Site icon Gilabola.com

Alvaro Arbeloa Wajib Paham: Real Madrid Tidak Diciptakan Untuk Bertahan! Jangan Ulangi Taktik Xabi Alonso!

Alvaro Arbeloa resmi gantikan Xabi Alonso di Real Madrid

Alvaro Arbeloa resmi gantikan Xabi Alonso di Real Madrid

Gilabola.com – Kegagalan Real Madrid di Piala Super Spanyol setelah kalah 2-3 dari Barcelona, meninggalkan tiga pelajaran penting yang wajib dipahami Álvaro Arbeloa jelang debut resminya sebagai pelatih kepala menggantikan Xabi Alonso.

Kekalahan di Alinma Bank Stadium, Minggu malam WIB, menjadi penutup singkat masa jabatan Xabi Alonso yang hanya berlangsung tujuh bulan. Sehari berselang, Real Madrid dan Alonso sepakat berpisah, membuka jalan bagi Arbeloa untuk naik dari kursi pelatih Castilla ke tim utama.

Dengan waktu persiapan kurang dari tiga hari, Arbeloa langsung dihadapkan pada tantangan besar. Laga melawan Albacete di babak 16 besar Copa del Rey, Rabu WIB, menjadi ujian pertamanya. Namun sebelum itu, kegagalan di Jeddah menyisakan sejumlah catatan penting.

Real Madrid Tak Cocok Bermain Terlalu Bertahan

Keputusan Xabi Alonso menggunakan skema bertahan ekstrem dalam El Clásico Piala Super Spanyol menjadi salah satu sorotan utama. Untuk pertama kalinya musim ini, Real Madrid bermain dengan lima bek, dengan Aurélien Tchouaméni ditarik menjadi bek tengah tambahan.

Secara teori, menambah jumlah pemain bertahan menghadapi Barcelona terlihat masuk akal. Namun kenyataannya, Tchouaméni adalah gelandang, bukan bek murni. Menghadapi pemain seperti Robert Lewandowski dan Raphinha, peran tersebut terbukti terlalu berat, sesuatu yang sebelumnya juga kerap terlihat di era Carlo Ancelotti.

Lini belakang yang berisi kombinasi gelandang dan pemain yang belum stabil—Tchouaméni, Federico Valverde, Dean Huijsen, Raúl Asencio, dan Álvaro Carreras—tidak dirancang untuk bertahan dari tekanan panjang. Ketimpangan ini bukan hanya berdampak di belakang, tetapi juga merusak keseimbangan permainan secara keseluruhan.

Real Madrid memang dikenal berbahaya dalam transisi cepat lewat Vinicius Junior dan Rodrygo. Namun skema bertahan dalam membuat bola jarang sampai ke sisi sayap. Tanpa sosok seperti Toni Kroos atau Luka Modrić yang mampu mengalirkan bola dari lini belakang, serangan balik Los Blancos sering mati sebelum berkembang.

Real Madrid Lebih Seimbang dengan Penyerang Murni

Absennya Kylian Mbappé dalam kondisi fit penuh di laga final jelas menjadi kerugian besar, apalagi penyerang Prancis itu telah mencetak 29 gol musim ini. Namun performa tim kembali memperkuat kesan bahwa Real Madrid lebih seimbang saat memiliki penyerang nomor sembilan murni di lini depan.

Gonzalo García memberi dimensi berbeda. Ia aktif masuk ke kotak penalti, menjadi ancaman duel udara, dan yang terpenting, menarik perhatian bek lawan. Ruang gerak Vinicius Junior pun menjadi lebih luas ketika ada penyerang yang fokus menunggu suplai di dalam kotak.

Sebaliknya, Mbappé kerap berada di tepi kotak penalti, statis dan menunggu bola. Pola ini membuat serangan Real Madrid mudah ditebak. Ketika Vinicius berhasil dimatikan, lini depan Los Blancos pun kehilangan arah.

Lebih dari satu setengah tahun sejak Mbappé bergabung, Real Madrid masih terlihat lebih padu tanpa kehadirannya. Tentu solusi bukan mencadangkan top skor tim, tetapi Arbeloa perlu memastikan penyerang andalannya mulai bermain layaknya striker naluriah—baik saat menguasai bola maupun tidak.

Valverde Belum Menjawab Masalah Lini Tengah

Federico Valverde kembali dipercaya menjalani peran ganda di final Piala Super Spanyol, membantu pertahanan sekaligus mengisi lini tengah. Namun kontribusinya di sektor tengah lapangan nyaris tak terasa.

Dalam 68 menit bermain, gelandang Uruguay itu hanya mencatatkan sembilan umpan sukses. Dari jumlah tersebut, hanya satu yang tergolong progresif. Bahkan, Thibaut Courtois menutup laga dengan jumlah umpan progresif lebih banyak.

Valverde memang pemain paling serba bisa di skuad Arbeloa, tetapi Real Madrid membutuhkan dirinya kembali tampil dominan di lini tengah. Tim membutuhkan umpan diagonalnya, kemampuan mengalihkan arah permainan, serta visinya saat transisi menyerang.

Jika ingin mempertahankan posisinya ketika bek kanan murni kembali tersedia, Valverde harus membuktikan diri. Tantangan ini mungkin tak biasa bagi pemain sekelas dirinya, tetapi menjadi keharusan di bawah era baru.

Álvaro Arbeloa mewarisi tim yang sarat kualitas, tetapi juga dipenuhi ketidakseimbangan yang tak bisa lagi ditutup dengan nama besar. Arbeloa mungkin belum teruji di level ini, namun pelajaran dari Jeddah memberi gambaran jelas: Real Madrid tak butuh eksperimen berlebihan, melainkan keberanian menata ulang fondasi permainan. Jika ia mampu belajar cepat, jalan menuju stabilitas masih terbuka.

Exit mobile version