Bukan Cuma Winger, Ini Alasan Manchester City Tertarik pada Allan Elias

Manchester City tidak sekadar membeli seorang winger saat merekrut Allan Elias dari Palmeiras. Pemain berusia 22 tahun itu datang dengan kemampuan mengisi beberapa peran sekaligus, dari winger, gelandang, sampai bek.

Palmeiras akan menerima €40 juta dari transfer tersebut, terdiri dari €37,5 juta pembayaran awal dan €2,5 juta dalam bentuk bonus. Angka itu membuat Allan masuk dalam daftar pemain Palmeiras yang menghasilkan keuntungan besar saat meninggalkan klub.

Namun, transfer Allan punya cerita berbeda dibandingkan beberapa pemain muda Palmeiras sebelumnya.

Allan Berkembang Lebih Lambat

Dalam beberapa tahun terakhir, Palmeiras menghasilkan uang besar dari penjualan Endrick ke Real Madrid, Estêvão ke Chelsea, Vitor Reis ke Manchester City, dan Luiz Guilherme ke Sporting CP.

Keempatnya meninggalkan Brasil pada usia 18 tahun. Allan justru baru berusia 22 tahun ketika Manchester City datang.

Ia bukan tipe wonderkid yang langsung meledak sejak usia belasan. Perjalanannya lebih panjang.

Allan berasal dari Brasil bagian selatan dan sebelumnya memperkuat Figueirense, klub Serie C. Figueirense juga akan mendapatkan 10 persen dari nilai transfernya ke Manchester City.

Perjalanan hidupnya tidak mudah. Allan kehilangan saudara perempuannya, Leticia, saat pandemi COVID-19. Ia juga harus menghadapi kematian sahabatnya, Vitor Isaias, dalam kebakaran di fasilitas Flamengo pada 2019.

Dapatkan berita terupdate dari Gilabola.com di Google News. Tambahkan sebagai sumber pilihan

Pada tahun yang sama, Allan bergabung dengan Palmeiras. Tetapi kesempatan menembus tim utama baru datang pada awal tahun lalu, ketika usianya mendekati 21 tahun.

Persaingan di Palmeiras memang sangat ketat.

Saat bermain sebagai winger kanan berkaki kiri, Allan harus berada di belakang Estêvão. Ia baru mendapat ruang lebih besar sebelum Estêvão meninggalkan Palmeiras untuk bergabung dengan Chelsea pada Agustus 2025 dengan nilai €34 juta plus €23 juta dalam bonus.

Kesempatan terbesar Allan datang di Piala Dunia Antarklub FIFA musim panas lalu.

Abel Ferreira Melihat Kelebihan Allan Elias

Pelatih Palmeiras, Abel Ferreira, memberikan Allan peran penting dalam fase gugur Piala Dunia Antarklub.

Palmeiras mencapai perempat final sebelum kalah 2-1 dari Chelsea, yang kemudian menjadi juara.

Pilihan Ferreira bukan tanpa alasan. Ia ingin Estêvão memiliki kebebasan bergerak dan menjadi pemain yang membawa serangan. Allan diberi tugas menjaga keseimbangan di sisi kanan.

Ia bekerja naik turun lapangan, membantu pertahanan sekaligus mempertahankan lebar permainan ketika Palmeiras menyerang.

Kemampuan itu pula yang membuat Manchester City tertarik.

“Tim-tim ini menginginkan pemain seperti Allan karena dia melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan 90 persen winger di sini: menyerang dan bertahan di sisi lapangan selama 90 menit,” kata Ferreira setelah kemenangan 4-1 atas Vasco da Gama.

Menurut Ferreira, kemampuan tersebut membuat harga Allan menjadi tinggi.

Allan tetap memiliki kualitas yang lazim ditemukan pada winger Brasil. Dribbling-nya rapat dan sentuhan pertamanya menjadi salah satu keunggulan utama.

Rogério Ferreira, mantan kepala akademi Palmeiras, bahkan menilai kemampuan Allan bisa berkembang lebih jauh.

Sejak promosi ke tim utama, Allan memang lebih sering bermain sebagai winger kanan. Tetapi saat masih di level junior, ia lebih banyak berperan sebagai No. 10.

Ia juga dinilai mampu bermain sebagai gelandang box-to-box No. 8 dan beroperasi di kedua sisi lapangan.

Rogério juga menyoroti sentuhan pertama Allan. Bukan ketika ia menerima bola dalam keadaan bebas, melainkan saat berada dalam situasi kacau dan dikelilingi pemain lawan.

Kemampuan mengontrol bola dalam kondisi seperti itu membuat Allan mampu terus bergerak tanpa kehilangan penguasaan.

Bahkan, Rogério melihat kemungkinan Allan berkembang menjadi gelandang tengah di Inggris, seperti Anderson ketika bermain di bawah Sir Alex Ferguson di Manchester United.

Tiga Posisi Allan Sudah Tampak di Palmeiras

Kemampuan serbabisa Allan bukan sekadar teori. Palmeiras sudah menggunakannya dalam beberapa situasi berbeda.

Salah satu contohnya terjadi pada semifinal Copa Libertadores musim lalu ketika Palmeiras menghadapi Liga de Quito di Ekuador.

Setelah kalah 3-0 pada leg pertama, Palmeiras membutuhkan kebangkitan besar pada pertandingan kedua. Allan menjadi bagian penting dari respons tersebut.

Ia mengirim umpan silang yang membantu terciptanya gol pembuka melalui Ramón Sosa. Dalam kemenangan 4-0 itu, Allan kembali berperan ketika menggiring bola melewati pertahanan lawan dan memenangkan penalti yang kemudian dikonversi Raphael Veiga.

Itu adalah Allan sebagai winger.

Beberapa waktu kemudian, perannya berubah.

Ketika Palmeiras bertandang ke markas Flamengo dalam pertandingan besar Liga Brasil, Flamengo harus bermain dengan 10 pemain sejak awal setelah salah satu pemainnya mendapat kartu merah.

Allan kemudian bergerak dari sisi kanan menuju area tengah. Ia menjadi pemain tambahan di lini tengah dan membantu Palmeiras menghadapi duet gelandang Flamengo.

Ia bahkan mencetak gol dalam kemenangan 3-0 tersebut.

Kali ini, Allan tampil sebagai gelandang.

Peran ketiganya muncul dalam pertandingan Copa Libertadores melawan Cerro Porteno di Paraguay pekan lalu.

Ferreira menggunakan formasi tiga bek. Allan pun harus mengisi posisi wing-back kanan, tugas yang cukup tidak biasa bagi pemain berkaki kiri.

Tidak ada aksi spektakuler dari Allan dalam kemenangan 1-0 itu. Namun kontribusinya tetap efektif.

Kini, Manchester City mendapatkan pemain yang sudah menunjukkan kemampuan memakai tiga “topi” berbeda di Palmeiras: winger, gelandang, dan bek.

Tantangannya adalah menentukan peran mana yang paling cocok untuk kehidupan barunya di Premier League.

Opini

Manchester City tampaknya belanja pemain dengan fleksibilitas tinggi, bukan sekadar potensi.

Allan memang tidak datang dengan profil wonderkid berusia 18 tahun seperti beberapa pemain Palmeiras sebelumnya. Justru itu yang membuat transfer ini menarik. Ia sudah melalui situasi pertandingan yang memaksanya memahami lebih dari satu posisi.

Kemampuan bertahan selama bermain sebagai winger bisa menjadi modal penting. Begitu pula pengalaman bergerak ke tengah ketika tim membutuhkan tambahan pemain di lini tengah.

Kami melihat nilai utama Allan bukan hanya pada kemampuan menggiring bola, tetapi pada kesediaannya menjalankan pekerjaan yang tidak selalu glamor. Ia bisa menjaga lebar permainan, turun membantu pertahanan, masuk ke tengah, bahkan bermain sebagai wing-back.

Manchester City tentu tetap harus menemukan posisi terbaiknya.