Site icon Gilabola.com

Tampil Nyaris Sempurna, Bintang Muda Real Madrid Tantang Keputusan Arbeloa

Thiago Pitarch bintang muda Real Madrid

Di tengah ketatnya persaingan di skuad utama Real Madrid, muncul satu nama muda yang mulai mencuri perhatian. Usianya baru 18 tahun, bermain di lini tengah, dan dalam beberapa pekan terakhir performanya membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah waktunya sudah tiba untuk naik ke level tertinggi di Liga Spanyol?

Jawaban itu belum diumumkan secara resmi. Namun, satu hal jelas, pemain muda ini sedang berusaha keras membuka pintu menuju tim utama.

Perubahan Nasib Sejak Pergantian Pelatih

Nama pemain tersebut adalah Thiago Pitarch. Saat Xabi Alonso masih menangani Real Madrid, Pitarch termasuk pemain akademi yang paling sering ikut berlatih bersama tim utama. Ia juga kerap dipanggil masuk skuad pertandingan, meski belum sempat menjalani debut.

Namun, situasinya berubah setelah Alvaro Arbeloa mengambil alih. Meski Arbeloa dikenal aktif mempromosikan pemain dari Castilla dan akademi, Pitarch justru belum sekali pun masuk daftar skuad di bawah kepemimpinannya.

Kondisi ini membuat posisi Pitarch seolah tertinggal dibandingkan pemain muda lainnya, meski kualitasnya tidak diragukan.

Penampilan Gemilang Lawan Marseille

Kesempatan membuktikan diri datang lewat ajang UEFA Youth League. Dalam laga melawan Marseille, Pitarch tampil luar biasa dan menjadi motor permainan Real Madrid Juvenil A.

Pada pertandingan tersebut, ia mencetak satu gol spektakuler dan terlibat langsung dalam dua gol lainnya. Kontribusinya membantu tim meraih kemenangan telak 5-2.

Tak hanya mencetak gol, statistik pribadinya juga nyaris sempurna. Pitarch mencatat akurasi umpan hingga 90 persen dengan 52 operan sukses. Ia juga sukses dalam semua dribel yang dicoba (2 dari 2), semua tekel (3 dari 3), dan seluruh umpan panjangnya (4 dari 4).

Dalam duel perebutan bola, ia memenangkan enam dari tujuh kesempatan. Penampilan itu membuatnya terpilih sebagai Man of the Match.

Laga ini menjadi sinyal kuat bahwa dirinya masih layak diperhitungkan untuk level yang lebih tinggi.

Pernah Dekat dengan Tim Utama

Sebelum era Arbeloa, Pitarch sebenarnya sudah sangat dekat dengan tim utama. Selain kiper Sergio Mestre, ia menjadi pemain akademi yang paling sering dipanggil Xabi Alonso tanpa sempat debut.

Total, ia sudah 11 kali masuk daftar skuad pertandingan. Rinciannya, tujuh kali di La Liga, satu kali di Copa del Rey melawan Talavera—di mana ia sempat melakukan pemanasan tanpa dimainkan—satu kali di Liga Champions saat menghadapi Juventus, serta ikut rombongan ke Arab Saudi untuk ajang Piala Super.

Meski belum turun ke lapangan, pengalaman tersebut memberinya gambaran langsung tentang atmosfer sepak bola level tertinggi.

Tantangan di Era Arbeloa

Ironisnya, Arbeloa sebenarnya berperan besar dalam mempercepat perkembangan Pitarch di level junior. Ia menjadi salah satu sosok yang membantu membentuk karakter bermain sang gelandang sejak usia muda.

Namun, hingga kini, Arbeloa belum juga memasukkan Pitarch ke dalam skuad utama. Padahal, tim disebut sedang kekurangan pemain dengan profil seperti dirinya, yakni gelandang yang mampu mengatur tempo sekaligus aktif dalam duel.

Situasi ini membuat persaingan semakin ketat, dan Pitarch harus bekerja lebih keras untuk membuktikan diri.

Ambisi Menembus Pintu Terakhir

Ambisi Pitarch tidak pernah berubah: menjalani debut bersama tim utama Real Madrid. Ia ingin “mendobrak pintu terakhir” yang selama ini masih tertutup.

Penampilannya melawan Marseille menjadi pesan tegas bagi Arbeloa bahwa dirinya siap bersaing. Dengan usia yang masih sangat muda dan performa yang terus meningkat, peluang itu belum tertutup.

Kini, semua bergantung pada keputusan pelatih dan konsistensi Pitarch dalam menjaga level permainannya. Jika ia mampu mempertahankan performa seperti ini, bukan tidak mungkin debut impiannya segera terwujud.

Exit mobile version