
Pelatih Newcastle United, Eddie Howe, menantang para pemainnya untuk menampilkan performa terbaik dalam hidup mereka saat menghadapi Barcelona pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (11/3) dinihari pukul 03.00 WIB.
Howe menyebut pertandingan tersebut sebagai salah satu laga terbesar dalam sejarah klub, karena Newcastle berpeluang menorehkan babak baru dalam perjalanan mereka di kompetisi elite Eropa.
Newcastle hanya untuk kedua kalinya tampil di babak 16 besar Liga Champions, ketika pemuncak klasemen La Liga Barcelona datang bertandang ke St James’ Park dalam duel yang sangat dinanti.
Ini juga menjadi momen langka bagi The Magpies. Untuk pertama kalinya sejak musim 2002/2003, saat mereka mencapai fase grup kedua, Newcastle kembali menjadi bagian dari 16 tim terbaik di Liga Champions.
Ujian Berat Hadapi Barcelona
Sebelum mencapai tahap ini, Newcastle berhasil melewati tim Azerbaijan, Qarabag, di babak play-off. Namun Howe menyadari bahwa menghadapi Barcelona merupakan tantangan yang jauh lebih berat.
Tim asuhan Hansi Flick datang dengan skuad penuh bintang, sehingga Newcastle harus meningkatkan kualitas permainan mereka secara signifikan jika ingin membuat kejutan.
“Kami belum pernah berada di posisi ini sebelumnya di Liga Champions. Ini adalah kompetisi terbaik yang ada, jadi jelas ini pertandingan yang sangat besar dalam sejarah kami,” kata Howe.
Ia juga menekankan pentingnya atmosfer stadion dan dukungan dari para suporter.
“Kami harus mendekatinya dengan mentalitas seperti itu, dan para pendukung juga harus memandangnya dengan cara yang sama,” tambahnya.
Kenangan Manis Newcastle Melawan Barca
Newcastle memiliki kenangan bersejarah ketika menghadapi Barcelona di Liga Champions pada 1997. Saat itu, mereka menang 3-2 berkat hat-trick Faustino Asprilla dalam pertemuan pertama kedua klub.
Kemenangan tersebut menjadi simbol masa kejayaan singkat Newcastle sebagai salah satu tim paling menghibur di Premier League pada era tersebut.
Namun setelah masa itu, Newcastle mengalami periode panjang yang sulit. Klub sempat terpuruk selama bertahun-tahun di bawah kepemilikan Mike Ashley, bahkan mengalami dua kali degradasi ke divisi kedua pada 2009 dan 2016.
Kebangkitan Era Kepemilikan Baru
Situasi mulai berubah sejak konsorsium Saudi mengambil alih klub pada 2021. Sejak saat itu, Newcastle perlahan bangkit dan kembali menjadi kekuatan yang disegani.
Kunjungan Barcelona ke St James’ Park menjadi malam glamor yang sudah lama diimpikan oleh para pendukung setia mereka, yang dikenal sebagai Toon Army.
Musim lalu, Newcastle bahkan mengakhiri puasa trofi selama 56 tahun setelah mengalahkan Liverpool di final Piala Liga.
Kini mereka berharap dapat melangkah lebih jauh dengan mencapai perempat final Liga Champions untuk pertama kalinya.
Musim yang Tidak Mudah bagi Newcastle
Meski begitu, perjalanan Newcastle musim ini tidak sepenuhnya mulus. Di Premier League, mereka masih tertahan di posisi ke-12, sementara di ajang FA Cup mereka tersingkir di babak kelima setelah kalah dari Manchester City.
Kritik juga sempat datang dari suporter ketika Newcastle kalah 2-3 dari Brentford di St James’ Park awal musim ini.
Howe juga harus menghadapi kenyataan bahwa aturan keuangan membuat klub tidak bisa memanfaatkan sepenuhnya kekayaan pemilik baru mereka.
Penjualan Alexander Isak ke Liverpool pada September lalu turut memengaruhi performa tim, yang tidak lagi seimpresif musim sebelumnya ketika mereka meraih trofi dan lolos ke Liga Champions.
Jadwal Padat Yang Menguras Tenaga
Jadwal yang sangat padat juga menjadi masalah serius bagi Newcastle. Laga melawan Manchester City pada akhir pekan lalu merupakan pertandingan ke-47 mereka musim ini dan yang ke-19 dalam rentang hanya 63 hari.
Situasi tersebut membuat skuad Newcastle kelelahan, terlebih dengan sejumlah pemain yang masih dibekap cedera.
Howe mencoba mengatasi kondisi tersebut dengan merotasi beberapa pemain seperti Dan Burn, Joelinton, dan Anthony Gordon pada pertandingan melawan Manchester City agar mereka lebih segar menghadapi Barcelona.
Namun ia mengakui kedalaman skuad saat ini masih menjadi kendala.
“Saat ini kami tidak memiliki kekuatan untuk membuat terlalu banyak perubahan tanpa menurunkan kualitas permainan,” ujar Howe.
“Kami harus menemukan energi dari suatu tempat untuk meningkatkan performa ke level yang belum pernah kami tunjukkan musim ini. Saya pikir itu satu-satunya cara agar kami bisa lolos.”
Dukungan Fan Jadi Energi Tambahan
Terlepas dari berbagai kesulitan, Newcastle mencatat pencapaian positif di Liga Champions musim ini. Mereka telah meraih enam kemenangan dalam satu kampanye, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Kesuksesan tersebut membuat para suporter Newcastle semakin percaya diri dan sering menyanyikan chant terkenal:
“Is this the way to Barcelona? Bayern Munich? Lazio? Roma? Geordie boys are taking over, Champions League awaits for me!”
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa tugas Newcastle tidak akan mudah. Sejak kemenangan pada 1997, mereka selalu kalah dalam empat pertemuan terakhir melawan Barcelona, termasuk kekalahan 1-2 di kandang sendiri pada fase grup musim ini.
Karena itu, Newcastle harus benar-benar melampaui ekspektasi jika ingin menyingkirkan raksasa Spanyol tersebut dan memberi para pendukung mereka lebih banyak malam magis di Eropa.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!