Mourinho Anggap Pemain Turki Ini Gila Ingin Tinggalkan Real Madrid

Mourinho Anggap Pemain Turki Ini Gila Ingin Tinggalkan Real Madrid

Gilabola.com – Jose Mourinho menilai pemain gelandang Turki Hamit Altintop yang ia datangkan pada tahun 2011 gila ingin tinggalkan Real Madrid.

Bergabung dengan Los Blancos harusnya menjadi kesempatan seumur hidup, namun bagi beberapa pemain tekanan dan masalah lain yang datang dengan bermain untuk Los Blancos merupakan sumber masalah, seperti halnya yang dialami mantan pemain asal Turki mereka.

Gelandang Turki Hamit Altintop didatangkan oleh Jose Mourinho pada tahun 2011, namun pelatih asal Portugal itu tidak bereaksi dengan baik ketika sang pemain memintanya untuk membiarkan dirinya pergi, dengan menyatakan bahwa ia tidak tahan lagi di klub.

“Apakah kamu gila? Kamu ingin meninggalkan Madrid? Itu tidak mungkin, tetapi bagaimana kamu bisa berpikir begitu?” teriak Jose Mourinho ketika Altintop datang ke kantornya.

Advertisement
RatuCasino77
RatuCasino77
SBOTOP
SBOTOP

Untuk Altintop, bagaimanapun, itu bukan pengalaman yang dia sesali dalam kariernya. Pemain berusia 36 tahun itu mengatakan kepada MARCA: “Los Blancos sangat penting bagi saya. Itu adalah langkah menentukan dalam karier saya. Saya suka dengan klub, kota, presiden [Florentino Perez], Jose Angel [Sanchez] – Direktur Umum Real Madrid, tetapi saya tidak bisa melanjutkan karier saya disana.”

Karena itu, Altintop merelakan kontrak tiga tahun dan gajinya untuk menjadi pemain berstatus bebas agen dan meninggalkan Estadio Santiago Bernabeu.

Altintop tak menyesal tinggalkan Real Madrid

“Saya tiba [di Madrid] dan Anda melihat diri Anda di sana bersama [Cristiano] Ronaldo, [Iker] Casillas, [Gonzalo] Higuain, [Karim] Benzema, [Sami] Khedira … dan Anda mulai merasakan tanggung jawab untuk melakukannya dengan baik. Selama tiga bulan saya hanya ingin terus berlatih tanpa merasakan rasa sakit.”

Masalah bagi Altintop adalah bahwa tekanan untuk menjadi pemain Los Blancos mulai memengaruhi mentalnya, yang membuatnya mengisolasi dirinya dari anggota skuad lainnya.

“Dengan siapa saya bergaul? Saya memiliki hubungan yang baik dengan semua orang, ruang ganti tim sangat bagus, tetapi untuk waktu yang lama saya menutup diri untuk melupakan masalah,” kenang Altintop.

“Itu adalah kesempatan seumur hidup. Saya tidak bisa menjadi Altintop yang asli. Aku tidak bisa membaca pers, tetapi saya tahu apa yang mereka katakan.”