
Maroko tampaknya tidak hanya menemukan jalan menuju babak berikutnya di Piala Dunia 2026. Mereka juga sedang menikmati performa gemilang pemain yang kabarnya akan segera bergabung dengan Bayern Munchen.
Ismael Saibari kembali menjadi pembeda saat Maroko mengalahkan Skotlandia 1-0 dalam laga kedua fase grup yang berlangsung di Boston, Jumat malam waktu setempat atau Sabtu WIB.
Gol kemenangan Maroko lahir sangat cepat. Baru berjalan 71 detik, Saibari sudah menjebol gawang Angus Gunn setelah menerima umpan lambung dari Brahim Diaz. Penyelesaian akhirnya tak memberi kesempatan bagi Skotlandia untuk bereaksi.
Gol tersebut menjadi yang kedua bagi pemain berusia 25 tahun itu di turnamen ini setelah sebelumnya juga membuka keunggulan Maroko saat menghadapi Brasil.
Saibari Terus Membuktikan Kualitasnya
Pembicaraan menjelang laga sebenarnya banyak berpusat pada masa depan Saibari. Bayern Munchen disebut semakin dekat mendapatkan tanda tangannya dari PSV Eindhoven.
Kesepakatan senilai sekitar Rp1,03 triliun (dari nilai transfer €55 juta) dilaporkan sudah berada di tahap akhir. Saibari bahkan disebut telah menjalani tes medis selama berada di Amerika Serikat.
Meski belum diumumkan secara resmi, performa Saibari di Piala Dunia seolah menjadi jawaban mengapa Bayern begitu serius memburunya.
Bukan hanya soal gol.
Dalam momen gol ke gawang Skotlandia, Saibari menunjukkan ketenangan yang mengesankan. Ia mampu mengontrol bola kiriman Brahim Diaz sebelum mengambil keputusan dalam sepersekian detik. Ia sempat melihat opsi umpan ke Azzedine Ounahi sebelum akhirnya memilih menuntaskan peluang sendiri dari sudut sempit.
Akurasi, keberanian, dan insting menyerangnya terlihat jelas.
Peran Baru yang Berbuah Manis
Pelatih Maroko Mohamed Ouahbi juga layak mendapat kredit atas performa Saibari sejauh ini.
Meski lebih sering dikenal sebagai gelandang serang, Saibari justru dimainkan sebagai penyerang tengah dalam skuad Maroko saat ini. Keputusan tersebut diambil karena tim memiliki banyak pemain kreatif namun tidak memiliki sosok striker murni yang benar-benar menonjol.
“Sejak saya menangani tim ini, idenya adalah menerapkan gaya bermain dan prinsip yang jelas,” kata Ouahbi setelah kemenangan atas Skotlandia.
“Saya ingin memainkan pemain terbaik yang saya miliki. Anda tidak bisa hanya mengatakan Saibari nomor 10, Ounahi nomor 10, Brahim nomor 10, dan Bilal El Khannouss nomor 10. Kami harus menemukan struktur yang efisien agar pemain terbaik Maroko bisa bermain bersama.”
Hasilnya sejauh ini cukup menjanjikan.
Saibari tidak hanya menyumbang gol, tetapi juga menjadi elemen penting dalam pola permainan Maroko. Pergerakannya tanpa bola berkali-kali membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Kadang ia melebar untuk menarik bek lawan keluar dari posisinya. Di kesempatan lain ia turun membantu lini tengah sehingga Maroko unggul jumlah pemain di area sentral.
Dapat Pujian dari Thierry Henry
Kecemerlangan Saibari juga menarik perhatian mantan penyerang Prancis, Thierry Henry.
Menurut Henry, fleksibilitas permainan Saibari menjadi salah satu alasan mengapa pemain tersebut cocok untuk Bayern Munchen dan pelatih Vincent Kompany.
“Saya suka cara dia bermain,” ujar Henry.
“Dia menunjukkan bahwa dirinya bisa bermain di kanan, kiri, maupun di tengah.”
“Itu penyelesaian yang hebat saat melawan Brasil dan kembali melakukannya saat menghadapi Skotlandia. Saya rasa dia memang tipe pemain yang disukai Kompany.”
Musim lalu bersama PSV Eindhoven, Saibari mencatatkan 15 gol dan delapan assist dari 27 pertandingan Eredivisie meski bukan bermain sebagai penyerang tengah.
Kini, performanya di Piala Dunia membuat reputasinya semakin melambung. Jika tidak ada perubahan, pengumuman transfer ke Bayern Munchen tampaknya tinggal menunggu waktu.
Di saat yang sama, Maroko juga mulai menunjukkan tanda-tanda mampu melangkah jauh dalam turnamen ini.
Opini Gilabola.com
Transfer senilai lebih dari Rp1 triliun ini membuat Bayern Munchen berpotensi mendapatkan pemain yang nilainya bisa jauh melampaui angka tersebut.
Yang paling menarik dari Saibari bukan sekadar dua golnya di Piala Dunia, melainkan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai peran di lini depan.
Dalam sepak bola modern yang menuntut fleksibilitas tinggi, kualitas seperti ini sangat berharga. Tak heran jika Vincent Kompany disebut tertarik membawanya ke Allianz Arena.
