Belgia, Semifinalis Piala Dunia 2018, Alami Perpecahan di Ruang Ganti

Belgia bergulat dengan masalah bahasa di ruang ganti dan di atas lapangan karena memiliki tiga bahasa berbeda di negerinya.
Belgia bergulat dengan masalah bahasa di ruang ganti dan di atas lapangan karena memiliki tiga bahasa berbeda di negerinya.

Gilabola.com – Indonesia beruntung punya satu bahasa nasional. Belgia, semifinalis Piala Dunia 2018 mengalami perpecahan di ruang ganti karena ada tiga bahasa di negeri itu. Lalu bagaimana caranya mereka berkomunikasi di atas lapangan?

Indonesia beruntung memiliki satu bahasa nasional yang dipahami dan dipakai berkomunikasi semua bagian masyarakat, termasuk di sudut-sudut negeri. Ada contoh kasus dua negara di Piala Dunia 2018 yang tak bisa begitu karena rakyatnya multi bahasa: Belgia dan Swiss.

Belgia sebelah utara berbicara sehari-hari dalam bahasa Belanda, salah satu contohnya adalah gelandang berbakat, Kevin de Bruyne. Pemain Belgia dari wilayah selatan, yang lebih dekat dengan perbatasan Prancis, berbicara dalam bahasa Prancis. Contohnya Eden Hazard. Jika de Buryne ngomong Belanda, Hazard gak mengerti. Begitu juga sebaliknya. Jadi bagaimana cara mereka berkomunikasi di atas lapangan? Bahasa Inggris.

Sumber BBC mengatakan, para pemain Belgia tidak berbicara bahasa Belanda atau Prancis tetapi bahasa Inggris di ruang ganti, untuk menghindari munculnya persepsi mendukung salah satu bahasa. Mereka juga berbicara bahasa Inggris di lapangan, dan hal ini mengejutkan banyak wartawan Inggris selama pertandingan terakhir grup melawan The Three Lions di Grup G.

Advertisement
advertisement
advertisement
Ratu Casino 77
Ratu Casino 77

Mayoritas orang Belgia adalah penutur bahasa Belanda yang tinggal di Flemish di utara. Sebagian besar sisanya berbahasa Prancis, dan ada komunitas kecil yang berbahasa Jerman di sisi timur negeri itu.

Masalah bahasa dalam tim sepak bola Belgia ini sudah pernah muncul sebelumnya. Dalam sebuah jumpa pers tahun 2014, bek Thomas Vermaelen dan Axel Witsel berbicara dalam bahasa yang berbeda, Vermaelen ngomong Belanda dan Witsel dalam bahasa Prancis.

Seorang juru bicara Asosiasi Sepakbola Belgia mengatakan kepada New York Times bahwa mereka “mengatur wawancara secara terpisah bagi penutur bahasa Perancis dan Flemish”.

Di banyak negara, ini mungkin dianggap aneh, tetapi di Belgia, rakyat terbagi dua menurut garis bahasa, mulai dari partai politik hingga sekolah, majalah, dan surat kabar.

Negara ini juga memiliki sejumlah besar migran yang sama sekali tidak berbicara bahasa Belanda atau Prancis sebagai bahasa asli, dan bahasa Inggris dapat digunakan untuk mengintegrasikan mereka juga.

Faktanya, keragaman etnis dari tim ini, dengan beberapa pemain berasal dari keluarga migran, memberi mereka campuran bahasa yang menarik, dan berbagai kemampuan linguistik.

Striker kelahiran Antwerp, Romelu Lukaku, terkenal karena kefasihannya dalam enam – Belanda, Prancis, Inggris, Spanyol, Portugis dan Swahili. Kapten tim Vincent Kompany berbicara lima bahasa. Tetapi beberapa pemain berbahasa Prancis, misalnya Eden Hazard, adalah monolingual. Mereka bahkan tidak bisa berbahasa Belanda.

Marouane Fellaini yang hanya bisa ngomong Prancis dan sekarang merumput di Manchester United, pernah dideskripsikan oleh komentator ITV, Phil Neville, sebagai seorang penutur bahasa Inggris terburuk yang pernah dia temui.

Tetapi meskipun hampir semua pemain memahami bahasa Prancis, “Bahasa Inggris sering dianggap sebagai ‘jalan tengah yang aman'”, kata seorang wartawan BBC Belgia yang berbahasa Belanda, Suzanne Vanhooymissen.

“Dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa umum, organisasi, dan tim nasional Belgia, tidak dapat dituduh mendukung Belanda atau Prancis di atas yang lain dan membuka luka soal perpecahan linguistik yang mendidih.”

Swiss adalah negara multibahasa lain yang bermain di turnamen tahun ini. Mereka mengakui empat bahasa sekaligus: Jerman, Prancis, Italia, dan Rumania. Ramon Vega bermain untuk tim nasional Swiss antara 1993 dan 2001.

Dia mengatakan, masalah bahasa telah terbukti memecah belah para pemain: “Mereka yang berbahasa Jerman duduk sendiri. Begitu juga pemain penutur Perancis dan Italia. Semua duduk di meja terpisah untuk makan siang dan makan malam.”

“Roy Hodgson (mantan pelatih Swiss) memberi briefing dalam bahasa Prancis tetapi akan berbicara bahasa si pemain itu ketika mencoba menyampaikan pesannya kepada mereka,” kata Vega. “Semua orang mengerti satu sama lain tetapi untuk memastikan pesan Anda berhasil, Anda harus beralih ke bahasa orang itu.”

Lucunya BBC menurunkan artikel ini di bawah sub-judul “Keberagaman etnis”. Lah, kita di Indonesia sudah berhadapan dengan ini sejak berpuluh-puluh tahun lalu, dan beruntung ada bapak bangsa, Soekarno, yang sejak awal menggariskan satu bahasa saja untuk semua, bahasa Indonesia.

Tidak terbayang jika Indonesia menjadi seperti Belgia: Sumatera berbahaya Melayu dan Aceh; Jawa menggunakan bahasa Jawa, Sunda dan Madura; Kalimantan sebagian Melayu, Madura, dan Dayak; Sulawesi juga begitu, sebagian Melayu, Bugis, Toraja dan entah suku apa lagi. Papua punya 200-an bahasa, meski sebagian sudah punah. Ironisnya kepunahan bahasa-bahasa dari suku-suku kecil di Papua ini terjadi karena anak-anak mereka dipaksa menggunakan satu bahasa nasional.