Pelatih Uruguay Ungkap Motivasi Anak Asuhnya

Gilabola.com – Pelatih Uruguay Oscar Tabarez memilih untuk melihat ke masa lalu dan era modern demi memberikan inspirasi bagi anak asuhnya di Piala Dunia 2018.

Pada Piala Dunia 1990 Italia, pelatih berusia 71 tahun itu memberi kemenangan pertama bagi Celeste di turnamen akbar sejak 1970, sebelum disingkirkan tuan rumah pada babak 16 besar.

Setelah 16 tahun malang melintang menjadi juru taktik di level klub bersama Boca Junios, AC Milan dan Velez Sarsfield, Tabarez kembali ke timnas Uruguay.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
Totobet
Totobet
978Bet
978Bet

Hasilnya ia membawa Diego Forlan, Luis Suarez dan Edinson Cavani masuk ke babak semi final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yang kemudian diikuti dengan trofi Copa Amerika.

Kini, Oscar Tabarez berharap anak asuhnya menengok masa lalu kala Uruguay menguasai dunia sepak bola dengan menjadi juara dunia tahun 1950 dengan menundukan Brasil, yang lantas dikenal dengan peristiwa Maracanazo.

Kini rakyat Uruguay menaruh harapan besar terhadap anak asuhnya setelah tampil apik dalam beberapa turnamen terakhir.

“Di awal (turnamen akbar) sepak bola, (sebuah olahraga) yang diperkenalkan oleh Inggris, kami menjadi kekuatan besar,” ujar Tabarez jelang laga kontra Arab Saudi.

“Kemudian kami tidak bisa mewariskan kehebatan tesebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.”

“Ketika saya absen tiga atau empat tahun, ketika saya tidak bekerja di dunia sepak bola, saya banyak memikirkan soal ini. Bagaimana caranya kami bisa membawa Uruguay kembali ke peta kekuatan dunia, dengan keterbatasan jumlah penduduk.”

“Sejujurnya, kami bisa meraih hal itu. Kami menjadi lawan yang sulit. Anda bisa berkata kami bukan juara (bertahan), tapi dari sudut pandang kami, dari kultur sepak bola Uruguay, ada beberapa negara yang bisa seperti itu dan Uruguay adalah salah satunya, bersama dengan Argentina dan Brasil di Amerika Selatan.”

“Di Eropa ada Inggris, Jerman dan mungkin Spanyol, tapi itu tidak terjadi pada tahun 1920 dan 1930-an, ketika Uruguay menjadi kekuatan besar.”

“Anak-anak kecil menyaksikan pertandingan sepak bola di sekolah, yang biasa kami lakukan (di Uruguay) dengan izin dari otoritas sekolah. Mereka meliburkan sekolah sepanjang Piala Dunia dan itu membantu mencegah ketiadaan (kecintaan terhadap sepak bola).”

“Sepak bola menjadi agama di Uruguay. Itu lah sebabnya masyarakat menyukai kemenangan, dengan gol-gol di akhir laga dan kemudian mereka berlarian ke tempat bermain (untuk merayakannya). Anak-anak ini tidak akan melupakan pengalaman tersebut dan akan menceritakanya kepada anak-cucu mereka.”

“Sekarang kami mempunyai hubungan antar generasi. Seluruh Uruguay sekarang berwarna biru muda. Bendera-bendera, balon, monumen, jalanan… saya merasa bangga dan ingin mengekspresikan ini.”

AHABET
AHABET
HKINDO
HKINDO