Nasib Arbeloa di Real Madrid Ditentukan Laga Hidup Mati Kontra Wakil Portugal di Liga Champions

Real Madrid membuka kemungkinan mengakhiri kerja sama dengan Álvaro Arbeloa apabila gagal melewati Benfica pada playoff fase gugur Liga Champions. Berita media Spanyol menyebut hasil leg kedua tengah pekan ini bisa menjadi penentu arah kebijakan klub terhadap pelatih yang baru mengambil alih tim musim ini.

Situasi memanas setelah kekalahan 1-2 dari Osasuna pada Sabtu lalu membuat Real Madrid kehilangan posisi puncak La Liga. Di laga tersebut, tim ibu kota kembali terlihat tumpul saat menghadapi pertahanan rapat lawan. Minim kreativitas di sepertiga akhir lapangan menjadi masalah yang kembali muncul, mengulang pola yang sudah beberapa kali terjadi sepanjang musim.

Menurut SPORT, kegagalan melaju ke babak 16 besar Liga Champions berpotensi memicu apa yang disebut sebagai “krisis belum pernah terjadi sebelumnya” di Santiago Bernabéu. Opsi kesepakatan pemutusan kontrak disebut tidak tertutup, meski manajemen dikabarkan enggan mengambil langkah pemecatan langsung karena keterbatasan alternatif pelatih yang tersedia saat ini.

Tekanan Bukan Hanya untuk Arbeloa

Tekanan besar di klub sebesar Real Madrid tidak hanya diarahkan kepada pelatih. Para pemain juga memikul tuntutan untuk kembali menghadirkan trofi.

Perubahan situasi klub dalam dua musim terakhir menjadi latar yang memperberat atmosfer. Pada 2023-24, Real Madrid menutup musim dengan gelar Liga Champions, La Liga, dan Piala Super Spanyol. Namun pada 2024-25, tim gagal meraih satu pun trofi utama. Musim terakhir Carlo Ancelotti saat itu banyak dipengaruhi krisis cedera di lini belakang.

Memasuki 2025-26, manajemen sebenarnya sudah merespons dengan merekrut tiga bek anyar, yakni Trent Alexander-Arnold, Dean Huijsen, dan Álvaro Carreras. Meski demikian, hasil di lapangan belum mencerminkan perbaikan signifikan. Real Madrid kalah di final Piala Super Spanyol, tersingkir di babak 16 besar Copa del Rey, dan kini hanya menyisakan peluang di La Liga serta Liga Champions.

Apabila gagal menyingkirkan Benfica, maka Liga Champions akan lepas dari genggaman lebih cepat dari yang diharapkan. Artinya, hanya gelar liga domestik yang tersisa sebagai target realistis musim ini. Dalam konteks klub dengan 15 gelar Eropa, skenario itu jelas menambah tekanan struktural, bukan sekadar persoalan teknis di lapangan.

Sebaliknya, kelolosan ke 16 besar akan sedikit meredakan situasi menjelang tiga bulan penentu musim.

Arbeloa dan Momentum Vinicius Junior

Secara hasil, masa kerja Arbeloa memang belum stabil. Di bawah arahannya, Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey oleh klub divisi dua Albacete, gagal mengamankan posisi delapan besar fase liga kompetisi Eropa, dan kini kehilangan puncak klasemen Liga Spanyol setelah terpeleset kontra Osasuna.

Namun ada tanda perbaikan tertentu. Salah satunya terlihat dari kebangkitan Vinicius Junior. Penyerang asal Brasil itu sempat melalui 16 pertandingan tanpa gol. Dalam empat laga terakhir, ia mencetak lima gol dan kembali menjadi pembeda di lini depan.

Performa Vinicius Junior jelas berdampak langsung pada peluang Real Madrid meraih gelar. Ketika sang penyerang berada dalam kondisi terbaik, produktivitas tim meningkat signifikan. Arbeloa berhasil mengembalikan ketajaman yang sebelumnya belum muncul pada periode sebelumnya.

Meski demikian, satu pemain tidak cukup untuk menutupi persoalan yang lebih luas. Real Madrid masih memiliki kekurangan di beberapa sektor, termasuk lini tengah yang sejak dua musim terakhir membutuhkan gelandang pengatur tempo dari posisi lebih dalam.

Di klub sebesar Real Madrid, pertimbangan keadilan jarang menjadi faktor utama dalam menentukan masa depan pelatih. Hasil di lapangan tetap menjadi ukuran final. Laga kontra Benfica pun bukan sekadar pertandingan fase gugur, melainkan momen yang bisa menentukan apakah Arbeloa mendapat waktu tambahan atau justru harus mengakhiri perjalanannya lebih cepat dari rencana awal.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!