Hukuman yang dijatuhkan FIFA kepada Jarell Quansah kembali memicu perdebatan di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026. Bek Inggris itu dipastikan harus menjalani larangan bermain selama dua pertandingan, keputusan yang langsung dibandingkan dengan kasus Folarin Balogun yang sebelumnya mendapat penghapusan sanksi.
Gelombang kritik pun bermunculan di media sosial. Banyak pendukung menilai FIFA tidak menerapkan aturan disiplin secara konsisten.
Terlepas benar atau tidak adanya campur tangan pihak luar, masalah terbesar dalam kasus ini adalah konsistensi penerapan aturan.
Ketika dua insiden kartu merah diperlakukan berbeda tanpa penjelasan yang benar-benar memuaskan publik, wajar jika muncul pertanyaan mengenai transparansi proses disiplin FIFA.
Dalam turnamen sebesar Piala Dunia, kejelasan standar hukum seharusnya sama pentingnya dengan kualitas pertandingan di lapangan.
Quansah Absen Lawan Norwegia
Jarell Quansah menerima kartu merah pada menit ke-54 saat Inggris menang dramatis 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar. Wasit mengubah keputusannya setelah meninjau tayangan VAR dan menilai tekel tinggi Quansah terhadap Jesus Gallardo layak diganjar kartu merah.
Pada Kamis, FIFA mengonfirmasi bek berusia 23 tahun itu mendapat hukuman larangan bermain dua pertandingan. Artinya, Quansah dipastikan absen saat Inggris menghadapi Norwegia pada perempat final yang digelar Sabtu di Miami pukul 02.00 WIB. Jika Inggris lolos, ia juga tidak bisa tampil di semifinal.
Situasi tersebut membuat pelatih Thomas Tuchel kehilangan salah satu opsi penting di lini belakang.
Kasus Balogun Kembali Disorot
Pengumuman sanksi terhadap Quansah muncul hanya beberapa hari setelah FIFA membatalkan hukuman larangan bermain Folarin Balogun. Keputusan itu terus menjadi bahan perdebatan karena sebelumnya disebut terjadi setelah percakapan melalui telepon antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Perbedaan penanganan kedua kasus itu memicu tudingan standar ganda dari banyak pendukung sepak bola.
Sejumlah komentar di media sosial mempertanyakan mengapa Quansah tetap mendapat hukuman dua pertandingan, sementara Balogun justru terbebas dari sanksi setelah kartu merahnya dibatalkan.
Ada pula yang menilai keputusan tersebut membuat kredibilitas FIFA dipertanyakan. Sebagian pendukung bahkan menuding adanya campur tangan politik dalam proses pengambilan keputusan.
Thomas Tuchel ikut mempertanyakan konsistensi badan sepak bola dunia tersebut.
“Dari mana ini dimulai dan di mana akhirnya? Bisa dibatalkan atau tidak? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Di mana batasnya? Saya tidak punya jawabannya,” kata Tuchel.
Dalam kasus Balogun, FIFA menggunakan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA untuk menghapus hukuman otomatis akibat kartu merah. Namun, regulasi Piala Dunia 2026 tidak memberikan ruang bagi setiap tim untuk mengajukan banding langsung atas kartu merah.
Federasi Sepak Bola Prancis juga sempat mencoba menghapus kartu kuning yang diterima Michael Olise, tetapi permohonan tersebut ditolak FIFA.
Kontroversi Balogun terus membayangi turnamen. Otoritas sepak bola Belgia menilai keputusan itu mengganggu integritas kompetisi. Di sisi lain, Gianni Infantino menegaskan komite disiplin FIFA bekerja secara independen tanpa intervensi politik.
Balogun sendiri akhirnya kembali bermain saat Amerika Serikat menghadapi Belgia. Namun, mereka tetap tersingkir setelah kalah 1-4 di babak 16 besar.
Inggris Dipaksa Ubah Lini Belakang
Absennya Quansah membuat pekerjaan Thomas Tuchel semakin berat. Reece James juga masih menjalani pemulihan cedera hamstring sehingga Inggris kehilangan dua bek kanan alami menjelang duel melawan Norwegia.
Kondisi itu memaksa Tuchel menyiapkan susunan pertahanan baru untuk menghadapi tim Norwegia yang diperkuat Erling Haaland.

