Hansi Flick membawa pasukannya bertamu ke kandang Atletico Madrid. Hari Senin dinihari, 9 November. Laga maha penting di kancah La Liga.
Barcelona saat ini cuma unggul tipis dua poin atas skuad asuhan Diego Simeone. Menang berarti jarak melebar jadi lima poin. Kalah? Skuad Catalan langsung tergelincir dari puncak klasemen.
Tapi. Urusannya bukan sekadar perebutan takhta liga.
Musim lalu menjadi mimpi buruk bagi Hansi Flick. Atletico Madrid bertindak sebagai algojo paling kejam. Menyingkirkan Blaugrana dari dua ajang sekaligus. Copa del Rey dan Liga Champions.
Trauma Masa Lalu
Luka lama itu belum kering. Pertemuan di semifinal Copa del Rey menjadi pukulan telak. Babak pertama di kandang Atletico berubah jadi bencana. Empat gol bersarang tanpa ampun.
Upaya bangkit lewat kemenangan 3-0 di Camp Nou berkat aksi Marc Bernal dan Raphinha tetap gagal menyelamatkan muka. Atletico melenggang dengan agregat tipis 4-3.
Apesnya lagi, petaka berlanjut di perempat final Liga Champions. Kartu merah Pau Cubarsi jadi pemicu hancurnya pertahanan Blaugrana. Takluk dua gol tanpa balas di leg pertama.
Perjuangan heroik di Madrid lewat gol Lamine Yamal dan Ferran Torres akhirnya sia-sia usai dibalas Ademola Lookman. Agregat akhir 3-2 untuk keunggulan tuan rumah.
Memori Manis di Liga
Gara-gara hasil minor itu, Atletico menjelma jadi batu sandungan paling berat.
Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!
Namun. Anak asuh Hansi Flick masih punya secercah memori indah saat bertandang ke sana. Bulan April 2026 silam. Gol cepat Giuliano Simeone sempat membuat suporter tuan rumah bersorak.
Mental juara bicara! Marcus Rashford langsung menyamakan kedudukan. Robert Lewandowski tampil sebagai pahlawan lewat gol kemenangan di pengujung laga. Keuntungan bertambah usai Nicolas Gonzalez diganjar kartu merah. Skor akhir 2-1 untuk tim tamu.
Kini berita baru masuk. Hansi Flick punya kans emas. Melunasi utang kekalahan masa lalu sekaligus mengamankan takhta puncak klasemen sebelum jeda internasional bulan November tiba.


