Site icon Gilabola.com

Diludahi Hingga Dikucilkan, Hasselbaink Ceritakan Pengalaman Pahit Saat di Atletico Madrid

Jimmy Floyd Hasselbaink mantan pemain Atletico Madrid

Mantan striker tajam asal Belanda, Jimmy Floyd Hasselbaink, mengungkapkan bahwa masalah rasisme di dunia sepak bola seakan tidak pernah benar-benar berakhir. Fenomena ini sudah ada jauh sebelum dirinya memulai karier profesional, terus terjadi sepanjang masa bermainnya, dan bahkan masih berlanjut hingga setelah ia pensiun pada tahun 2008.

Menurut Hasselbaink, isu rasisme kembali menjadi sorotan besar dalam beberapa pekan terakhir. Hal itu terjadi setelah Vinícius Júnior menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan pelecehan rasial dalam pertandingan Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica.

Dalam periode yang hampir bersamaan, empat pemain Premier League juga menjadi korban rasisme di media sosial hanya dalam satu akhir pekan, yang kemudian memicu penyelidikan oleh pihak kepolisian.

“Kita terus saja ditarik kembali ke masalah ini,” kata Hasselbaink. “Rasanya seperti harus memulai dari awal lagi. Ini tidak pernah benar-benar selesai.”

Pengalaman Pahit di Atlético Madrid

Hasselbaink mengetahui betul bagaimana rasanya menjadi korban rasisme di lapangan sepak bola. Saat membela Atlético Madrid pada akhir 1990-an, ia mengaku beberapa kali mendengar nyanyian bernada rasial dari para suporter.

Dalam salah satu kejadian yang paling membekas, ia bahkan pernah diludahi oleh penggemar ketika berjalan keluar dari stadion.

“Saya satu-satunya yang diludahi, dan saya satu-satunya pemain kulit hitam di tim saat itu,” ungkapnya.

Lebih menyakitkan lagi, ia merasa tidak ada orang yang benar-benar membantunya saat kejadian tersebut terjadi.

“Tidak ada yang menolong saya,” ujarnya sambil terdiam sejenak.

Ketika ditanya bagaimana perasaannya saat menghadapi perlakuan tersebut, Hasselbaink menjawab dengan jujur.

“Itu membuat Anda merasa tidak berharga. Seperti Anda ini tidak berarti apa-apa. Semua orang melanjutkan hidup mereka, dan kejadian itu tidak benar-benar dibicarakan. Orang-orang melihatnya, tapi apa yang bisa Anda lakukan ketika Anda berdiri sendirian?”

Vinícius Júnior Mengalami Lebih Banyak Insiden

Meski pernah mengalami perlakuan rasis, Hasselbaink menilai situasi yang dialami Vinícius Júnior jauh lebih berat.

Pemain Real Madrid tersebut dilaporkan telah mengalami dugaan pelecehan rasial sekitar 20 kali dalam delapan tahun sejak bergabung dengan klub raksasa Spanyol tersebut.

Hasselbaink juga menyoroti kasus terbaru yang melibatkan Prestianni. Dalam insiden tersebut, winger Benfica terlihat menutupi mulutnya dengan kaus ketika berbicara kepada Vinícius di lapangan.

Kylian Mbappé bahkan mengklaim bahwa ia mendengar Prestianni menyebut Vinícius sebagai “monyet” sebanyak lima kali. Namun, Prestianni membantah telah menggunakan kata-kata rasial.

“Kita semua berpikir dia mengatakan sesuatu, karena mengapa dia menutup mulutnya?” kata Hasselbaink.

Namun ia juga mengakui bahwa pembuktian kasus seperti ini sangat sulit.

“Dalam hukum, Anda harus memberikan keuntungan keraguan jika dia mengatakan tidak melakukan apa pun. Itu masih wilayah abu-abu.”

Usulan Larangan Menutup Mulut di Lapangan

Insiden tersebut juga memicu diskusi baru mengenai kemungkinan larangan pemain menutupi mulut saat berbicara di lapangan.

Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan menyatakan bahwa pemain yang menutup mulut saat konfrontasi seharusnya bisa langsung mendapatkan kartu merah.

Badan pembuat aturan sepak bola, International Football Association Board (IFAB), juga disebut telah membahas ide tersebut.

Menurut Hasselbaink, tindakan menutup mulut biasanya menandakan ada sesuatu yang ingin disembunyikan.

“Kalau tidak mengatakan sesuatu yang kontroversial, mengapa harus menutup mulut?” katanya.

Ia kemudian melontarkan komentar bernada sinis.

“Anda tidak akan menutup mulut hanya untuk mengatakan, ‘Vinícius, kamu pemain luar biasa, boleh saya minta jersey kamu?’”

Kritik Tajam untuk José Mourinho

Situasi ini semakin memanas setelah pelatih Benfica, José Mourinho, mengaitkan insiden tersebut dengan cara Vinícius merayakan gol kemenangan di depan fans Benfica.

Komentar Mourinho itu membuat Hasselbaink geram.

“Apa yang sebenarnya dia bicarakan?” katanya.

Hasselbaink bahkan mengingatkan publik pada selebrasi Mourinho saat masih melatih Porto ketika mereka menghadapi Manchester United di Old Trafford, ketika sang pelatih berlari di sepanjang pinggir lapangan dan melakukan selebrasi penuh emosi.

“Hipokrit,” kata Hasselbaink. “Dia seharusnya mendatangi pemainnya dan bertanya langsung: ‘Apa yang kamu katakan?’ Jika pemain itu melakukan pelecehan rasial, dia harus dihukum.”

Ia juga menambahkan bahwa Mourinho memiliki pemain kulit hitam di skuad Benfica, sehingga komentarnya berpotensi membuat mereka merasa tidak nyaman.

Lonjakan Kasus Rasisme di Media Sosial

Masalah rasisme juga semakin terlihat di media sosial. UK Football Policing Unit melaporkan peningkatan 115 persen dalam laporan penyalahgunaan daring hanya dalam waktu satu tahun.

Beberapa pemain yang menjadi target dalam satu akhir pekan termasuk:

Arokodare menjadi sasaran pesan rasis setelah gagal mengeksekusi penalti dalam kekalahan Wolves dari Crystal Palace.

Hasselbaink mengaku tidak habis pikir dengan situasi tersebut.

“Dia tidak gagal penalti karena dia berkulit hitam,” katanya. “Dia gagal karena tembakannya tidak tepat. Itu saja.”

Menghormati Keberanian Bukayo Saka

Hasselbaink juga mengingat pengalaman bekerja sebagai asisten Gareth Southgate di tim nasional Inggris.

Saat itu ia menyaksikan langsung bagaimana Bukayo Saka kembali mengambil penalti untuk Inggris di Euro 2024 setelah sebelumnya menjadi korban rasisme bersama Marcus Rashford dan Jadon Sancho usai kegagalan penalti di final Euro 2020.

Bagi Hasselbaink, keberanian Saka sangat luar biasa.

“Saya sangat menghormati pemain seperti Saka, Rashford, dan Sancho,” katanya. “Saka siap mengambil penalti lagi dan dia melakukannya. Itu menunjukkan keberanian besar.”

Seruan Hukuman Lebih Berat

Hasselbaink menilai bahwa hukuman terhadap pelaku rasisme masih terlalu ringan. Ia mengusulkan larangan seumur hidup bagi suporter yang melakukan pelecehan rasial di stadion atau media sosial.

“Berikan hukuman yang benar-benar keras. Itu tidak sulit,” katanya.

Ia juga menilai pemain yang terbukti melakukan pelecehan rasial harus mendapatkan larangan bermain yang panjang.

“Bahkan klub seharusnya tidak membayar gaji pemain selama masa hukuman,” tambahnya.

Upaya Melawan Rasisme Lewat Teknologi

Kini Hasselbaink terlibat dalam Football Safety App, sebuah platform yang didirikan mantan striker Inggris Emile Heskey untuk mempermudah pelaporan pelecehan di dalam maupun di sekitar stadion.

Aplikasi tersebut memungkinkan laporan langsung dikirim ke klub dan kepolisian.

“Penanganan kasus seperti ini terlalu lambat,” kata Hasselbaink. “Dengan aplikasi ini, laporan bisa langsung diterima secara instan.”

Meski demikian, ia merasa pihak berwenang belum benar-benar bertindak cukup tegas.

“UEFA kadang hanya memberi denda kecil kepada klub. Itu memalukan,” ujarnya.

Sepak Bola Tetap Dicintai, Politiknya Dibenci

Meski kecewa dengan berbagai masalah yang terjadi, Hasselbaink menegaskan cintanya terhadap sepak bola tidak pernah berubah.

Namun ia mengaku sangat muak dengan politik dan dinamika di balik olahraga tersebut.

“Saya mencintai sepak bola,” katanya. “Tapi politik di sekitarnya, saya sangat membencinya.”

Exit mobile version