Eden Hazard vs Philippe Coutinho, Siapa yang Jadi Kegagalan Terbesar di LaLiga?

Gilabola.com –¬†Eden Hazard dan Philippe Coutinho sama-sama terkenal sebagai dua pemain terbaik di Liga Inggris. Namun kini keduanya gagal torehkan catatan gemilang di sepak bola Spanyol.

Jika Hazard mentereng bersama Chelsea, Coutinho menjadi bintang di Liverpool. Mereka selalu tunjukkan permainan gemilang di banyak pertandingan yang dilakoni kedua tim tersebut.

Hazard kerap mainkan dribbling yang membuat para pemain belakang lawan selalu ketar-ketir, sementara Coutinho punya kaki kanan yang bisa menembak ke sudut atas gawang lawan dari jarak 36 meter.

Advertisement
QQCepat
QQCepat
TOTOBET
TOTOBET

Karirnya yang cukup melesat dalam beberapa tahun, mereka berdua mungkin berharap tetap tinggal di Inggris saat ini. Pasalnya, Coutinho tak disukai pelatih Ronald Koeman di Camp Nou, sementara Hazard kini malah menjadi musuh publik nomor satu di Madrid. Namun, siapa di antara keduanya yag lebih gagal di Spanyol? Berikut ulasannya, seperti yang dilansir Sportslens:

Ongkos Transfer

Eden Hazard, pemain sayap asal Belgia ini mendarat di Bernabeu dengan besaran transfer yang tak diungkapkan. Namun, ia diyakini didatangkan El Real dengan ongkos sekitar 103 Juta Poundsterling hingga 143 Juta Pounds. Namun, berapapun itu, hal tersebut telah membuatnya menjadi pemain termahal dalam sejarah Real Madrid.

Channel Gilabola di Youtube

Sebagai perbandingan, tiga pemain termahal El Real sebelumnya adalah Gareth Bale, Cristiano Ronaldo dan Zinedine Zidane. Bale ikut membantu Los Blancos meraih empat gelar Liga Champions, dan dua pemain lainnya masuk dalam daftar pemain terhebat yang pernah mewarnai indahnya permainan klub raksasa Spanyol itu.

Seandainya Madrid tak merekrut Hazard, kemungkinan besar mereka bisa hadirkan Kylian Mbappe.

Philippe Coutinho: berbeda dengan Eden Hazard, informasi mengenai transfer bintang asal Brasil ini lebih jelas. Ia datang ke Barcelona pada bulan Januari 2018 dengan ongkos 103 Juta Pounds, yang nilainya bisa naik menjadi 142 Juta Pounds – tergantung pada persyaratan yang bisa dipenuhinya.

Meski demikian, tak jelas berapa banyak dari klausul ini yang telah diaktifkan, meskipun dia dipastikan sudah memecahkan rekor transfer klub.

Keterlibatannya dalam meraih gelar di klub Catalan itu tak begitu kentara. Ia hanya menjadi satu-satunya pemain lain yang membebani raksasa Catalan dengan gaji selangit, di samping Antoine Griezmann dan Ousmane Dembele.

Jika Coutinho tetap bertahan di Anfield, kedatangan Griezmann mungkin tertunda setahun. Atau, mungkin saja, Neymar sudah kembali ke Camp Nou saat ini.

Ekspektasi

Real Madrid membeli Eden Hazard dengan keyakinan, pemain itu akan menjadi superstar bagi klub mereka. Alasannya, ia sangat brilian dalam hal dribbling, permainan link-up yang dilakukannya juga sangat indah dan ia punya kemampuan dalam mencetak gol serta assist.

Hazard pun diharapkan bisa beradaptasi dengan sempurna di La Liga, hampir sama seperti permainan kaki kanannya Lionel Messi.

Saat ia datang, Ronaldo sudah dijual setahun sebelumnya dengan harga 100 juta Euro, dan terbukti Gareth Bale tak pernah kembali ke performa terbaiknya.

Lalu, Madrid memiliki Sergio Ramos, Luka Modric, Toni Kroos dan Karim Benzema yang sudah semakin tua, sehingga Eden Hazard pun diharapkan – seharusnya, bisa menjadi pemain utama di Madrid, atau menjadi Galacticos yang berikutnya.

Sementara itu, Barcelona punya rencana besar untuk Coutinho, karena ia punya kemampuan untuk bermain sebagai pemain sayap kiri dan gelandang tengah. Namun, perannya di Blaugrana malah menjadi tak jelas sejak dia tanda tanganai kontrak di Camp Nou.

Saat itu, Neymar juga telah pergi dengan biaya transfer yang pecahkan rekor dunia – enam bulan sebelumnya. Namun, legenda klub Andres Iniesta juga pergi enam bulan sejak Neymar hengkang.

Coutinho pun diharapkan bisa menjadi bagian dari tim yang sukses, meskipun dia tidak akan menjadi bintang bagi Camp Nou karena, kita semua tahu, ada Messi di sana. Namun, tetap saja, Coutinho diharapkan bisa menjadi salah satu pemain yang menonjol.

Dan, sama seperti Eden Hazard, tak banyak yang menduga Coutinho akan alami kesulitan yang parah dalam beradaptasi dengan sepak bola Spanyol. Padahal dia brilian secara teknis, penggiring bola yang bagus, punya hubungan yang baik dengan tim, mahir dalam sodorkan umpan pendek maupun panjang, dan mencetak gol yang ulung, hingga dirasa pas untuk kehidupan di La Liga.

Kenyataannya

Hazard, 30 tahun, bisa dibilang sebagai pemain terbaik Liga Inggris selama ia merumput tujuh tahun di sana.

Selama waktunya di Chelsea, ia sempat dinominasikan sebagai Pemain Terbaik Tahun Ini versi PFA dalam lima kesempatan terpisah. Seharusnya, level inilah yang dibawanya ke La Liga.

Namun pada kenyataannya, Eden Hazard hanyalah bayangan dari dirinya yang dulu. Dia hanya mencetak empat gol di semua kompetisi dalam dua musim terakhir, dan ini jauh lebih sedikit dibandingkan yang dia kumpulkan di musim manapun sejak musim 2008/09.

Adapun yang menjadi pemain utama, dan dia bukan pemain yang asing serta datang dari luar klub, adalah Karim Benzema. Tak diragukan lagi, dia-lah pemain bintang di Los Blancos saat ini, dan bukannya Hazard.

Saat ini, Madrid sangat tergantung pada pemain asal Prancis itu dalam mencetak gol. Selama dua tahun terakhir, Benzema-lah yang sudah bukukan 55 gol di semua kompetisi.

Pencetak gol tertinggi Madrid berikutnya, yang juga wajah lama dan sudah berumur, yakni bek tengah Sergio Ramos dengan 17 gol. Lalu, gelandang bertahan, Casemiro, dengan 12 gol.

Satu hal yang perlu dicatat, Hazard sangat tidak beruntung karena ia dibekap cedera di Bernabeu. Ia bahkan diperkirakan sudah melewatkan 58 pertandingan di Madrid karena cedera atau sakit. Namun, dalam 40 pertandingan yang dimainkannya, jauh lebih banyak yang diharapkan darinya.

Sementara itu, Coutinho lakoni beberapa periode yang cukup menjanjikan di Barcelona. Percaya atau tidak, waktu Coutinho di tim Catalan itu tak semuanya berjalan buruk.

Dia memang sempat ‘dibuang’ ke Bayern Munchen (dan kemudian mencetak dua gol saat Bayern menang 8-2 atas Barcelona di Liga Champions), tapi ada periode cerah yang dijalani pemain asal Brasil itu.

Selama enam bulan pertamanya di Camp Nou, dia sukses mencetak 10 gol dalam 22 pertandingan – ini menjadi jumlah gol yang lebih baik dibandingkan yang dia kumpulkan selama musim lainnya dalam karirnya di sepak bola.

Namun, Coutinho kemudian hanya bukukan 11 gol dalam 54 pertandingan di musim berikutnya, dan ini menjadi rasio gol terburuknya sejak musim 2014/15.

Mengingat Barcelona memenangkan liga musim itu, mencapai final Copa del Rey, dan mencapai semifinal Liga Champions, jumlah ini menjadi hasil yang mengecewakan.

Dalam beberapa pertandingan pertama di masa kepemimpinan Ronald Koeman, Coutinho terlihat sangat tajam dan selalu terlibat di lapangan. Tapi dia kini menurun akibat cedera dan sudah tertinggal di belakang pemain muda, Pedri, dalam urutan permainan di Barca.

AHABET
AHABET