
Performa Liam Rosenior bersama Chelsea mulai dipertanyakan setelah hasil buruk yang terus berlanjut. Dalam beberapa pekan terakhir, tim mengalami penurunan signifikan di klasemen Liga Inggris.
Sang pelatih sempat menegaskan bahwa timnya sempat berada di posisi empat sejak ia mengambil alih. Namun kini, posisi tersebut merosot hingga peringkat sembilan dalam periode kepemimpinannya.
Kekalahan dari Manchester United memperpanjang tren negatif menjadi empat laga kalah beruntun, termasuk tiga kekalahan di kandang. Situasi ini menambah tekanan, terutama karena performa di Stamford Bridge sebelumnya jarang seburuk ini.
Meski demikian, Rosenior tetap membela timnya. Ia menilai hasil pertandingan tersebut tidak mencerminkan jalannya laga.
Ia menyebut lawan hanya memiliki satu peluang ketika timnya bermain dengan 10 orang akibat cedera, namun langsung berbuah gol. Sementara itu, timnya terus menekan dengan berbagai peluang, termasuk beberapa kali mengenai tiang gawang.
Menurutnya, tim tampil dominan sepanjang pertandingan, tetapi kegagalan memaksimalkan peluang menjadi faktor utama hilangnya poin.
Krisis Gol Chelsea sejak Maret 2026
Data mendukung sebagian pernyataan tersebut. Sejak pertengahan Maret, tim ini menjadi satu-satunya di liga yang belum mencetak gol, meskipun mencatat jumlah tembakan terbanyak.
| Tim | Gol | Tembakan |
|---|---|---|
| Aston Villa | 8 | 59 |
| Nottingham Forest | 8 | 44 |
| Brighton | 7 | 51 |
| Manchester United | 7 | 54 |
| Bournemouth | 6 | 58 |
| Everton | 6 | 43 |
| Liverpool | 6 | 61 |
| Manchester City | 6 | 57 |
| Sunderland | 6 | 54 |
| Leeds United | 5 | 56 |
| West Ham United | 5 | 28 |
| Arsenal | 4 | 49 |
| Brentford | 4 | 46 |
| Newcastle United | 4 | 42 |
| Fulham | 3 | 58 |
| Tottenham Hotspur | 3 | 51 |
| Burnley | 2 | 38 |
| Crystal Palace | 2 | 23 |
| Wolverhampton Wanderers | 2 | 34 |
| Chelsea | 0 | 67 |
Statistik ini tergolong ekstrem. Namun, peluang yang tercipta mayoritas memiliki kualitas rendah. Bahkan dalam 10 pertandingan terakhir, hanya Wolves yang memiliki rata-rata expected goals per tembakan lebih rendah.
Masalah utama terletak pada kesulitan menembus kotak penalti dan menciptakan peluang berkualitas. Dominasi penguasaan bola tidak diiringi efektivitas di depan gawang.
Ada pula kekhawatiran bahwa masalah ini bukan sekadar taktik, tetapi juga kualitas individu. Hal ini terlihat ketika pemain lawan seperti Matheus Cunha mampu mencetak gol penentu dengan penyelesaian yang klinis.
Pemain asal Brasil tersebut dikenal mampu melampaui nilai expected goals sepanjang kariernya. Sebaliknya, para pemain lini serang tim London tersebut justru memiliki catatan di bawah ekspektasi dalam kompetisi ini.
Sepak bola sering ditentukan oleh detail kecil. Gol kemungkinan akan kembali datang, tetapi ketika pemain seperti Erling Haaland dan Mohamed Salah menjadi penentu bagi tim masing-masing, terlihat jelas bahwa efektivitas di lini depan menjadi pembeda utama.
Florian Wirtz Belum Maksimal di Musim Perdana
Sorotan juga tertuju pada Florian Wirtz yang kini membela Liverpool. Mantan pemain Bayer Leverkusen tersebut dinilai belum memberikan dampak maksimal.
Legenda sepak bola Jamie Carragher menilai kontribusinya masih tergolong biasa saja, meskipun mencatat empat gol dan tiga assist.
Ia berpendapat bahwa pemain tersebut belum benar-benar memberikan ancaman nyata bagi lawan, baik melalui gol maupun assist.
Dalam pertandingan derby melawan Everton, kontribusinya kembali minim. Meski timnya menang melalui gol akhir dari Virgil van Dijk, performa Wirtz tidak terlalu menonjol.
Secara statistik, ia memang unggul dalam menciptakan peluang dari permainan terbuka dan kini berada di posisi kedua di liga, hanya di bawah Bruno Fernandes.
Namun jika ditelusuri lebih dalam, peluang yang diciptakan tidak benar-benar berbahaya. Sebagian besar berasal dari umpan sederhana atau situasi yang tidak menghasilkan ancaman serius.
Secara visual, performanya juga belum meyakinkan. Ia kesulitan mempertahankan bola dalam pertandingan dengan tempo tinggi, kalah dalam duel fisik, serta gagal memberikan pengaruh signifikan.
Dalam laga tersebut, ia hanya mencatat satu dribel sukses tanpa melepaskan satu pun tembakan.
Meski dikenal memiliki gaya bermain elegan dan pergerakan tanpa bola yang aktif, efektivitasnya masih dipertanyakan. Ia termasuk dalam empat besar pemain dengan jumlah lari terbanyak musim ini, meskipun tiga pemain di atasnya memiliki menit bermain lebih banyak.
Namun, keberanian mengambil risiko dan kepercayaan diri belum terlihat. Hal ini kontras dengan pemain muda seperti Rayan Cherki yang tampil berani bersama Manchester City.
Di klub lamanya, Wirtz dikenal sebagai pemimpin permainan. Namun di tim barunya, peran tersebut belum terlihat.
Ia masih memiliki waktu untuk berkembang, apalagi didukung kontrak jangka panjang. Tetapi ekspektasi akan terus meningkat seiring waktu. Carragher menilai bahwa setelah hampir 10 bulan, sudah saatnya kontribusi lebih besar mulai terlihat.
