Liverpool Berpeluang Ciptakan Patah Hati Terbesar di Liga Champions

Liverpool Berpeluang Ciptakan Patah Hati Terbesar di Liga Champions

Liverpool berpeluang ciptakan patah hati terbesar di Liga Champions pada laga pekan depan, 11 Desember 2019, di Red Bull Arena.

Stadion di Austria tersebut akan menjadi tuan rumah laga RB Salzburg vs Liverpool pada matchday keenam Liga Champions Grup E. Liverpool harus menjaga gawangnya jangan sampai kebobolan, apalagi pada menit-menit terakhir, guna menghindari terjadinya patah hati terbesar musim ini.

Liverpool ditahan imbang 1-1 oleh Napoli pada matchday kelima di Anfield tanggal 28 November lalu. Hasil itu menjadikan para pemain The Reds kecewa, suporter kecewa dan Juergen Klopp juga kecewa. Sebuah kemenangan seharusnya bisa segera memastikan kelolosan mereka ke babak 16 besar Liga Champions. Tapi skor sama kuat 1-1 menyebabkan mereka harus berjuang sampai matchday terakhir di kandang Salzburg.

Jika Anda masih ingat maka Red Bull berhasil menceploskan tiga gol saat kedua tim bertemu 3 Oktober lalu di Anfield. Pada pertandingan itu seolah-olah The Reds akan menang dengan mudah setelah gol-gol oleh Sadio Mane, Andy Robertson dan Mohamed Salah membawa tuan rumah unggul 3-0 hanya dalam waktu 36 menit. Tapi kemudian Hee-Chan Hwang, Takumi Minamino dan Erling Haaland berhasil membuat skor sama kuat 3-3 saat pertandingan di Anfield itu masih tersisa 30 menit.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77

Dan The Reds butuh gol pada menit-menit akhir dari Mohamed Salah untuk memastikan kemenangan 4-3. Bukan main! Membalikkan ketertinggalan 3-0 menjadi 3-3 bukan hal yang mudah. Apalagi melakukan hal itu di kandang lawan. Sedangkan Salzburg bisa melakoninya di Anfield, hal apa yang bisa terjadi di Red Bull Arena di Austria pada 11 Desember nanti?

Liverpool masih memimpin puncak Grup E dengan 10 poin. Tapi mereka dalam jangkauan Napoli dan Salzburg yang menduduki posisi kedua dan ketiga dengan perolehan sembilan dan tujuh poin masing-masing. Dengan Napoli menjamu tim terlemah Genk, anak asuh Carlo Ancelotti itu diharapkan akan meraih tiga poin atau total 12 poin setelah matchday keenam.

Liverpool cukup main imbang dalam matchday keenam di kandang Red Bull Salzburg guna mengamankan kelolosan ke babak 16 besar Liga Champions. Masalahnya adalah, The Reds selalu kebobolan dalam 12 laga terkininya di semua kompetisi. Pertandingan terakhir di mana mereka berhasil menjaga clean sheet adalah di kandang Sheffield United tanggal 28 September lalu dan di kandang MK Dons pada ajang Piala Liga babak ketiga 26 September.

Carlo Ancelotti selaku pelatih kawakan mengetahui betul cara menaklukkan The Reds yang suka bermain jauh ke depan di setengah lapangan lawan, menginstruksikan anak buahnya untuk memanfaatkan ruang kosong yang sangat lebar antara pemain outfield terakhir dan kiper Alisson Becker. Napoli berhasil unggul lebih dulu sebelum disamakan 1-1. Video pertandingan itu akan disimak baik-baik oleh pelatih Salzburg, Jesse Marsch.

Kombinasi dari mentalitas anggap remeh yang suka menjangkiti anak-anak Juergen Klopp, plus strategi bermain yang mengejar bola jauh di setengah lapangan lawan akan menjadi bencana kekalahan di kandang RB Salzburg tengah pekan depan. Jika itu terjadi maka inilah patah hati terbesar di Liga Champions musim ini.

Jika hal itu terjadi maka Liverpool akan mengikuti jejak Chelsea, menjadi juara bertahan Champions League yang terdegradasi ke Liga Europa. Pada musim 2011/2012 mereka meraih trofi kuping besar setelah mengalahkan Bayern Munchen melalui adu penalti 4-3. Tapi pada musim 2012/2013 mereka hanya menduduki urutan ketiga penyisihan grup dan terlempar ke babak 32 besar Liga Europa, meski akhirnya menjadi juara kompetisi kasta kedua Eropa itu setelah mengahalkan Benfica 2-1 di partai final.