
Gilabola.com – Barcelona kembali menang atas Deportivo Alaves, tetapi catatan kebobolan cepat, total 17 gol pada babak pertama musim ini, kembali memicu kekhawatiran, sementara Hansi Flick masih menimbang apakah menurunkan Robert Lewandowski atau Ferran Torres sebagai penyerang tengah melawan Atletico Madrid.
Fleksibilitas fisik Ferran disebut lebih sesuai untuk laga intens, tetapi penyelesaiannya tidak selalu rapi, sedangkan Lewandowski menawarkan akurasi namun tidak selalu aktif dalam pressing.
Barcelona memimpin klasemen setelah Real Madrid kembali kehilangan poin, namun kinerja defensif tim Catalan dinilai belum stabil. Gol lawan yang terjadi dalam hitungan detik kembali menggambarkan celah yang belum hilang.
Pertandingan melawan Alaves memperlihatkan masalah itu dengan jelas, ketika lawan mencetak gol kurang dari satu menit. Joan Garcia beberapa kali melakukan penyelamatan penting untuk menjaga keunggulan Barcelona.
Mundo Deportivo mencatat bahwa 17 dari 26 gol yang masuk ke gawang Barcelona musim ini terjadi sebelum turun minum. Angka itu menunjukkan masalah fokus yang belum terselesaikan.
Dalam 14 laga La Liga, Barcelona kebobolan di babak pertama pada sembilan pertandingan. Fakta itu menandakan bahwa pendekatan sejak awal pertandingan masih tidak cukup kuat.
Dari 16 gol yang bersarang di pertandingan liga, 13 di antaranya juga datang di 45 menit pertama. Statistik itu menggambarkan tren yang cukup jelas. Flick berulang kali meminta pemainnya untuk menghindari kebobolan cepat. Namun pesan itu belum sepenuhnya diterapkan secara konsisten.
Contoh paling nyata terjadi dari pekan ke-6 hingga pekan ke-12, ketika Barcelona selalu kebobolan di babak pertama. Lawan yang berhasil melakukannya beragam, mulai dari Real Oviedo hingga Real Madrid.
Setelah jeda singkat pada pekan ke-13, pola yang sama kembali muncul ketika melawan Alaves. Hal itu menunjukkan bahwa jeda satu pekan tidak cukup untuk memperbaiki kebiasaan buruk ini.
Di Liga Champions, kesulitan yang sama juga terjadi ketika PSG dan Chelsea mencetak gol pada babak pertama. Club Brugge bahkan melakukannya dua kali. Situasi ini membuat Flick harus mencari cara untuk meningkatkan ketahanan sejak menit pertama jika ingin timnya mencapai performa terbaik.
Dilema di Lini Depan Jelang Atletico
Di tengah masalah bertahan, Flick menghadapi pertanyaan besar lain dalam memilih penyerang tengah saat berjumpa Atletico. Kondisi skuad sudah lebih lengkap dengan kembalinya Pedri dan stabilnya performa Raphinha.
Ferran Torres menawarkan intensitas pressing yang lebih tinggi. Hal itu dianggap penting karena Atletico memiliki gaya bermain yang membutuhkan tekanan konstan di lini depan.
Namun, akurasi Ferran dalam penyelesaian masih belum stabil. Meski demikian, dia punya catatan mencetak gol pada tiga pertemuan terakhir melawan Atletico.
Di sisi lain, Lewandowski memberikan ketenangan di kotak penalti dan ketajaman saat mendapatkan peluang. Faktor usia membuat dia terkadang mengatur energinya untuk menjaga efektivitas.
Flick sebelumnya menyebut bahwa tekanan dari lini depan harus dilakukan lebih baik oleh seluruh tim. Pesan itu muncul setelah kekalahan dari Chelsea yang memperlihatkan lemahnya koordinasi pressing.
Kedua pemain memiliki keunggulan masing-masing, sehingga keputusan akhir Flick diperkirakan akan ditentukan oleh pendekatan taktis yang ingin diterapkan sejak menit awal.
Pendapat Kami
Barcelona masih menyimpan masalah utama dengan kurang rapatnya konsentrasi pada babak pertama. Jika Flick ingin menjaga posisi puncak, peningkatan fokus sejak menit pertama harus benar-benar dilakukan, meski sebenarnya kurangnya kualitas di pertahanan juga jadi penyebab masalah ini.
