
Mimpi Arsenal untuk meraih trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub harus kembali tertunda setelah kalah dari PSG melalui adu penalti pada final yang berlangsung di Budapest.
Hasil akhir memang menunjukkan pertandingan berjalan sangat ketat. Namun jika melihat jalannya laga secara keseluruhan, ada satu hal yang cukup mencolok sepanjang 120 menit pertandingan.
Arsenal kalah di area yang selama ini menjadi salah satu kekuatan terbesar mereka.
Gol Cepat Havertz Sempat Membuat Arsenal Berada di Atas Angin
Final berjalan sempurna bagi Arsenal pada menit-menit awal.
Kai Havertz berhasil membawa The Gunners unggul cepat dan membuat tim asuhan Mikel Arteta berada dalam posisi ideal untuk mengontrol pertandingan.
Dalam banyak kesempatan selama beberapa musim terakhir, Arsenal sangat nyaman ketika bermain dalam situasi unggul lebih dulu. Mereka mampu menjaga struktur permainan, mengatur tempo, dan memaksa lawan mengambil risiko lebih besar.
Namun hal itu tidak sepenuhnya terjadi di final kali ini.
Alih-alih semakin nyaman mengendalikan pertandingan, Arsenal perlahan kehilangan kendali atas jalannya laga.
PSG Mulai Memaksa Arsenal Bermain di Zona Bertahan
Setelah tertinggal, PSG tidak terlihat panik.
Tim asuhan Luis Enrique tetap memainkan pola yang sama dengan menguasai bola dan membangun serangan secara sabar dari lini belakang.
Semakin lama pertandingan berjalan, semakin sering Arsenal dipaksa bertahan di area sendiri.
Lini tengah PSG yang dihuni Vitinha, João Neves, dan Fabian Ruiz mulai mendominasi sirkulasi bola. Situasi tersebut membuat Declan Rice dan Martin Ødegaard lebih banyak bekerja tanpa bola dibanding membantu membangun serangan.
Akibatnya, Arsenal mulai kehilangan kemampuan untuk memainkan ritme pertandingan sesuai keinginan mereka.
Senjata Terbesar Arsenal Tidak Terlihat
Selama era Arteta, Arsenal dikenal sebagai salah satu tim dengan struktur permainan paling rapi di Eropa.
Mereka biasanya mampu menjaga jarak antar lini dengan baik, mengontrol tempo, dan meminimalkan ruang bagi lawan.
Namun di final ini, identitas tersebut perlahan memudar.
PSG berhasil membuat Arsenal bermain lebih reaktif daripada proaktif.
Alih-alih mendikte permainan, Arsenal justru lebih sering merespons tekanan yang datang dari PSG.
Situasi itu membuat The Gunners kesulitan mempertahankan penguasaan bola dalam durasi yang panjang.
Extra Time Menunjukkan Perbedaan yang Semakin Jelas
Ketika pertandingan memasuki babak tambahan, tanda-tanda kelelahan mulai terlihat.
Arsenal semakin jarang mampu keluar dari tekanan dengan rapi.
Sebaliknya, PSG masih mampu menjaga aliran bola dan memaksa lawan terus bekerja keras tanpa penguasaan bola yang cukup.
Meski tidak menghasilkan banyak peluang bersih, dominasi ritme pertandingan perlahan mulai berpindah ke kubu PSG.
Di titik inilah terlihat bahwa Arsenal tidak lagi memainkan pertandingan dengan cara yang selama ini menjadi ciri khas mereka.
Bukan Soal Adu Penalti Semata
Tentu saja adu penalti menjadi momen yang menentukan juara.
Namun kekalahan Arsenal tidak bisa dijelaskan hanya melalui kegagalan dari titik putih.
Sebelum adu penalti dimulai, PSG sudah lebih dulu memenangkan pertarungan yang lebih penting, yaitu pertarungan untuk mengendalikan jalannya pertandingan.
Mereka berhasil memaksa Arsenal keluar dari zona nyaman dan memainkan laga dengan ritme yang menguntungkan PSG.
Opini Gilabola.com
Final Liga Champions kali ini menunjukkan betapa tipisnya perbedaan antara juara dan runner-up.
Arsenal sempat berada dalam posisi ideal setelah gol cepat Kai Havertz.
Namun seiring berjalannya waktu, PSG berhasil mengambil alih kontrol pertandingan dan membuat Arsenal kehilangan salah satu kekuatan terbesar mereka, yakni kemampuan mengatur permainan sesuai identitas yang dibangun Mikel Arteta selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, adu penalti memang menentukan siapa yang mengangkat trofi.
Tetapi cerita yang lebih besar mungkin adalah bagaimana Arsenal perlahan kehilangan identitas mereka di panggung terbesar sepak bola Eropa.
