
Cemoohan terhadap Vinícius Júnior menjadi salah satu warna paling mencolok saat Real Madrid menjamu Benfica pada leg kedua playoff Liga Champions, Kamis (26/2) dinihari di Stadion Santiago Bernabeu. Penyerang asal Brasil itu menjadi sasaran siulan ribuan pendukung tim tamu menyusul tuduhan rasisme yang ia layangkan pada pertemuan pertama di Lisbon pekan lalu.
Lebih dari 3.000 suporter Benfica yang hadir di Bernabeu bereaksi keras hampir setiap kali Vinícius menyentuh bola. Sorakan terdengar sejak namanya diumumkan dalam susunan pemain inti sebelum kick-off. Bahkan ketika ia kehilangan kontrol bola di awal pertandingan, tribune tamu menyambutnya dengan sorak sorai.
Intensitas cemoohan itu perlahan mereda seiring jalannya laga. Hingga 30 menit pertama, saat skor masih imbang 1-1. Vinícius sempat terlibat dalam proses terciptanya gol kedua Madrid, namun gol tersebut dianulir karena offside.
Pada akhirnya Real Madrid berhasil menang dengan skor 2-1 dan agregat 3-1 dan berhak lolos ke babak 16 besar Liga Champions 2026.
Imbas Insiden di Lisbon
Fokus terhadap Vinícius tidak lepas dari peristiwa pada leg pertama di Stadion da Luz. Saat itu, ia menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan pelecehan rasial setelah dirinya mencetak gol kemenangan 1-0 dan merayakannya di dekat bendera sudut tuan rumah.
Prestianni membantah tuduhan tersebut dan mendapat dukungan dari klubnya. Meski demikian, UEFA menjatuhkan skorsing sementara satu pertandingan kepada pemain asal Argentina itu. Banding yang diajukan Benfica pada Rabu sebelumnya ditolak, sehingga Prestianni tidak tampil di Bernabeu meski ikut terbang ke ibu kota Spanyol.
Pertandingan di Lisbon sempat dihentikan hampir 10 menit setelah wasit menerapkan protokol anti rasisme menyusul laporan dari Vinícius. Seusai laga tersebut, beberapa suporter Benfica terlihat melakukan gestur monyet dari tribun.
Balasan Real Madrid di Bernabeu
Di tengah atmosfer panas itu, Real Madrid menunjukkan dukungan terbuka kepada pemainnya. Sebelum laga dimulai, suporter tuan rumah membentangkan spanduk bertuliskan “No To Racism”. Spanduk “Respect” juga dipasang di belakang salah satu gawang di Bernabeu.
Ketegangan juga terasa setiap kali bek tengah Benfica, Nicolás Otamendi, menyentuh bola. Bek asal Argentina itu sempat terlibat konfrontasi dengan Vinícius setelah selebrasi sang penyerang di leg pertama.
Dari kubu tamu, pelatih José Mourinho tidak mendampingi tim di pinggir lapangan. Mantan pelatih Madrid itu menerima kartu merah pada leg pertama karena memprotes wasit. Ia tidak menghadiri konferensi pers prapertandingan dan diperkirakan menyaksikan laga dari tribun.
Implikasi bagi Laga dan Kompetisi
Situasi ini membuat duel Real Madrid kontra wakil Portugal tersebut tidak hanya berbicara soal hasil di atas lapangan, tetapi juga mengenai respons terhadap isu rasisme di kompetisi Eropa. Dengan sorotan tertuju pada Vinícius dan keputusan disipliner UEFA terhadap Prestianni, pertandingan ini menjadi panggung lanjutan dari polemik yang bermula di Lisbon.
Di tengah tekanan dan atmosfer yang tidak bersahabat dari tribune tamu, Real Madrid memilih mempertegas sikapnya secara terbuka. Sikap itu sekaligus menempatkan isu anti rasisme sebagai bagian tak terpisahkan dari narasi pertandingan, melampaui sekadar persaingan untuk lolos ke fase berikutnya.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!