Usai kerusuhan Arema FC vs Surabaya FC, Suporter Bisa Dilarang ke Stadion dan Liga 1 Indonesia Dihentikan

Kerusuhan usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10) malam, Liga 1 Indonesia dihentikan selama satu pekan, sementara suporter bisa dilarang datang ke stadion.

Diungkapkan Ketua PSSI, Iwan Bule, pihaknya telah memutuskan untuk menghentikan sementara kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2022/23 selama satu pekan dan Arema FC dilarang menjadi tuan rumah di sisa musim ini.

“Untuk sementara Liga 1 Indonesia musim 2022/23 akan kami hentikan selama satu pekan, dan Arema FC tak boleh menjadi tuan rumah di sisa kompetisi musim ini,” ungkap Iwan Bule dalam Liputan6.com.

Data terakhir, kerusuhan usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya ini telah menewaskan sedikitnya 129 orang. Sementara pertandingan itu sendiri hanya ditonton para suporter Arema, tanpa kehadiran fans tim tamu yang tak diperbolehkan untuk datang menonton ke Stadion Kanjuruhan, Malang.

Sementara dalam wawancara jarak jauh dengan Kompas TV di Jakarta, Minggu (2/10) pagi, Menteri Olahraga dan Pemuda, Zainudin Amali, semua hal terkait pertandingan Arema FC kontra Persebaya akhir pekan ini akan dievaluasi, termasuk kemungkinan pelarangan kehadiran penonton atau suporter di stadion.

Akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan ini pula, Indonesia kini berada di urutan KEDUA daftar ‘Deadliest Soccer Matches in History’ setelah insiden tewasnya 328 suporter sepak bola di Estadio Nacional Disaster di Lima, Peru, 24 Mei 1964.

Zainudin juga menegaskan, hal ini benar-benar tidak bisa ditolerir lagi, dan harus menjadi insiden kerusuhan terakhir yang terjadi di sepak bola Indonesia.

Menurutnya, Kemenpora akan memprioritaskan evaluasi kasus kerusuhan di Kanjuruhan ini pada penyelenggaraan pertandingan, kesiapan panpel pertandingan, pengamanan dan satu hal yang paling penting, apakah setelah insiden ini penonton tetap bisa meramaikan pertandingan Liga 1 Indonesia langsung di stadion.

Selain itu, Zainudin juga mengakui, pihaknya akan mengevaluasi lagi waktu pertandingan, di mana sebagian besar pertandingan akbar biasanya digelar di malam hari.

Zainudin mengaku sangat prihatin dengan situasi ini, apalagi insiden ini terjadi di saat Indonesia tengah mempersiapkan diri menjadi penyelenggara kejuaraan dunia. Menurutnya, kerusuhan Kanjuruhan ini benar-benar telah mencederai sepak bola Indonesia.

Usai pertandingan yang dimenangkan Persebaya, 2-3, itu sebagian suporter Arema FC digambarkan turun ke lapangan dan suasana menjadi chaos. Sebagian suporter lain memang tetap berada di tribun penonton, tapi tak sedikit yang lakukan pelemparan di area lapangan.

Sampai akhirnya kepanikan muncul setelah polisi melepaskan gas air mata, hingga para suporter berduyun-duyun berusaha meninggalkan stadion dan berdesak-desakan.