HomeLiga InggrisJordan Henderson Cium Lambang Chelsea, Padahal Bukan...

Jordan Henderson Cium Lambang Chelsea, Padahal Bukan Fans Sejak Kecil

Jordan Henderson kembali jadi sorotan setelah mencetak dua gol buat Chelsea saat membantai Bournemouth. Sayangnya, aksi mantan kapten Liverpool itu justru menuai sindiran gara-gara selebrasinya yang mencium atau menepuk lambang klub.

Henderson tampil gemilang lewat dua golnya, termasuk tendangan bebas indah yang ikut mewarnai kemenangan besar The Blues. Setelah mencetak gol, gelandang tersebut terlihat menepuk lambang Chelsea di seragamnya.

Sekilas biasa saja, kan? Tapi buat sang penulis sumber, gestur itu justru terasa janggal karena Henderson bukanlah pendukung Chelsea sejak kecil.

Henderson lahir dan tumbuh sebagai penggemar Sunderland. Ia bahkan sempat bermain buat klub kota kelahirannya sebelum menjadi kapten Liverpool, salah satu rival terbesar Chelsea.

Lantas, apa masalahnya dengan selebrasi tersebut?

Bagi banyak penggemar sepak bola, mencium atau menepuk lambang klub punya makna khusus. Gestur itu biasanya menunjukkan kebanggaan terhadap tim yang dicintai, bahkan klub yang sudah didukung sejak masa kecil.

Masalahnya, Chelsea bukan klub yang membesarkan Henderson sebagai pemain maupun penggemar. Klub London Barat tersebut justru menjadi persinggahan ketujuh dalam perjalanan kariernya.

Kontroversi Henderson di Arab Saudi

Kritik terhadap Henderson bukan cuma soal selebrasi. Penulis sumber juga mengungkit keputusannya bergabung dengan Al-Ettifaq di Arab Saudi setelah sebelumnya menyatakan dukungan terhadap komunitas LGBT+.

Henderson pernah menyuarakan dukungannya terhadap kampanye Rainbow Laces. Kampanye tersebut bertujuan mendorong inklusivitas bagi komunitas LGBT+ dalam sepak bola.

Jadikan Gilabola.com sumber berita pilihan Anda!

Kabarnya, ia kemudian menerima bayaran sekitar 700.000 poundsterling per pekan saat bergabung dengan Al-Ettifaq. Jika dikonversi dengan kurs ilustratif Rp22.000 per poundsterling, nominal itu setara sekitar Rp15,4 miliar per pekan.

Penulis sumber juga menyoroti laporan bahwa foto Henderson yang mengenakan ban kapten pelangi di klub Arab Saudi tersebut diubah menjadi hitam putih.

Perubahan itu dinilai bertolak belakang dengan pesan inklusivitas yang sebelumnya ia suarakan. Penulis bahkan mempertanyakan ketulusan sikap Henderson dalam mendukung kampanye tersebut.

Meski begitu, penulis menegaskan bahwa dirinya tidak serta-merta mempermasalahkan pemain yang memilih berkarier di Arab Saudi. Menurutnya, tawaran finansial sebesar itu memang sulit ditolak.

Kritik utamanya terletak pada perbedaan antara pernyataan publik Henderson sebelumnya dan keputusan karier yang diambil setelahnya.

Transfer ke Chelsea Dinilai Masuk Akal

Menariknya, kepindahan Henderson ke Chelsea sendiri tidak dianggap sebagai masalah oleh penulis sumber. Transfer tersebut justru dinilai sebagai langkah yang cukup masuk akal buat pemain yang ingin menutup kariernya dengan tambahan trofi.

Kebijakan transfer Chelsea juga mendapat pujian dalam tulisan tersebut. Setelah sebelumnya dinilai terlalu agresif dalam mendatangkan pemain, perekrutan Henderson disebut sebagai keputusan yang lebih rasional.

Sayangnya, selebrasi mencium lambang klub tetap menjadi persoalan bagi sang penulis.

Ia menilai gestur semacam itu lebih pantas dilakukan pemain yang menghabiskan sebagian besar kariernya bersama klub yang mereka dukung sejak kecil. Nama Gary Neville dan Steven Gerrard menjadi contoh pemain yang dianggap memiliki ikatan kuat dengan klub masing-masing.

Henderson, menurut pandangan tersebut, justru sedang menjalani fase lain dalam kariernya bersama Chelsea.

Penulis bahkan menyebut Sunderland sebagai klub yang lebih pantas mendapat momen emosional semacam itu jika Henderson suatu hari kembali ke tim masa kecilnya untuk mengakhiri karier.

Pada akhirnya, Henderson tentu berhak menentukan klub tempatnya bermain. Kepindahannya ke Chelsea pun bukan inti persoalan.

Menurut kami nih, silakan berkarier di mana saja, tetapi selebrasi mencium lambang klub sebaiknya tidak dilakukan sembarangan jika ikatan emosional dengan tim tersebut dianggap belum sekuat itu.

Hadi Bashori
Hadi Bashorihttps://gilabola.com/author/hadi-bashori/
Hadi Bashori adalah seorang jurnalis olahraga yang sudah berpengalaman lebih dari 18 tahun di dunia sepak bola, berpengalaman menulis di berbagai media nasional dan regional sebelum akhirnya menjadi jurnalis tetap di Gilabola.com. Memiliki minat yang besar dalam dunia olahraga, dan selalu bersemangat dalam menulis informasi aktual dan menarik. Dengan keahliannya dalam mengajar dan jurnalis, Hadi Bashori merupakan sosok yang inspiratif melalui buku-buku karyanya.

TERKINI