Manchester City melihat sesuatu yang lebih dari sekadar bakat muda dalam diri Allan Elias. Pemain Palmeiras itu disebut menjadi target transfer senilai £34 juta atau sekitar Rp748 miliar, sebuah investasi besar untuk pemain yang perjalanan menuju level tertinggi justru dibentuk oleh kerja keras dan berbagai pengalaman pahit.
Julukan masa kecilnya, ‘Mini Balotelli’, juga bukan karena karakter kontroversial seperti Mario Balotelli. Allan mendapat julukan tersebut lantaran pernah memakai gaya rambut mohawk pirang. Inspirasinya justru berasal dari Neymar, pemain yang menjadi salah satu pahlawannya.
Di balik penampilan penuh gaya itu, ada kisah yang jauh lebih berat.
Allan Elias dan Tragedi Yang Membentuk Mentalnya
Selama pandemi Covid-19, Allan kehilangan saudara perempuannya, Leticia. Sejak saat itu, gestur membentuk huruf ‘L’ dengan tangan setiap kali mencetak gol menjadi cara Allan mengenang sang kakak.
Tragedi lain juga datang dari lingkaran pertemanannya. Allan memiliki tato untuk mengenang sahabatnya, Gustavo Paco, yang meninggal akibat kecelakaan sepeda motor sehari setelah keduanya bermain bersama di pantai.
Perjalanan Allan menuju sepak bola profesional akhirnya tidak hanya soal kemampuan di lapangan. Pengalaman tersebut ikut membentuk ketahanan mentalnya.
Itulah salah satu alasan mengapa keberhasilannya menembus tim utama Palmeiras terasa istimewa.
Mantan pelatih Allan di tim junior Palmeiras U15 dan U20, Lucas Andrade, melihat perkembangan sang pemain memang membutuhkan waktu. Allan bukan tipe pemain yang langsung melesat hanya karena status wonderkid.
Pada akhir 2024, Allan bahkan sempat merasa dirinya mungkin harus meninggalkan Palmeiras. Ia melihat sejumlah pemain lain mendapat kesempatan promosi lebih dahulu.
Andrade tetap melihat potensi besar dalam dirinya. Penampilan Allan dalam turnamen usia muda di Inggris bahkan membuat sang pelatih yakin bahwa suatu hari anak asuhnya tersebut mampu bermain di Premier League.
Kini kesempatan itu semakin dekat.
Abel Ferreira Melihat Kemampuan Allan Yang Berbeda
Pelatih Palmeiras, Abel Ferreira, menjadi sosok penting dalam perjalanan Allan. Ferreira menyadari potensi sang pemain dan meminta direktur olahraga Anderson Barros untuk mempertahankannya.
Keputusan tersebut terbukti tepat.
Ferreira memuji karakter, profil permainan, kerja keras Allan ketika bertahan, serta kemampuannya bermain vertikal. Ia juga mengungkapkan bahwa Allan sempat menjadi salah satu pemain dengan gaji terendah di tim utama Palmeiras sebelum kontribusinya mulai mendapatkan pengakuan.
Allan menjalani debut bersama tim senior Palmeiras pada Januari tahun lalu. Sebulan kemudian, ia mencetak gol pertamanya.
Orang tuanya bahkan sempat viral di Brasil setelah merekam momen ketika mereka merayakan penampilan sang anak dengan penuh kegembiraan.
Perkembangannya kemudian semakin cepat. Pada musim panas, Allan mendapat kepercayaan menjadi pemain inti Palmeiras di Club World Cup. Ia mengisi posisi sayap kanan yang sebelumnya ditempati Estevao.
Dari sana, kualitas Allan semakin terlihat.
Bisa Menyerang dan Bertahan 90 Menit
Salah satu kelebihan Allan yang paling menonjol adalah kemampuannya menjalankan tugas di kedua sisi permainan. Ia dinilai mempunyai kemampuan yang jarang dimiliki 90 persen pemain sayap lain, yakni tetap aktif menyerang sekaligus membantu pertahanan sepanjang 90 menit.
Angka di Brazilian Championship juga mendukung perkembangan tersebut.
Allan mencatatkan empat gol dan tiga assist dalam 21 pertandingan. Ia juga berada di posisi kedua dalam daftar pemain dengan jumlah dribel sukses terbanyak di kasta tertinggi Liga Brasil musim ini.
Dalam duel satu lawan satu, Allan sangat berbahaya. Ia kerap menggunakan kaki kirinya yang merupakan kaki terkuat untuk memotong ke dalam setelah melewati lawan.
Namun, kemampuan teknis bukan satu-satunya modal yang membuatnya menarik bagi Manchester City.
Allan bisa bermain di tengah maupun kedua sisi penyerangan. Ia juga punya kontribusi besar ketika Palmeiras kehilangan bola dan harus bertahan.
Fleksibilitas itu bahkan membuatnya dipercaya bermain sebagai wing-back kanan ofensif dalam formasi 3-4-1-2 racikan Abel Ferreira.
Kemampuan berpindah peran seperti itu membuat profil Allan sangat sesuai dengan tuntutan taktik di Premier League. Ia tidak hanya menawarkan kecepatan dan dribel, tetapi juga kemampuan menjalankan tugas berbeda dalam satu pertandingan.
Opini
Allan Elias bukan transfer yang menarik hanya karena usianya atau potensi yang dimilikinya. Justru kombinasi mental, fleksibilitas posisi, serta kemauan bekerja untuk tim membuat langkah Manchester City ini masuk akal.
Pemain muda dengan kemampuan menyerang memang tidak sulit ditemukan. Tetapi pemain sayap yang mampu bertahan, bermain di beberapa posisi, kuat dalam situasi satu lawan satu, dan tetap menjalankan tugasnya sepanjang pertandingan memiliki nilai berbeda.
Itu yang membuat Allan Elias layak dipandang sebagai salah satu permata Palmeiras yang selama ini belum banyak mendapat sorotan.

