
Kasus yang melibatkan Vinicius Junior dan dugaan pelecehan rasial dalam duel Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica memicu langkah konkret dari otoritas sepak bola dunia. FIFA dan IFAB sepakat menyetujui aturan baru yang melarang pemain menutup mulut saat berbicara dengan lawan di lapangan, sebuah kebijakan yang muncul di tengah penyelidikan UEFA atas insiden tersebut.
Sorotan terhadap Vinicius dalam beberapa pekan terakhir berawal dari tuduhan terhadap Gianluca Prestianni. Ia disebut melakukan pelecehan rasial terhadap penyerang berusia 25 tahun itu pada leg pertama play-off Liga Champions antara Los Blancos dan wakil Portugal. Perkara ini masih dalam penyelidikan UEFA.
Prestianni telah dijatuhi sanksi sementara oleh UEFA sehingga absen pada leg kedua yang digelar Rabu lalu. Ia dan pihak Benfica membantah tudingan bahwa ia menyebut Vinicius dengan kata berbau rasial. Rekaman audio di tepi lapangan tidak menangkap percakapan keduanya, membuat pembuktian menjadi rumit.
Situasi makin kompleks karena Prestianni terlihat menutup mulutnya saat berbicara. Tindakan tersebut menyulitkan proses pembacaan gerak bibir sebagai alat verifikasi. Celah inilah yang kini hendak ditutup melalui regulasi baru.
Larangan Tutup Mulut Disetujui IFAB
Menurut laporan Diario AS, FIFA dan IFAB telah menyepakati larangan bagi pemain menggunakan kaus, tangan, atau benda lain untuk menutup mulut ketika berbicara dengan lawan. Aturan ini secara informal disebut sebagai “aturan Vinicius”.
Kesepakatan tersebut dibahas dalam Sidang Majelis IFAB terbaru pada Sabtu lalu. Targetnya, regulasi ini dirampungkan sebelum Piala Dunia musim panas mendatang dan resmi berlaku pada Piala Dunia 2026.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa FIFA ingin mempersempit ruang terjadinya pelecehan verbal yang sulit dibuktikan. Dengan tidak adanya penutup mulut, potensi penggunaan rekaman audio dan visual sebagai alat bukti akan lebih terbuka.
Dampak Lebih Luas bagi Kompetisi
Bagi Real Madrid, kebijakan ini menjadi dukungan moral di tengah proses hukum yang masih berjalan. Klub ibu kota Spanyol itu terus berada di belakang Vinicius sambil menunggu hasil penyelidikan UEFA terkait peristiwa di Estadio da Luz 12 hari lalu.
Secara lebih luas, perubahan regulasi ini berpotensi memengaruhi dinamika komunikasi antar pemain di lapangan. Jika disahkan tepat waktu sebelum turnamen besar, maka kompetisi sekelas Piala Dunia 2026 akan menjadi panggung pertama penerapan aturan tersebut.
Kasus yang bermula dari satu pertandingan Liga Champions kini berkembang menjadi momentum perubahan regulasi global. Di tengah belum adanya keputusan final dari UEFA, respons FIFA dan IFAB menunjukkan bahwa isu rasisme tetap menjadi perhatian utama dalam tata kelola sepak bola internasional.
Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!