Raphinha kembali keluar dari lapangan dengan cerita yang sama, cedera hamstring. Kali ini terjadi saat membela Brasil dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Haiti. Bukan sekadar cedera biasa, ini adalah kambuh dari masalah yang sama tiga bulan lalu.
Situasi ini langsung menghidupkan kembali perdebatan lama di Barcelona, soal masa depan sang pemain yang musim ini tidak lagi secerah sebelumnya.
Cedera yang Tak Kunjung Usai
Federasi sepak bola Brasil mengonfirmasi Raphinha harus menepi setelah mengalami cedera hamstring di pertandingan tersebut. Masalahnya, ini bukan kejadian pertama.
Sekitar tiga bulan lalu, cedera yang sama juga muncul saat ia bertugas bersama tim nasional Brasil. Dampaknya cukup besar, Raphinha bahkan harus absen di dua leg laga Barcelona saat tersingkir dari Liga Champions oleh Atlético Madrid.
Musim ini, situasinya terasa berbeda bagi sang kapten. Setelah tampil luar biasa pada musim 2024/25 dan sempat disebut berada di level Ballon d’Or, performanya tak lagi stabil karena gangguan cedera yang terus berulang.
Persaingan Baru di Camp Nou
Di saat kondisi fisiknya belum benar-benar pulih, Barcelona juga mengambil langkah besar di bursa transfer. Klub mendatangkan Anthony Gordon dengan nilai besar, sebuah langkah yang jelas memberi tekanan langsung di sektor sayap yang selama ini identik dengan Raphinha.
Kehadiran Gordon membuat persaingan semakin ketat, dan posisi Raphinha tak lagi sepenuhnya aman seperti musim sebelumnya.
Godaan Saudi dan Sikap yang Mulai Berubah
Situasi makin kompleks karena minat dari Arab Saudi kembali muncul. Tawaran besar dari liga tersebut sudah beberapa kali dikaitkan dengan Raphinha dalam beberapa tahun terakhir.
Namun kali ini ada perbedaan kecil yang cukup signifikan. Untuk pertama kalinya, Raphinha tidak langsung menutup pintu untuk kemungkinan hengkang dari Camp Nou. Ia disebut akan mempertimbangkan masa depannya setelah Piala Dunia.
Barcelona sendiri berada pada posisi yang cukup jelas. Klub masih ingin mempertahankannya, tetapi tidak menutup kemungkinan melepas jika sang pemain meminta pergi dan ada tawaran besar yang datang.
Situasi Raphinha ini terasa seperti titik belok yang tidak bisa dihindari. Barcelona jelas masih membutuhkan kualitasnya, tapi cedera berulang di momen krusial mulai jadi alarm serius.
Dari sisi klub, mempertahankan pemain dengan riwayat cedera seperti ini selalu jadi perjudian. Apalagi ketika sudah ada investasi besar di posisi yang sama lewat Anthony Gordon.
Namun menjual Raphinha juga bukan keputusan ringan. Di level terbaiknya, dia masih salah satu winger paling berbahaya yang dimiliki Barcelona. Jika benar-benar pulih, nilainya bisa langsung kembali naik.
Barcelona kini seperti berada di tengah jalan. Bertahan berarti sabar dan berharap tubuh Raphinha kembali stabil. Melepas berarti mengakui bahwa era yang sempat menjanjikan itu mungkin sudah mulai berubah arah.

