Gilabola.com – Real Madrid benar-benar pulang dengan luka besar dari Camp Nou. Kekalahan 2-0 dari Barcelona bukan cuma memastikan rival abadinya itu mempertahankan gelar La Liga, tetapi juga menutup musim Los Blancos tanpa satu pun trofi.
Bagi klub dengan koleksi 36 gelar La Liga dan 15 trofi Liga Champions, musim seperti ini jelas terasa menyakitkan. Apalagi kekalahan itu datang di markas Barcelona, dalam laga El Clasico yang sejak awal sudah dipenuhi tekanan.
Madrid sebenarnya masih bertahan dalam perebutan gelar dengan napas tipis. Namun begitu tertinggal dua gol di babak pertama, mereka terlihat kesulitan bangkit. Kekalahan itu akhirnya memastikan mereka kembali finis sebagai runner-up.
Masalahnya bukan cuma gagal juara. Cara Real Madrid runtuh musim ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban.
Mereka tersingkir di perempat final Liga Champions, performa tim naik turun, ruang ganti dikabarkan memanas, sementara hubungan beberapa pemain dengan fans mulai retak.
Kylian Mbappe Jadi Awal Kekacauan?
Kedatangan Kylian Mbappe dari PSG dua musim lalu awalnya dianggap sebagai awal era galacticos baru di Santiago Bernabeu.
Saat itu Real Madrid baru saja meraih gelar La Liga dan Liga Champions bersama Carlo Ancelotti. Namun situasi berubah cepat.
Masuknya Mbappe membuat skema permainan Madrid ikut berubah. Jude Bellingham yang sebelumnya sangat dominan harus bergeser posisi. Vinicius Junior juga tak lagi sebebas sebelumnya.
Mbappe lebih sering turun ke dalam untuk membangun serangan atau membawa bola sendiri. Situasi itu disebut mengganggu ritme dua pemain utama Madrid lainnya.
Carlo Ancelotti akhirnya ikut terkena imbas. Rumor pemecatan terus muncul sepanjang musim karena dianggap gagal menyatukan skuad bertabur bintang tersebut.
Kemudian datang Xabi Alonso.
Pelatih muda asal Spanyol itu awalnya digadang-gadang menjadi penyelamat setelah sukses besar bersama Bayer Leverkusen. Namun situasi justru makin rumit.
Rumor keretakan dengan pemain mulai bermunculan. Mbappe memang kembali produktif dengan koleksi 24 gol dan memimpin daftar top skor La Liga musim ini, tetapi hubungan di dalam tim disebut tidak benar-benar harmonis.
Akhirnya Alonso angkat kaki sebelum musim selesai. Posisi pelatih sementara kemudian dipegang Alvaro Arbeloa.
Sementara itu tekanan terhadap Mbappe terus pecah. Bahkan muncul petisi “Mbappe Out” yang diklaim mendapat lebih dari 33 juta tanda tangan dari fans Madrid yang kecewa.
Kini tugas terbesar Madrid adalah menghubungkan kembali Mbappe dengan fans dan membuat gaya mainnya menyatu dengan skuad.
Masalah Vinicius Jr vs Fans Los Blancos
Sebelum Mbappe jadi sasaran kritik, Vinicius Junior lebih dulu kena serangan dari fans sendiri.
Penyerang asal Brasil itu sempat menjalani 19 pertandingan tanpa gol untuk klub dan timnas antara Oktober hingga Januari. Suara boos mulai terdengar di Bernabeu, terutama setelah Madrid tersingkir dari Bayern Munchen di Liga Champions.
Ironisnya, Vinicius akhirnya memecah paceklik gol saat kalah 3-2 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol, yang juga menjadi laga terakhir Alonso bersama Madrid.
Kini rumor transfer Vinicius mulai bermunculan. Manchester United menjadi salah satu klub yang disebut tertarik mendatangkannya.
Jika Madrid benar-benar ingin membangun ulang tim di sekitar Mbappe, bukan tidak mungkin Vinicius jadi korban berikutnya.
Ruang Ganti Memanas
Masalah Madrid ternyata tidak berhenti di lapangan.
Federico Valverde dan Aurelien Tchouameni dikabarkan terlibat keributan saat sesi latihan jelang El Clasico. Bentrokan itu bahkan membuat Valverde mengalami cedera kepala dan harus dibawa ke rumah sakit.
Kedua pemain langsung didenda klub, tetapi Tchouameni tetap dimainkan saat melawan Barcelona.
Situasi ini membuat Madrid mulai khawatir ruang ganti mereka berubah jadi toxic. Jika konflik makin membesar, bukan tidak mungkin salah satu pemain bakal dilepas pada musim panas nanti.
Apakah Jose Mourinho Jawabannya?
Di tengah situasi kacau seperti sekarang, nama Jose Mourinho kembali muncul sebagai kandidat pelatih Real Madrid.
Mourinho memang bukan sosok yang selalu disukai fans Madrid karena gaya main pragmatisnya. Namun dalam kondisi klub yang sedang limbung, sebagian fans mulai melihat pelatih Portugal itu sebagai sosok yang bisa membawa stabilitas.
Mourinho pernah melatih Madrid pada periode 2010 hingga 2013 dan sukses mempersembahkan gelar La Liga, Copa del Rey dan Piala Super Spanyol.
Pelatih berusia 63 tahun itu juga pernah membawa Benfica menang 4-2 atas Madrid di fase liga Liga Champions musim ini.
Meski Mourinho mengaku belum ada kontak dengan Madrid, rumor kepulangannya terus menguat.
Klopp dan Zidane Juga Masuk Radar
Selain Mourinho, beberapa nama besar lain mulai dikaitkan dengan kursi pelatih Real Madrid.
Jurgen Klopp dianggap cocok untuk membangun kembali hubungan tim dengan fans. Pelatih asal Jerman itu terkenal mampu menyatukan ruang ganti dan suporter seperti saat sukses bersama Borussia Dortmund dan Liverpool.
Julian Nagelsmann juga masuk dalam daftar kandidat. Saat ini ia masih menangani Timnas Jerman, tetapi disebut bisa mempertimbangkan tantangan baru setelah Piala Dunia 2026.
Nama Zinedine Zidane pun kembali muncul. Legenda Prancis itu punya hubungan spesial dengan Madrid dan pernah membawa klub meraih kesuksesan besar di Liga Champions.
Selain Zidane, Massimiliano Allegri dan Didier Deschamps juga ikut dikaitkan dengan Los Blancos.
Satu hal yang pasti, rebuild besar kini sudah dimulai di Santiago Bernabeu. Kekalahan menyakitkan di kandang Barcelona bisa jadi titik awal perubahan besar Real Madrid musim depan.

