Anthony Gordon akhirnya hannya selangkah lagi mengenakan seragam Barcelona. Nilai transfernya juga tidak kecil. Klub Catalan itu dikabarkan siap mengeluarkan £70 juta atau sekitar Rp1,5 triliun demi memboyong winger Newcastle United tersebut.
Keputusan Barcelona ini sempat membuat banyak pihak heran. Gordon memang punya kecepatan dan kemampuan mengubah pertandingan dalam sekejap, tapi performanya juga kerap naik turun. Ada momen ketika ia terlihat sangat berbahaya, lalu mendadak tenggelam begitu saja di laga berikutnya.
Meski begitu, Barcelona tetap maju. Mereka bahkan berhasil menyusun skema pembayaran selama lima tahun demi meringankan kondisi finansial klub yang masih terlilit utang lebih dari £2 miliar atau sekitar Rp43,7 triliun.
Di sisi Newcastle, transfer ini dianggap sebagai cuan besar.
The Magpies berhasil mendapatkan keuntungan besar dari pemain yang mereka beli dari Everton pada 2023 dengan harga £45 juta. Selain itu, Newcastle juga menghindari drama panjang seperti yang terjadi pada kasus Alexander Isak musim lalu.
Laporan menyebut Gordon memang sudah ingin meninggalkan St James’ Park. Newcastle pun memilih menyelesaikan situasi itu lebih cepat agar tidak mengganggu persiapan tim menghadapi musim baru.
Kini Eddie Howe punya waktu untuk mencari pengganti yang sesuai.
Tekanan di Barcelona Beda Level
Bagi Gordon sendiri, tawaran Barcelona jelas sulit ditolak. Usianya baru 25 tahun dan ia merasa masih belum mencapai puncak permainan terbaiknya.
Di Camp Nou nanti, ia akan bermain bersama nama-nama besar termasuk wonderkid Barcelona, Lamine Yamal.
Kepercayaan diri Gordon memang tidak pernah kurang. Transfer ini juga membuka kesempatan besar baginya untuk naik ke level yang lebih tinggi dalam karier.
Tapi ada satu hal yang tak bisa dihindari.
Tekanan di Barcelona disebut jauh lebih ganas dibanding yang ia rasakan di Newcastle. Sorotan media, tuntutan fans, sampai kritik setelah pertandingan bisa datang tanpa ampun.
Di sana, gagal tampil bagus bukan pilihan.
Ketika performa menurun, pemain bisa langsung jadi sasaran kritik besar. Contohnya pernah dialami Philippe Coutinho dan Ivan Rakitic setelah Barcelona dihajar Liverpool 4-0 di semifinal Liga Champions 2019. Media Spanyol bahkan memberi nilai nol untuk penampilan keduanya.
Tak lama setelah itu, Coutinho dipinjamkan ke Bayern Munchen. Rakitic pun dijual setahun kemudian.
Gordon kini berada di persimpangan besar dalam kariernya. Ia bisa bersinar di Spanyol, atau justru tenggelam di bawah tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kalau Gordon mampu menjaga konsistensi, ia bisa naik kelas menjadi winger elite Eropa. Masalahnya, Camp Nou bukan tempat yang memberi waktu panjang untuk belajar dari kegagalan.

