
Raheem Sterling menghadapi persoalan hukum serius setelah didakwa atas tiga pelanggaran yang berkaitan dengan kecelakaan Lamborghini di jalan tol M3, Inggris. Jika terbukti bersalah atas dakwaan mengemudi secara berbahaya, mantan pemain tim nasional Inggris itu terancam hukuman penjara hingga dua tahun.
Sterling ditangkap setelah mobil Lamborghini yang dikendarainya menabrak pembatas jalan di dekat Minley Interchange pada 28 Mei 2026. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat atau 15.00 WIB.
Kecelakaan itu merupakan insiden tunggal. Tidak ada kendaraan lain yang terlibat dan tidak ada laporan korban luka.
Menurut pernyataan Kepolisian Hampshire & Isle of Wight, Sterling, 31 tahun, dari Berkshire, akan menghadapi tiga dakwaan, yakni mengemudi secara berbahaya, kepemilikan dinitrogen oksida untuk dihirup secara ilegal, serta menolak memberikan sampel pemeriksaan.
Sterling sempat dihentikan petugas dan dibawa ke tahanan setelah kejadian. Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan.
Sebelumnya, kabar yang muncul menyebut Sterling ditangkap atas dugaan kepemilikan obat terlarang Kelas C. Namun, berdasarkan laporan The Sun, perkara yang kini dihadapinya mencakup tiga dakwaan tersebut.
Sidang Sterling Digelar September
Sterling dijadwalkan hadir di Pengadilan Magistrat Basingstoke pada 15 September 2026 untuk menghadapi dakwaan yang diberikan kepadanya.
Kasus ini datang ketika karier sepak bolanya sedang berada dalam fase yang cukup tidak pasti. Sterling saat ini berstatus tanpa klub setelah masa singkatnya bersama Feyenoord berakhir.
Pemain sayap tersebut hanya mencatatkan delapan penampilan untuk klub Belanda itu dengan total 421 menit bermain. Feyenoord, yang saat itu dilatih Robin van Persie, tidak memperpanjang masa tinggalnya setelah musim 2025/26 berakhir.
Sebelumnya, Sterling juga sempat mengalami periode sulit di Chelsea. Ia kembali ke London pada 2022 setelah meninggalkan Manchester City, tetapi kemudian tersisih dari skuad utama dan menghabiskan sebagian musim 2024/25 sebagai pemain pinjaman di Arsenal.
Kontraknya bersama Chelsea akhirnya diakhiri melalui kesepakatan bersama pada Januari tahun ini setelah ia tidak lagi masuk dalam rencana klub dan dilarang menggunakan fasilitas Chelsea ketika berada dalam situasi tersebut.
Sterling kemudian memilih Feyenoord setelah bernegosiasi dengan sejumlah klub.
Pernah Jadi Andalan Manchester City dan Inggris
Jauh sebelum menghadapi persoalan hukum ini, Sterling merupakan salah satu pemain sayap paling produktif di Premier League.
Lulusan akademi QPR tersebut mengawali karier seniornya bersama Liverpool. Pada 2015, ia pindah ke Manchester City dengan nilai transfer £49 juta atau sekitar Rp1,08 triliun.
Bersama City, Sterling memenangkan empat gelar Premier League.
Di level tim nasional, ia mencatatkan 82 penampilan untuk Inggris dan mencetak 20 gol. Sterling juga tampil di beberapa edisi Piala Dunia.
Penampilan terakhirnya bersama The Three Lions terjadi pada perempat final Piala Dunia 2022 ketika Inggris kalah dari Prancis di Qatar. Setelah itu, peluangnya untuk kembali memperkuat Inggris dinilai kecil.
Catatan Sterling di Premier League tetap cukup kuat. Ia telah mencetak 123 gol, yang menempatkannya di posisi ke-20 dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa kompetisi tersebut.
Opini
Kasus ini datang pada momen yang tidak ideal bagi Sterling. Kariernya di lapangan sudah memasuki periode penuh ketidakpastian setelah Feyenoord memilih tidak memperpanjang kontraknya, dan kini ia harus menghadapi proses hukum yang bisa berujung pada hukuman berat.
Untuk saat ini, Sterling masih berstatus sebagai orang yang menghadapi dakwaan, bukan seseorang yang telah dinyatakan bersalah.
Bagi pemain dengan rekam jejak seperti Sterling, persoalan ini bisa menjadi babak penting di luar lapangan. Ia bukan lagi berada pada fase karier ketika satu klub besar siap menunggu dan memberinya kesempatan tanpa banyak pertimbangan.
