Gilabola.com – Ruben Amorim kembali menjadi sorotan setelah Manchester United tersingkir secara mengejutkan dari EFL Cup usai kalah adu penalti dari klub League Two, Grimsby.
Kekalahan itu menambah tekanan pada dirinya yang kini mulai diragukan masa depannya di Old Trafford. Amorim sendiri mengakui bahwa ia tidak bisa memberi kepastian apakah akan tetap menjadi manajer Manchester United setelah jeda internasional.
Posisi Amorim semakin sulit karena hasil buruk di Liga Inggris. Dari dua laga awal, Manchester United hanya mengumpulkan satu poin dan terpuruk di posisi ke-16 klasemen. Dia menyadari bahwa start yang buruk ini membuat masa depannya menjadi tanda tanya.
Meski demikian, Amorim menekankan bahwa untuk saat ini dia masih menjabat sebagai manajer Manchester United, walaupun tidak bisa menjanjikan apa pun terkait langkah ke depan.
Kekalahan yang Mengguncang
Kekalahan dari Grimsby di Blundell Park tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga memunculkan spekulasi tentang hubungan Amorim dengan para pemainnya. Seusai pertandingan, dia menyampaikan bahwa performa buruk tim seolah menunjukkan pesan keras dari para pemain tentang apa yang mereka inginkan.
Pernyataan itu dianggap sebagai indikasi bahwa ruang ganti sudah kehilangan kepercayaan terhadap metode kepelatihannya setelah sembilan bulan bekerja di Old Trafford.
Namun beberapa hari kemudian, Amorim menjelaskan bahwa komentarnya saat itu lahir dari emosi sesaat. Dia menegaskan bahwa kata-katanya tidak seharusnya diartikan secara harfiah.
Menurutnya, rasa frustrasi membuatnya bereaksi berlebihan, dan dia mengakui bahwa dirinya memang kerap mengekspresikan emosi secara terbuka.
Amorim menyebut bahwa terkadang dia merasa membenci para pemainnya, namun di saat lain juga sangat mencintai mereka. Ada momen ketika dirinya ingin segera meninggalkan tim, namun di sisi lain juga ada keinginan bertahan hingga puluhan tahun. Bagi Amorim, kontradiksi perasaan itu merupakan bagian dari caranya melatih dan akan tetap menjadi gaya kepemimpinannya.
Tekanan Kian Berat
Amorim juga menyampaikan bahwa beberapa pemain senior menilai dirinya seharusnya bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi sulit. Akan tetapi, dia menegaskan bahwa dirinya akan tetap bersikap apa adanya, meski diakui bahwa pada laga melawan Grimsby dia benar-benar sangat kecewa.
Padahal, dia merasa Manchester United telah melalui pramusim yang bagus dan permainan buruk hanya terjadi pada sebagian waktu saat menghadapi Fulham.
Kini, laga melawan Burnley di Liga Inggris disebut sebagai ujian besar berikutnya. Kekalahan beruntun bisa mempercepat keputusan manajemen untuk mencari pelatih baru, sementara kemenangan bisa memberi sedikit ruang napas bagi Amorim.
Tekanan besar itu membuat nasib Amorim di kursi manajer Manchester United masih belum pasti, dan publik sepak bola menunggu apakah dia mampu membalikkan keadaan atau justru harus angkat kaki dari Old Trafford.