pengkritik yang dinilainya terlalu ekstrem dalam menilai performa tim. Bagi Mourinho, kemenangan ini bukan tentang membungkam kritik, tapi juga pengingat bahwa proses dan konteks tidak bisa diabaikan begitu saja.

Mourinho juga menekankan bahwa karakter timnya tidak berubah sejak hari pertama dia bekerja. Dia menggambarkan skuad Benfica sebagai kelompok pemain yang bersatu, mau bekerja keras, dan tidak menyerah meski berada dalam tekanan besar.

Di fase grup, Benfica harus menghadapi lawan-lawan berat seperti Napoli, Real Madrid, dan Juventus. Kondisi itu membuat peluang mereka sempat dipandang tipis, tapi Mourinho melihat respons mental para pemain sebagai fondasi utama keberhasilan ini.

Secara taktis, keputusan Mourinho di menit-menit akhir menunjukkan keberanian membaca situasi. Saat menyadari bahwa keunggulan 3-2 belum cukup karena perhitungan selisih gol, dia menginstruksikan Nicolas Otamendi untuk maju ke lini depan.

Keputusan mengirim Trubin maju saat tendangan bebas di masa injury time juga bukan tindakan spontan. Mourinho mengungkapkan bahwa kiper Ukraina itu memang memiliki kemampuan dan keberanian untuk memanfaatkan situasi bola mati.

Opini Gilabola

Bagi Jose Mourinho, malam di Lisbon ini adalah pengingat bahwa pendekatan pragmatis yang sering dikritik para pengkritik yang hanya bisa mengkritik bahwa taktik pragmatis itu masih relevan ketika dipadukan dengan disiplin dan mentalitas bertarung.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!

SebelumnyaNapoli Tersingkir dari Liga Champions, Antonio Conte Murka Soal Jadwal
Hadi Bashori adalah seorang jurnalis olahraga yang sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun, berpengalaman menulis di berbagai media cetak nasional dan regional, selain menjadi jurnalis tetap di Gilabola. Memiliki minat yang besar dalam dunia olahraga, dan selalu bersemangat dalam menulis informasi aktual dan menarik. Karyanya selalu ditunggu oleh para penggemarnya di Indonesia. Dengan pengalaman dan keahliannya dalam mengajar dan menulis sebagai pengajar dan jurnalis, Hadi Bashori merupakan sosok yang inspiratif dan berpengaruh bagi banyak orang.