Jerman akhirnya memastikan tempat di babak 32 besar Piala Dunia setelah lolos dari ancaman Pantai Gading. Sempat tertinggal sepanjang pertandingan, Die Mannschaft membalikkan keadaan dan menang 2-1 berkat dua gol Deniz Undav yang masuk sebagai pemain pengganti.
Kemenangan di Toronto itu sekaligus mengakhiri penantian panjang Jerman untuk kembali merasakan fase gugur turnamen besar. Setelah menjuarai Piala Dunia 2014, mereka dua kali tersingkir di fase grup dan baru kini kembali mengamankan tiket ke babak knockout.
Deniz Undav Ubah Jalannya Pertandingan
Pantai Gading lebih dulu membuat Jerman dalam posisi sulit.
Gol pembuka lahir pada menit ke-30 ketika Yan Diomande menerobos sisi kiri pertahanan Jerman sebelum mengirim umpan berbahaya ke dalam kotak penalti. Percobaan Diallo memang sempat diblok Nathaniel Brown, tetapi bola liar langsung disambar Franck Kessie untuk membawa wakil Afrika Barat unggul 1-0.
Jerman beberapa kali mencoba merespons. Kai Havertz bahkan sempat menjebol gawang lawan, namun golnya dianulir karena pelanggaran.
Saat kebuntuan mulai membuat frustrasi kubu Jerman, Julian Nagelsmann mengambil keputusan penting. Pelatih berusia muda itu melakukan tiga pergantian pemain sekitar menit ke-60.
Langkah tersebut langsung mengubah arah pertandingan.
Undav, yang masuk dari bangku cadangan, mencetak gol penyeimbang lewat tendangan voli jarak dekat setelah menerima umpan silang akurat dari sesama pemain pengganti, Nadiem Amiri.
Laga terlihat akan berakhir imbang sebelum momen penentu hadir jauh di masa injury time.
Felix Nmecha mengirim umpan matang yang diterima Undav di area berbahaya. Penyerang Stuttgart itu berbalik badan sebelum melepaskan tembakan yang tak mampu dihentikan kiper Pantai Gading.
Gol tersebut memicu selebrasi besar para pemain Jerman di lapangan.
Dari Divisi Bawah ke Panggung Piala Dunia
Penampilan Undav membuat kisah kariernya kembali menjadi sorotan.
Tak banyak pemain yang baru menjadi pesepak bola profesional pada usia 23 tahun. Sebelum dikenal seperti sekarang, Undav memulai karier mudanya di TSV Achim sebelum masuk akademi Werder Bremen pada 2007.
Namun ia dilepas lima tahun kemudian. Dalam sebuah wawancara, Undav pernah mengakui dirinya tumbuh lebih lambat dibanding pemain lain dan sempat memiliki masalah berat badan.
Kariernya kemudian berlanjut dari klub-klub divisi bawah Jerman seperti TSV Havelse, Eintracht Braunschweig II, hingga Meppen.
Perjalanan itu akhirnya membawanya ke klub Belgia, Union SG. Di sana namanya mulai mencuat setelah membantu tim promosi dan mencetak 27 gol dalam satu musim.
Brighton kemudian merekrutnya sebelum ia pindah ke Stuttgart dan akhirnya mendapatkan kesempatan membela tim nasional Jerman.
Di Toronto, perjalanan panjang itu mendapat babak baru.
Pantai Gading Masih Punya Peluang
Meski pulang tanpa poin, Pantai Gading meninggalkan kesan positif.
Salah satu pemain yang paling mencuri perhatian adalah Yan Diomande. Pemain 19 tahun tersebut beberapa kali merepotkan kapten Jerman Joshua Kimmich sepanjang babak pertama dan menjadi sosok penting di balik gol pembuka timnya.
Pantai Gading bahkan nyaris membawa pulang hasil besar sebelum gol kemenangan Undav menghancurkan harapan mereka di menit-menit terakhir.
Meski kalah, peluang mereka untuk lolos masih terbuka pada laga terakhir fase grup saat menghadapi Curacao.
Bagi Jerman, kemenangan ini membuat kepercayaan diri semakin meningkat menjelang pertandingan grup berikutnya melawan Ekuador. Mereka memang belum tampil dalam performa terbaik, tetapi kembali menunjukkan kemampuan untuk menemukan cara menang saat berada di bawah tekanan.
Analisis Gilabola.com
Jerman belum terlihat seperti kandidat juara yang dominan. Pantai Gading bahkan sempat membuat mereka kesulitan selama sebagian besar pertandingan.
Namun ada satu hal yang mulai tampak berbeda dibanding dua turnamen besar terakhir, yakni mental bertanding.
Saat permainan tidak berjalan sesuai rencana, Jerman tetap mampu bertahan dalam laga dan menemukan solusi dari bangku cadangan.
Keputusan Julian Nagelsmann serta efektivitas Deniz Undav menjadi pembeda utama. Jika karakter seperti ini terus muncul, Jerman layak diperhitungkan lebih jauh daripada sekadar lolos fase grup.

