Inggris tampaknya sudah semakin dekat dengan susunan tim utama yang akan diturunkan saat menghadapi Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2026.
Dari berbagai sinyal yang muncul setelah kemenangan 3-0 atas Kosta Rika, Jude Bellingham berada di posisi terdepan untuk mengisi peran penting di belakang penyerang.
Sebelum terbang ke turnamen, pelatih Inggris Thomas Tuchel mengungkapkan bahwa ia telah memiliki sekitar 14 hingga 15 pemain dalam pikirannya untuk pertandingan pertama.
Meski tidak menyebut nama secara langsung, pilihan yang ia turunkan saat menghadapi Kosta Rika diyakini menjadi gambaran kuat tim inti yang akan tampil melawan Kroasia.
Bellingham menjadi salah satu pemain yang paling diuntungkan dari situasi tersebut.
Bellingham Unggul dalam Perebutan Posisi Nomor 10
Dalam beberapa pekan terakhir, perdebatan mengenai siapa yang layak mengisi peran nomor 10 di tim Inggris cukup ramai. Jude Bellingham dan Morgan Rogers sama-sama memiliki pendukung.
Bellingham datang dengan reputasi besar. Kemampuannya menciptakan momen penting bersama Inggris sudah berkali-kali terlihat. Pengalamannya bermain di Real Madrid juga membuat banyak pihak menilai dirinya lebih siap menghadapi tekanan pertandingan besar.
Di sisi lain, Rogers tampil sebagai alternatif yang sangat menarik di posisi tersebut. Perkembangannya membuat persaingan menjadi lebih terbuka dibanding sebelumnya.
Namun kemenangan atas Kosta Rika memberikan petunjuk baru. Jika Tuchel benar-benar mempertahankan mayoritas pemain yang menjadi starter dalam laga itu, maka Rogers kemungkinan harus memulai turnamen dari bangku cadangan.
Guehi Bisa Kehilangan Tempat di Lini Belakang
Sinyal menarik lainnya muncul di sektor pertahanan.
Pasangan John Stones dan Ezri Konsa berpeluang menjadi duet bek tengah utama Inggris saat menghadapi Kroasia. Situasi ini cukup mengejutkan karena sebelumnya banyak yang meyakini Marc Guehi merupakan pilihan pertama di posisi tersebut.
Guehi menjadi sosok penting bagi Inggris pada Euro 2024 dan banyak yang memperkirakan perannya akan semakin besar di bawah arahan Tuchel.
Akan tetapi, ada indikasi bahwa pelatih asal Jerman itu lebih menyukai kombinasi bek tengah yang memiliki kekuatan fisik lebih dominan. Dalam aspek tersebut, Stones dan Konsa dianggap memiliki keunggulan.
Meski begitu, Tuchel masih harus mempertimbangkan keseimbangan lini belakang. Guehi selama ini sering bermain sebagai bek tengah sisi kiri, sedangkan Stones dan Konsa sama-sama menggunakan kaki kanan sebagai kaki dominan. Faktor itu masih bisa memengaruhi keputusan akhir menjelang laga melawan Kroasia.
Kondisi Saka Masih Jadi Pertimbangan
Di sektor sayap kanan, Noni Madueke mendapat kesempatan sebagai starter saat Inggris menghadapi Kosta Rika. Ia tampil di depan Bukayo Saka yang belum berada dalam kondisi fisik terbaik.
Dalam kondisi normal, Saka hampir pasti menjadi pilihan utama. Namun Tuchel mengakui bahwa pemain Arsenal tersebut masih perlu dijaga selama turnamen berlangsung.
Saka masih merasakan dampak masalah otot pada bagian bawah kaki yang sempat mengganggu akhir musimnya bersama Arsenal. Bahkan menjelang penutupan musim lalu, sempat muncul kekhawatiran bahwa ia akan absen dalam beberapa pertandingan terakhir klub.
Kabar baiknya, kondisi Saka disebut terus membaik selama berada di Amerika Serikat. Jika Inggris harus memainkan laga fase gugur saat ini, peluang Saka untuk turun sejak menit pertama tetap terbuka.
Meski demikian, Tuchel tampaknya tidak ingin mengambil risiko terlalu cepat. Kehadiran Madueke memberi opsi yang dipercaya sang pelatih apabila Saka perlu dimasukkan secara bertahap ke dalam turnamen.
Opini Gilabola.com
Jika melihat petunjuk yang muncul dari laga melawan Kosta Rika, keputusan memainkan Jude Bellingham sejak awal terasa cukup masuk akal.
Pengalaman bermain di level tertinggi dan kemampuannya menentukan pertandingan menjadi nilai tambah yang sulit diabaikan.
Yang justru menarik adalah situasi Marc Guehi. Bila benar Stones dan Konsa menjadi pilihan utama, maka Tuchel sedang mengirim pesan bahwa aspek fisik menjadi prioritas besar dalam rencananya menghadapi Piala Dunia 2026.
Keputusan ini berani, tetapi juga menyimpan risiko karena keseimbangan lini belakang Inggris bisa berubah.

