Baru 20 Hari Jadi Pelatih Tottenham, Igor Tudor Sudah Layak Dipecat? Daripada Turun Kasta!

OPINI: Tottenham Hotspur seharusnya mengambil keputusan tegas dengan segera memberhentikan Igor Tudor setelah kekalahan memalukan di kandang dari Crystal Palace.

Tiga pertandingan telah berlalu. Nol poin didapat. Hanya tiga gol yang berhasil dicetak, sementara sembilan kali gawang mereka kebobolan. Jika Tottenham tetap melanjutkan eksperimen bersama Igor Tudor melewati akhir pekan ini, skenario terburuk yang bisa terjadi adalah terdegradasi ke Championship.

Bagi klub yang berstatus juara Liga Europa dan juga masih tampil di babak 16 besar Liga Champions, situasi tersebut sebenarnya terasa sulit dibayangkan. Namun sekarang hal itu tidak lagi mustahil. Tottenham sedang berada dalam kondisi kacau total, baik di dalam maupun di luar lapangan. Situasinya sudah menjadi kekacauan besar dan perubahan drastis tampaknya tidak bisa dihindari.

Menonton Spurs saat ini menjadi pengalaman yang menyakitkan, kecuali bagi para pendukung Arsenal. Ironisnya, performa tim justru semakin buruk sejak kedatangan Tudor. Alih-alih membaik, mereka malah semakin mundur.

Harapan akan munculnya efek positif dari pelatih baru sudah benar-benar lenyap. Tottenham kini telah menelan lima kekalahan beruntun di Premier League. Bahkan sepanjang tahun 2026 mereka sudah menjalani 11 pertandingan liga tanpa satu pun kemenangan. Ini merupakan rentetan tanpa kemenangan terpanjang sejak Oktober 1975. Jika pada akhirnya mereka benar-benar terdegradasi, sulit untuk mengatakan bahwa hal itu tidak pantas mereka terima.

Para petinggi klub juga harus berani mengambil langkah keras, meskipun kegagalan Tottenham juga merupakan tanggung jawab mereka sendiri. Tudor perlu dipecat karena para pemain tampaknya tidak mempercayainya. Para suporter pun jelas tidak mendukungnya, terlihat dari sorakan cemoohan keras saat turun minum dan banyaknya fans yang meninggalkan stadion sebelum babak kedua dimulai. Sang pelatih belum memberi alasan bagi mereka untuk tetap percaya.

Kesempatan Masih Ada, Tapi Waktu Terus Menipis

Tottenham sebenarnya masih memiliki peluang untuk menyelamatkan musim mereka. Masih tersisa sembilan pertandingan liga, ditambah duel dua leg babak 16 besar Liga Champions melawan Atletico Madrid.

Beberapa laga domestik terakhir juga mempertemukan mereka dengan tim yang sama-sama berjuang menghindari degradasi seperti Nottingham Forest, Wolverhampton Wanderers, dan Leeds United. Namun melihat performa dan hasil belakangan ini, kemungkinan besar penderitaan Spurs masih akan berlanjut.

Apakah kartu merah yang diterima Micky van de Ven saat melawan Crystal Palace sepenuhnya kesalahan Tudor? Tentu tidak. Namun suasana stadion berubah sangat beracun ketika Palace mencetak tiga gol hanya dalam tujuh menit, mirip dengan situasi menjelang berakhirnya masa kepelatihan Thomas Frank.

Meski pelatih asal Kroasia itu melakukan sejumlah perubahan dalam susunan pemain dan Spurs sempat unggul 1-0, tim tetap saja runtuh.

Performa Serangan yang Sangat Buruk

Pada babak kedua melawan Palace, Spurs yang bermain dengan 10 orang berusaha bangkit. Setidaknya para pemain tidak sepenuhnya menyerah dan tetap mencoba mengejar ketertinggalan, kemungkinan setelah mendapat teguran keras dari Tudor di ruang ganti saat jeda.

Namun pada akhirnya mereka hanya mampu mencatatkan dua tembakan tepat sasaran, jumlah yang sama seperti ketika masih bermain dengan 11 pemain di babak pertama.

Saat menghadapi Fulham, mereka bahkan hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran sepanjang 90 menit. Melawan Arsenal, ada lima tembakan tepat sasaran, tetapi dua di antaranya terjadi ketika skor sudah 3-1 untuk Arsenal dan satu lagi saat kedudukan 4-1. Statistik tersebut menunjukkan Spurs hampir tidak memberi diri mereka peluang untuk memenangkan pertandingan.

Tudor Tetap Percaya Timnya Bisa Bangkit

Meski baru saja kalah dari Crystal Palace, Tudor tetap menyatakan keyakinannya kepada tim.

Ia mengatakan kepada TNT Sports bahwa tim harus terus bekerja keras dan tetap percaya. Menurutnya, setelah pertandingan tersebut ia justru merasa lebih yakin dibanding sebelumnya, walaupun pernyataan itu mungkin terdengar aneh.

Ia mengaku melihat sesuatu dalam tim, termasuk di ruang ganti setelah pertandingan. Tudor juga menyebut bahwa ketika para pemain yang cedera kembali dan ia dapat memilih komposisi yang tepat, tim akan tampil lebih baik.

Menurutnya, masih ada energi positif, keinginan kuat untuk berjuang, serta semangat yang terlihat dari para pemain. Ia menilai kartu merah yang diterima timnya sangat memengaruhi jalannya pertandingan. Dengan sembilan laga tersisa, ia yakin Tottenham masih bisa memperbaiki keadaan jika skuad kembali lengkap.

Dampak Negatif yang Terasa Cepat

Memang benar Tudor dapat beralasan bahwa ia harus bekerja dengan banyak pemain yang absen. Namun jika melihat susunan pemain yang diturunkannya sejauh ini, apakah mereka benar-benar jauh lebih lemah dibanding Fulham atau Crystal Palace?

Perlu diingat juga bahwa Palace sendiri sempat mengalami situasi sulit. Pelatih mereka, Oliver Glasner, bahkan sempat mengkritik para pendukung klubnya sendiri dan muncul spekulasi bahwa ia bisa saja dipecat.

Meminta Tottenham memecat Tudor setelah hanya 20 hari tentu terasa kejam. Waktu tersebut memang sangat singkat untuk memberikan dampak positif. Namun klub harus menempatkan masa depan mereka sebagai prioritas utama.

Dan kenyataan pahitnya, pengaruh yang diberikan Tudor sejauh ini justru sangat buruk. Bukannya menyatukan klub dan para pendukung, ia malah membuat situasi semakin panas. Optimisme bahwa Spurs bisa bertahan di Premier League bahkan terasa lebih kecil dibanding ketika ia pertama kali datang.

Tottenham membutuhkan para pemain senior untuk mengambil tanggung jawab lebih besar. Namun di bawah kepemimpinan Tudor, hal itu tidak terlihat. Tidak ada aspek permainan yang benar-benar membaik.

Dengan ancaman degradasi yang kini terasa sangat nyata, Spurs mungkin harus kembali mengambil risiko dengan perubahan besar lainnya. Terdegradasi ke Championship pada musim yang sama ketika Arsenal memenangkan Premier League bisa menjadi musim Liga Inggris terburuk dalam sejarah Tottenham Hotspur.

Biar nggak ketinggalan update terkini, yuk follow kami di Google News di sini!