
Gilabola.com – Pertandingan melawan Man City disebut sebagai penentu gelar Premier League, dan kini harapan itu justru menjadi beban bagi Arsenal.
Manchester City berhasil meraih kemenangan tipis 2-1 dalam laga yang berjalan ketat dan menarik. Hasil ini membuat jarak poin dengan The Gunners hanya tersisa tiga angka, dengan satu pertandingan lebih banyak di tangan.
Jika tim asuhan Pep Guardiola meraih kemenangan pada pertengahan pekan melawan Burnley, maka Arsenal berpotensi turun ke posisi kedua saat menjamu Newcastle akhir pekan nanti.
Secara permainan, performa Arsenal sebenarnya menunjukkan peningkatan dibanding beberapa laga sebelumnya. Namun, penyelesaian akhir yang kurang maksimal menjadi faktor yang merugikan.
Arsenal Terpukul, Tapi Belum Tersingkir
Suasana penuh semangat tetap terlihat dari para pendukung Arsenal saat peluit akhir berbunyi.
Mereka baru saja menyaksikan tim kesayangan mengalami kekalahan menyakitkan, yang menjadi kekalahan keempat dalam enam pertandingan terakhir, periode yang kembali menunjukkan tren buruk di bulan April.
Meski demikian, para suporter tetap memberikan apresiasi kepada pemain. Dukungan ini menjadi sinyal bahwa peluang juara masih belum sepenuhnya hilang. Kepastian itu akan ditentukan dalam lima pertandingan terakhir musim ini.
Tim asuhan Mikel Arteta sebenarnya tidak kalah secara permainan. Mereka tidak runtuh di bawah tekanan laga besar, tetapi tampil kurang efektif di depan gawang.
Hal tersebut menjadi pembeda. Jika persaingan gelar ditentukan oleh selisih gol, situasi ini harus segera diperbaiki.
Jika duel perebutan gelar hanya melibatkan Arsenal dan City, peluang trofi kembali ke Manchester tampak lebih besar.
Namun, di sisi lain, ada sedikit hal positif. Permainan Arsenal kali ini merupakan yang terbaik dalam beberapa pekan terakhir dan bisa menjadi fondasi untuk bangkit.
Performa Naik Turun Kai Havertz
Keputusan lini depan menjadi pekerjaan rumah bagi Arteta.
Dalam laga yang membutuhkan pemain untuk menahan bola, Kai Havertz dipercaya sebagai starter. Ia tampil cukup efektif sebagai titik tumpu serangan dibanding Viktor Gyokeres dan mampu mengalirkan bola dengan baik.
Selain itu, kontribusinya dalam pressing juga sangat menonjol. Ia memaksa terjadinya gol penyama kedudukan dengan menekan Gianluigi Donnarumma hingga kesalahan clearance berujung gol.
Namun, efektivitas di depan gawang masih menjadi masalah.
Pemain asal Jerman itu mendapatkan peluang emas dari umpan Martin Odegaard sekitar menit ke-60, tetapi gagal memaksimalkannya. Lima menit kemudian, Erling Haaland mencetak gol penentu kemenangan.
Kesempatan emas lainnya hadir di masa tambahan waktu melalui sundulan bebas, tetapi bola justru melambung di atas mistar.
Dua momen tersebut sangat krusial, bukan hanya dalam pertandingan ini tetapi juga dalam perjalanan musim Arsenal. Dampaknya bisa terasa hingga akhir Mei.
Arteta saat ini belum memiliki penyerang yang benar-benar lengkap. Gyokeres unggul dalam penyelesaian akhir, tetapi kurang di aspek lain, sementara Havertz gagal tampil maksimal di momen penting.
Gabriel Kalah Duel dari Haaland
Di awal pertandingan, Gabriel Magalhaes tidak banyak berhadapan langsung dengan Haaland.
Bek asal Brasil itu lebih sering mengikuti pergerakan Cherki, sementara William Saliba fokus menjaga Haaland secara ketat.
Situasi berubah menjelang akhir babak pertama ketika Haaland memenangkan duel udara dan terlibat kontak fisik dengan Gabriel.
Penampilan Gabriel jauh dari performa terbaiknya. Ia kalah mudah saat menghadapi Cherki pada gol pertama dan kembali kehilangan posisi saat Haaland mencetak gol kemenangan dari tiang jauh.
Bek tengah tersebut bahkan beruntung bisa menyelesaikan pertandingan tanpa kartu merah.
Dalam duel lainnya, Haaland mendorongnya, dan Gabriel terpancing emosi. Ia sempat melakukan kontak kepala yang berpotensi berujung kartu merah langsung, tetapi terhindar karena minimnya reaksi dari Haaland.
Sepanjang musim ini, Gabriel tampil konsisten dan menjadi salah satu pemain terbaik Arsenal. Namun, pada laga penting ini, ia justru tampil di bawah standar.
